Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
BAB 41 - Cila Hamil


__ADS_3

Saat ini dokter sedang memeriksa kondisi Cila. Dokter itu adalah Tama, sahabat Alfi yang waktu itu memeriksa Cila di rumah sakit.


"Gimana Tam kenapa bini gue ngak sadar-sadar?" Alfi terlihat begitu khawatir melihat Cila belum sadar.


"Tenang sebentar lagi juga sadar." jawab Tama singkat.


Benar saja tidak lama kemudian Cila terbangun memegangi kepalanya yang sedikit pusing.


"Saya kamu sadar, mana yang sakit?" Alfi mendekati Cila dan membantu dia duduk.


"Mas aku mau mandi." jawab Cila ingin menangis.


"Kamu baru sadar kok mau mandi?" kata Alfi bingung.


"Pokoknya aku mau mandi sekarang. Aku mau muntah karena bau alkohol sama rokok dibadan aku." Cila terlihat ingin menangis menjawab pertanyaan Alfi.


"Oke ya udah sekarang kamu mandi dulu. Mila bantu istri saya membersihkan diri ya dan Dela tolong ambilkan pakaian baru untuk istri saya." pinta Alfi kepada Mila dan Dela.


Mendengar perintah Alfi, Mila dan Dela langsung melaksanakan tugasnya.


Alfi, Anjar, Zay dan Tama keluar dari ruangan tersebut. Mereka duduk disofa depan ruangan Cila.


"Fi, abis ini lo harus bawa Cila ke rumah sakit." kata Tama.


"Hah emang kenapa sama Cila Tam?" tanya Alfi takut.


"Kyaknya istri lo lagi hamil deh."


"Apa?" Alfi, Anjar dan Zay terkejut.


"Biasa aja lo bertiga. Sakit telinga gue dengan suara lo pada." kata Rama memegang telinganya.


Alfi terlihat begitu bahagia mendengar ucapan Tama tadi.


"Kelihatannya Cila sensitif banget sama bau alkohol dan rokok. Lo emang abis minum sama ngerokok Fi?" tanya Tama.


"Ya ngak lah. Gue mana pernah begituan."


"Lah terus siapa yang minum sama ngerokok?" Tama melirik Zay dan Anjar.


Merasa dicurigai oleh dokter muda itu Zay dan Anjar menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Itu gara-gara mantan Cila tadi dateng kesini dalam keadaan mabuk terus meluk Cila. Mungkin bau alkohol sama rokok nempel dibaju Cila." kata Anjar menjelaskan.


Alfi teringat Dika yang memeluk istrinya tadi terlihat sangat kesal.


"Dimana dia?" kata Alfi.


"Udah dibawa ke markas sama anak buah kita." jawab Zay.


Pintu ruangan Cila terbuka dan Cila sudah selesai membersihkan diri. Melihat Cila keluar tanpa berkata apapun Alfi langsung menggendong Cila dan membawanya pergi. Cila terkejut melihat Alfi menggendongnya dan bertanya. Zay langsung menyusul Alfi dibelakang.


"Mas kenapa kamu menggendong aku?" tanya Cila melingkarkan tangannya di leher Alfi.


"Kita harus ke rumah sakit sayang." jawab Alfi tersenyum menatap istrinya.


"Memang siapa yang sakit?"


"Nanti kamu juga akan tahu sayang. Lebih baik kamu menurut saja oke."


Zay langsung membukakan pintu mobil untuk Aldi dan Cila lalu mengendarai menuju rumah sakit. Selama perjalanan tidak ada percakapan apapun. Alfi memeluk Cila erat dan tangannya berada diperut Cila.


Sampai dirumah sakit Alfi langsung membawa istrinya menuju ruang pemeriksaan kehamilan. Cila bingung mengapa Alfi membawanya ke ruangan ini.


Didalam Donter Nina sudah menunggu kedatangan Alfi karena sebelumnya Dokter Ta sudah mengirim pesan kepadanya akan ada pemilik rumah sakit datang untuk memeriksa kehamilan istrinya.


"Selamat sore dok. Tolong periksa istri saya sekarang dok." Alfi menjawab cepat dan langsung meminta Dokter Nina memeriksa Cila.


"Biak pak, silahkan Nyonya Cila naik keatas sini." Dokter Nina meminta Cila naik ke atas ranjang untuk diperkisa.


Cila sebenarnya masih bingung tapi dia hanya menurut saja dengan perkataan Dokter Nina.


Dokter Nina menunjukkan titik kecil dimonitor.


"Nyonya Cila saat ini sedang mengandung dan umur kandungan memasuki minggu kedua." jawab Dokter Nina.


Alfi merasa sangat senang mendengar Cila benar-benar hamil. Sedangkan Cila masih terkejut mendengar ucapan Dokter Nina.


Cila turun dari ranjang dibantu Alfi dan kembali duduk berhadapan dengan Dokter Nina.


"Dok apa benar saya hamil?" tanya Cila kembali memastikan.


"Iya benar Nyonya Cila."

__ADS_1


"Tapi saya tidak merasakan mual dok kecuali tadi saat menciu bau alkohol dan rokok." kata Cila.


"Memang terkadang tidak semua wanita hamil mengalami mual-mual nyonya. Saya sarankan anda jangan harus banyak beristirahat karena umur masih rentan mengalami keguguran diawal kehamilan seperti ini. Ini saya berikan vitamin untuk nyonya. Jangan sampai lupa minum vitamin ini ya." ucap Dokter Nina menjelaskan.


"Tenang saja dok, saya yang akan memastikan sendiri dia meminum dengan rutin." jawab Alfi semangat.


Dokter Nina tersenyum melihat Alfi sangat senang dan bersemangat mengetahui kehamilan istrinya. Alfi juga banyak bertanya tentang kehamilan dan Dokter Nina dengan sabar menjelaskan.


Setelah selesai memeriksa kandungan Alfi dan Cila memutuskan untuk pulang.


"Selamat ya kakak ipar atas kehamilannya." ucap Zay kepada Cila.


"Iya makasih Zay." jawab Cila tersenyum.


"Harus ekstra lo Fi mulai dari sekarang." kata Zay melirik Alfi.


"Iya siap."


Sampai dirumah ternyata Anjar dan Kak Dinda sudah duluan sampai.


"Gimana Fi?" Anjar langsung menyambung mereka dengan pertanyaan.


"Benar Cila lagi hamil Jar." jawab Alfi tersenyum.


"Wah selamat ya Cila. Hai ponakan aunty baik-baik ya diperut Mami Cila." kata Kak Dinda mengelus perut Cila.


"Selamat ya buat kalian berdua sebentar lagi jadi orang tua." kata Anjar ikut senang.


Cila tersenyum melihat banyak orang ikut bahagia mendengar kabar kehamilannya.


"Ya udah sini duduk. Kasihan bumil berdiri." Kak Dinda menarik Cila duduk disebelahnya.


"Bumil apa kak?" tanya Zay tidak tahu.


"Bumil itu ibu hamil." jawab Kak Dinda tersenyum.


"Ohhh."


"Ayo kasih tau Mami Ara, Mama Hesti sama Mama Rena sekarang." kata Kak Dinda semangat.


"Jangannnn." Zay berteriak.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya yang lain bersamaan kecuali Alfi yang tersenyum smirk.


"Karena Mami bakal jodohin Zay kalo sampe gue punya anak tapi dia masih jomblo."


__ADS_2