
Selesai makan malam bersama keluarga Rico menghampiri Bella. Gadis itu sejak kemarin mengacuhkannya dan itu membuat Rico tidak nyaman. Bahkan seharian ini tidak ada tegur sapa dengan dengan gadis cilik itu.
"Bella, ikut aku sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu." Rico menarik paksa lengan Bella yang saat itu baru akan masuk kamar.
"Bicara disini saja kak." Gadis itu menghempaskan tangan Rico. "Aku lelah jadi malas pergi kemana-mana." tambah Bella tidak berani menatap Rico.
Rico mengerutkan kening, dia heran kenapa Bella tidak menatapnya. "Hai kau itu kenapa? Lihat aku." pinta Rico merengkuh wajah Bella. Wajah gadis seperti kepiting rebus saat menatap wajah Rico.
'Ya ampun kenapa Kak Rico tampan sekali. Ini kenapa lagi jantung ku berdetak sangat cepat? Aini aku benar jatuh cinta apa gejala serangan jantung sih... ' pikir Bella menatap Rico tanpa kedip.
"Sepertinya memang kau harus aku culik dulu dari sini supaya bisa leluasa berbicara dengan mu." Dengan sekali tarikan tubuh Bella berada dalam gendongan Rico. Pria itu tidak suka pembicaraannya di dengar oleh orang lain.
Bella terkejut, gadis itu menutup wajahnya. "Kak Rico tolong turunkan aku. Aku malu dilihat pelayan dan penjaga hotel." Bagaimana Bella tidak malu jika saat ini Bella hanya memakai pakaian tidur dan sandal jepit. Sedangkan Rico menggunakan sarung dan kaos oblong. Mereka terlihat seperti pasangan suami istri dibanding kakak adik.
Rico tersenyum melihat Bella membenamkan wajahnya di dadanya. "Kenapa harus malu? Memang kau tidak memakai pakaian? Salah mu sendiri tidak mau menjawab pertanyaan ku tadi. Sekarang diam dan menurut jika tidak maka tubuh mu akan aku hempaskan ke lantai sana." Lirik Rico mengancam Bella.
Mendengar ancaman Rico, gadis itu memilih diam saja. Toh percuma menentang pria pemaksa ini tidak akan berhasil. Rico membawa Bella ke atas gedung hotel. Suasana sunyi tapi ada 2 buah helicopter terparkir cantik.
Rico menurunkan Bella di kursi dan pria itu berjongkok di hadapan Bella. "Sekarang jelaskan padaku sebenarnya kau itu kenapa? Aku tipe orang yang tidak suka jika di diamkan oleh orang terdekat. Apa aku memiliki salah dengan mu?"
Bella menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Apa aku ada menyakiti dirimu?"
"Tidak"
"Lalu kenapa? Coba jelaskan! Aku ingin tahu. Jika kau tidak mau bercerita maka kita akan disini sampai besok pagi." kata Rico dengan memaksa dan mengancam.
Bella tidak menyangka jika Rico ternyata sama seperti Rian, sama-sama pemaksa dan suka mengancam. Tahu seperti itu dia tidak akan menjaga jarak dan menghindar saat bertemu pria ini.
"Ayo cepat jelaskan, jangan diam saja." Rico bersender di kaki Bella, dia terlihat menikmati pemandangan kota dari atas sini.
'Aduh Kak Rico kenapa harus bersikap seperti ini. Aku jadi bingung dan gugup. Kak Rian, Kak Rilla kalian dimana? Tolong selamatkan aku.'
Sedangkan di tempat lain Rian sedang menyelinap ke kamar calon istrinya dengan bantuan Rilla. Dia ingin memberikan sesuatu untuk bekal Keyra esok hari.
Keyra yang baru selesai ganti baju tidur terkejut melihat kemunculan calon suaminya di kamar. "Rian kenapa kau bisa disini? Nanti ada yang curiga." Keyra dengan segera mengunci pintu kamarnya takut jika sang ibu tiba-tiba masuk.
Rian terkekeh melihat Keyra panik, dia berniat menggoda calon istrinya itu. "Aku disini tentu saja latihan malam pertama kita. Memang apa lagi?" ucapnya acuh dan membaringkan tubuh di ranjang.
Keyra mendelik mendengar ucapan Rian. Sungguh ingin rasanya dia memukul kepala calon suaminya dengan gelas kaca di meja. "Latihan kepala mu. Ini sama sekali tidak lucu. Pergilah sana ke kamar mu sendiri. Kita itu sebenarnya tidak boleh bertemu, nanti yang ada aura kecantikan ku tidak keluar sat hati pernikahan esok."
"Ck aura kecantikan apa? Kau sudah cantik di mataku sayang. Kemarilah kita harus tidur." Kata Rian tanpa malu. "Kita harus beristirahat supaya besok bisa fresh."
__ADS_1
Plukkk
Sebuah bantal melayang mengenai Rian dan pelaku pelemparan adalah Keyra. "Kau ini jangan membuat ku kesal. Sudah pergi sana, pasti sebentar lagi ibu datang."
Rian mendekati Keyra, dia memeluk calon istrinya sebentar. "Baiklah, aku tadi hanya bercanda. Kedatangan ku kesini untuk memberikan ini pada mu. Ini bekal untuk mu dari Rilla dan ini dariku." Rian menyerahkan kantung berwarna hitam yang dia bawa pada Keyra. "Pakai ini di seluruh tubuh mu setelah berhias besok dan selipkan ini di kaki mu. Ingat jangan sampai ada orang tahu apalagi kau sampai lupa memakainya."
Keyra mengangguk paham. Walaupun dia tidak tahu apa fungsi kedua barang ini tapi dia yakin Rian melakukan ini demi dirinya.
"Yasudah aku pergi dulu, kau istirahat lah. Sampai bertemu besok calon istri." Dengan cepat Rian keluar lewat jendela lagi.
"Ck kau ini lama sekali kak, lihat kulit putih ku harus memerah karena di gigit nyamuk." Rilla menggerutu setelah Rian keluar dari kamar Keyra. Gadis itu di beri tugas oleh Rian memantau keadaan sekitar selama dia berada di kamar Keyra.
"Maafkan aku adikku yang cantik, tenang saja setelah masalah ini selesai kau bebas menggunakan kartu yang tadi aku berikan. Sudah ayo kita istirahat."
"Wah aku senang dengan imbalan mu itu kak."
Rian tersenyum menggandeng Rilla pergi meninggalkan tempat itu. Saat di lorong mereka bertemu dengan Bella yang baru turun dari atap gedung. Wajannya tampak memucat tapi masih bisa tersenyum dan menyapa Rian dan Rilla. Tidak lama setelah Bella pergi ganti Rico turun dari atas. Raut wajah Rico datar dan hanya tersenyum melewati kakak dan adiknya tanpa menyapa.
"Mereka bertengkar?"
"Entahlah tapi bukanlah Rico tadi berkata jika Bella dari kemarin mengabaikan dirinya."
__ADS_1
"Kak Rian, aku curiga Kak Rico melakukan KDRT."
"Heh KDRT itu hanya untuk yang sudah berumah tangga. Sudah jangan curiga terus, nanti cepat tua."