
“Rian ayo ikut aku. Ini penting sekali.” Teriak Rico mendekati Rian yang sedang duduk membaca buku lalu menariknya.
“Ada apa hah? Aku bisa jalan sendiri tanpa perlu kau tarik seperti ini.” Rian menjawab Rico dengan heran, pasalnya bulir keringat terlihat menetes membasahi wajah adiknya seperti baru dikejar-kejar orang.
“Sudah ikut saja, nanti kamu juga akan tahu.” Rico terus menarik tangan Rian dengan sedikit berlari.
“Hei beri tahu aku dulu ada apa kau menarik ku sampai berlari seperti ini?” tanya Rian ingin tahu.
“Rilla sedang berkelahi dengan teman kelasnya dan sekarang dia berada di ruan kepala sekolah.” Rico menjawab dengan napas engap.
“Apa? Kenapa baru memberitahu sekarang.” Rian melepaskan tangannya dari tangan Rico kemudian berlari meninggalkan Rico menuju ruang kepala sekolah.
“Hei tunggu aku, kau itu seperti kelinci Oma Ara yang lepas dari induknya.” Rico meneriaki Rian yang sudah tidak terlihat dari pandangannya.
__ADS_1
Sedangkan di ruang kepala sekolah Rilla sedang di maki-maki oleh seorang wanita.
“Kau itu masih kecil tapi sudah belajar pelit. Seharusnya kau harus berbagi dengan temanmu. Kau juga berani sekali melukai anakku sampai kepalanya terbentur meja. Saya tidak mau tahu pa, anak itu harus diberi hukuman dan bertanggungjawab atas cederanya anak saya.” Ucap wanita itu menggebu-gebu.
Kepala sekolah berusaha menenangkan wanita tadi. “Maaf bu, tapi ini bukan sepenuhnya Rilla yang salah jadi ibu tidak bisa menyalahkan Rilla saja. Ibu tunggu sebentar ya karena orang tua Rilla sedang perjalanan kesini.”
“Bagaimana bisa bukan sepenuhnya salah dia? Jelas-jelas anak itu yang sudah mendorong Fani sampai terbentur meja jadi sudah jelas dia yang salah. Oh baguslah jika orang tuanya datang kesini, saya akan meminta pertanggungjawaban pada mereka. Saya juga mau seperti apa orang tua anak ini sehingga tidak bisa mendidik anaknya dengan baik. Apa mungkin mereka orang yang tidak berpendidikan sehingga tidak bisa mengajari anaknya.” Ucap sombong wanita itu melirik Rilla.
Mendengar orang tuanya dibawa-bawa Rilla menjawab ucapan ibu itu dengan sopan. “Maaf nyonya, orang tua saja sangat baik dalam mendidik saya. Mereka juga berpendidikan tinggi, tidak seperti yang nyonya pikirkan.”
Brukk
“Nyonya jangan keterlaluan. Rilla masih kecil dan ucapannya juga tadi tidak salah.” Kepala sekolah itu membantu Rilla berdiri dan mendudukan Rilla di kursi.
__ADS_1
“Kenapa? Anda tidak suka? Terserah saya ingin melakukan apa karena suami saya donatur tetap disekolah ini. Seharusnya anda membela saya bukan malah membela anak itu.” Ucap wanita itu seenaknya karena dia merasa lebih berkuasa dari pada kepala sekolah itu.
“Walaupun suami nyonya donatur bukan berarti bisa membenarkan sebuah kesalahan.” Rian yang dari tadi berdiri di depan pintu sudah tidak tahan mendengar ucapan wanita itu, ditambah adiknya di dorong sampai terjatuh.
“Kakak..” ucap Rilla lirih.
Wanita itu menoleh pada Rian. “Tahu apa kamu anak kecil. Lebih baik kamu keluar dari sini karena kamu tidak ada urusan dengan masalah ini.” Usir wanita itu menatap Rian dengan tatapan tidak suka.
“Kata siapa saya tidak ada urusan dengan masalah ini? Jelas ada karena Rilla itu adik saya.” Ucap Rian tanpa ada rasa takut.
“Apa kamu tidak papa?” tanya Rian mendekati Rilla.
“Tidak kak. Aku baik-baik saja.” Jawab Rilla tersenyum.
__ADS_1
“Oh kamu kakaknya Rilla. Pantas saja kalian terlihat sangat cocok. Mungkin karena didikan orang tua kalian yang sama.” Ejek wanita itu tersenyum sinis tanpa dia sadari semua ucapan yang keluar dari mulutnya bisa menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.