
Pagi ini Nafa sudah berlari mengelilingi lapangan yang luasnya sama besar dengan rumah Abrian. Tentu saja itu semua atas perintah dari Abrian, pria dingin itu menepati janjinya untuk mengajari Nafa menjadi gadis kuat.
Keringat membanjiri dahi Nafa tapi gadis itu tetap focus dengan apa yang Abrian perintahkan padanya. Nafa terus menembak secara brutal pada titik sasaran yang tertempel foto ayah dan ibu tirinya.
“Waktumu tersisa 30 detik dan kau harus menyelesaikan 30 tembakan lagi.” Teriak Abrian dari jarak jauh memberi perintah.
Abrian baru mengajari satu kali Nafa menembak tapi sudah terlihat gadis itu menguasai apa yang Abrian ajarkan.
Dorr.. Dorr..
Dua detik terakhir Nafa berhasil menghancurkan foto orang yang sangat dia benci dan itu membuatnya tersenyum puas. Abrian berjalan mendekati Nafa sambil bertepuk tangan. Dirinya mengakui jika gadis itu memiliki bakat menembak sangat baik.
“Cukup latihan untuk hari ini. Setelah ini kau ikut anak buahku untuk berbelanja dan mengubah penampilanmu. Karena mulai besok kau akan masuk kuliah. Tenang saja semua tidak dipungut biaya tapi sebagai gantinya kau akan menjadi asisten dadakan saat aku membutuhkanmu.” Ucap Abrian tegas.
Nafa tersenyum kecil, dirinya tidak menyangka bisa bertemu orang sabaik Abrian. “Terimakasih, aku tidak masalah menjadi asisten dadakanmu.”
Seperti yang sudah di katakana Abrian tadi, saat ini Nafa bersama dua orang wanita yang merupakan anak buah Abrian sedang berbelanja kebutuhan kuliah Nafa.
“Nona Nafa, pakailah ini supaya tidak ada yang mengenalimu.” Ucap Nia mencegah Nafa turun dari mobil.
“Oh iya hampir lupa, terimakasih kak.”
Nafa memakai topi dan masker lalu turun dari mobil. Tujuan pertama mereka adalah salon, dimana Nafa akan merubah penampilannya dengan memotong rambutnya.
__ADS_1
“Ikut saya nona, jangan lewat sana.” Tarik Refa membuat Nafa hanya bisa menurut saja.
Mereka bertiga berjalan melewati lorong sepi kemudian masuk ke salah satu lift tujuan lantai 14. Sampai di tempat yang dituju, Nia membisikkan sesuatu pada salah seorang pegawai.
“Nona silahkan ikut saya.” Pegawai tadi yang dibisiki oleh Nia membawa Nafa masuk ke salah satu ruangan. Nafa menurut saja saat pegawai itu merombak penampilannya.
Setelah menghabiskan waktu hampir tiga jam lamanya, Nafa keluar dengan penampilan baru. Rambut panjangnya sudah dipotong sebahu, tidak lupa poni menutupi keningnya. Wajahnya ditambah tahi lalat buatan dan alisnya menjadi berubah sedikit. Hal itu membuat Nafa tidak mengenali dirinya sendiri yang terlihat lebih dewasa dari usianya.
“Apa aku terlihat aneh?” tanya Nafa saat Nia dan Refa menatapnya dalam waktu cukup lama.
“Tidak nona, anda sangat cantik dan dewasa.” Jawab Refa dan diangguki oleh Nia.
“Huff syukurlah, setelah ini kita kemana?”
“Apa kalian juga akan berkuliah bersamaku?”
“Benar nona, selain itu kami memiliki tugas menjaga anda.”
Mereka menuju lantai 10 tempat dimana berbagai macam pakaian, aksesoris tas, sepatu dan lain sebagianya ada disitu. Nafa yang baru kali ini berbelanja secara langsung sangat takjub melihat barang-barang bagus dan harga yang sangat mahal. Dia sempat ragu ingin membeli barang yang dia inginkan tapi saat mendengar Abrian akan marah jika dia tidak berbelanja tentu dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk membeli barang yang dia inginkan.
“Apakah anda sudah selesai nona?” tanya Refa mendekati Nafa.
“Sudah kak, aku tidak tahu lagi ingin membeli apa.”
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu ayo kita pulang.”
Kini mereka sudah sampai di rumah, Nia dan Refa kembali ke tampat mereka masing-masing sedangkan Nafa pergi ke ruang kerja Abrian.
“Sejak kapan kau berada di ruang kerjaku?” tanya Abrian yang baru menyadari kehadiran Nafa.
“Sejak beberapa menit yang lalu.” Jawab Nafa yang masih bersender di pintu menatap Abrian.
“Masuklah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Perintah Abrian sambil merapikan berkas di mejanya.
Nafa mendekati Abrian dan mereka duduk berhadapan. Abrian memberikan sebuah berkas pada Nafa dan mulai menjelaskan.
“Ini identitas baru untukmu. Nama mu sekarang Arbella Putri Andara, aku akan memanggilmu Bella. Kau tidak perlu memberitahu apapun tentang dirimu pada orang lain karena tanpa kau beritahu mereka pasti bisa menyimpulkan sendiri. Ingat jangan lengah karena musuhmu saat ini sedang mencari keberadaanmu dan jangan pernah panik saat kau tidak sengaja bertemu dengan mereka. Kau paham?”
Nafa menganggukkan kepala sambil membaca teliti tentang identitas barunya. Dia tidak menyangka jika Abrian memberikan identitas menggunakan nama belakang yang sangat terkenal di negara ini. Siapa yang tidak kenal dengan nama belakang Andara, keluarga kaya dan memiliki perusahaan yang sama besarnya dengan Anggara, itu yang dia pernah dengar dari ibu tirinya.
“Aku membuat identitas baru dengan menggunakan nama belakang ibuku, supaya musuhmu tidak mencurigai keberadaanmu.” Abrian seperti tahu apa yang sedang Nafa pikirkan.
“Jadi kau adalah anak dari keluarga terpandang?” tanya Nafa yng belum mengetahui siapa sebenarnya Abrian. Wajar saja hidupnya terkurung di rumah dan tidak diperbolehkan keluar jadi dia tidak mengetahui banyak tentang kehidupan luar.
“Ya namaku Abrian Anggara, putra dari Tuan Alfian Anggara dan Nyonya Fricilla Andara.” Ucap Abrian membuat Nafa terkejut.
“Sudah jangan membahas identitasku, terlalu rumit untuk dijelaskan. Nanti dengan berjalannya waktu kau pasti akan mengetahui dengan sendiri.” Kata Abrian tidak ingin menjelaskan tentang identitasnya yang memang rumit.
__ADS_1
“Emm baiklah…” Nafa hanya menurut saja.