
Abrilla mentap satu per satu orang yang ada di ruang rawatnya. Disamping ranjang sang ibu, Cilla dan ayahnya, Alfi tersenyum bahagia melihatnya yang sudah dinyatakan dalam kondisi lebih baik dari dokter. Azkio yang merupakan ayah sambungnya juga mengulas senyum. Tidak ketinggalan Abrian, Abrico dan Bella ikut merasa bahagia melihat saudara mereka telah membaik.
“Apa kalian tidak merasa kering giginya jika terus tersenyum seperti itu?”
Mereka tersentak. Tapi juga lega mendengar Abrilla mengeluarkan suara untuk pertama kali setelah sadar tadi.
“Kau ini baru sadar sudah menghancurkan suasana haru Bril. Dasar bocah nakal!” ucap Azkio menggelengkan kepala.
“Otak mu baik-baik saja kan?” tanya Abrico menaikkan alis.
“Ck kakak pikir setelah operasi otakku akan bergeser hah?” jawab Abrilla jengah.
“Kau ini galak sekali, aku hanya bertanya. Siapa tahu saat operasi dokter tidak sengaja ikut membongkar isi kepala mu.”
“Oh iya mungkin saja. Jika begitu bagus bukan apabila otakku bergeser dan menjadi miring. Aku sudah bosan berpikir secara lurus dan saatnya aku berpikir belok dan naik turun.”
“Kalian ini sertiap bertemu selalu ribut.” Tegur Abrian menatap jengah Abrico dan Abrilla.
“Dia yang memulai dulu Kak Rian, bukan Rilla.”
__ADS_1
“Aku kan bertanya baik-baik, bukan untuk memprovokasi mu.” Bela Abrico terkekeh.
“Sudah-sudah, Rilla baru saja pulih dan kalian malah ribut. Oh iya sayang, perkenalkan itu Bella. Bella kemari nak.” Pinta Cilla berkata lembut.
“Siapa gadis imut ini?” tanya Abrilla menatap wajah Bella lekat-lekat.
“Dia gadis yang waktu itu kakak bicarakan padamu, Rilla.” Jawab Abrian.
“Oh jadi kau gadis yang diperlakukan jahat oleh nenek sihir. Malang sekali nasibmu, tenang saja aku akan membantu mu menangkap nenek sihir itu.”
“Iya kak, tenang saja Kak Abrian sudah membantu ku jadi kakak tidak usah repot-repot, lebih baik kakak focus pada kesehatan kakak dulu.”
“Tidak, aku tidak repot. Aku malah senang menjadikan dia sebagai pemanasan.”
“Ayah, ibu jadikan dia adikku saja. Aku ingin memiliki saudara perempuan.” Orang-orang yang ada disitu tersenyum mendengar permintaan Abrilla.
“Sayang sebenarnya ibu memang ingin memberitahumu jika Bella sudah menjadi bagian dari keluarga kita, tapi ternyata sebelum ibu memberitahu, kamu sudah meminta dulu. Jadi kamu tidak keberatan jika Bella menjadi adik mu?” tanya Cilla meminta pendapat Abrilla.
“Tidak keberatan, karena dari dulu aku ingin memiliki adik.”
__ADS_1
“Syukurlah jika begitu.”
“Lalu siapa namanya gadis ini?”
“Arbella Putri Andara, dia menggunakan nama keluarga dari Oma Rena. Karena orang lain tau jika kalian hanya 3 bersaudara. Tapi tenang saja Kak Rian sudah mengurus identitas Bella, dimana orang tua Bella merupakan kerabat jauh dari pihak ibu yang sudah meninggal dan memberi hak asuh Bella pada kita.”
Tentu saja Abrian telah mengurus itu semua dari awal karena bukan Abrian namanya jika merencanakan sesuatu tanda siasat. Mereka tersenyum behagia karena dengan adanya Bella, seorang Abrilla yang dirasa akan menjadi dingin ternyata ceria kembali.
“Kak Rian, Kak Rico, apa kalian sudah menyentuh mereka yang menjahati adikmu ini? Tanya Rilla dengan sorot mata tajam membuat mereka yang ada di ruangan itu paham jika sifat Rilla sekarang hanya ramah pada keluarganya sendiri, tidak pada orang lain.
“Tentu saja sudah, mana mungkin kami membiarkan mereka hidup tenang tanpa ada rasa bersalah.” Jawab Abrian.
Abrico kemudian menceritakan apa yang sudah ia dan Rian lakukan pada Edrice dan Elfa. Itu cukup membuat Rilla tersenyum senang. Selanjutnya masalah memaafkan atau tidak itu kembali pada Rilla.
“Ah bagus sekali kekacauan yang kalian buat kak. Kini tinggal aku yang akan membuat mereka merasa menyesal seumur hidup.”
“Bertindaklah semaumu nak, selama tindakanmu benar ayah dan ibu akan mendukungmu.” Ucap Alfi menelus kepala putrinya.
“Jangan akutkan apapun, ayah pastikan setelah ini tidak ada satu pun orang yang bisa menyentuh sedikitpun dirimu.” Azkio ikut mendukung apapun tindakan sang keponakan yang sudah menjadi putrinya sendiri.
__ADS_1
“Tentu saja, aku tidak akan berbaik hati lagi pada siapa pun. Aku Abrilla Anggara Sharga, akan menindas mereka yang sudah menyentuhku.”
Singa betina mereka sudah kembali, tidak ada yang bisa menghentikannya. Ujar orangtua tersenyum bangga.