Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Terbongkar dan Kedatangan


__ADS_3

Tamu undangan langsung di pisahkan oleh pihak keamanan sesuai intruksi Abrico demi menghindari sesuatu yang tidak diinginkan dan masalah ini bukan untuk konsumsi publik. Mereka cukup tahu jika Kinan dan Fangyu bukan orang baik-baik selebihnya cukup keluarga saja yang tahu.


Kinan dan Fangyu sangat terkejut, namun detik berikutnya Kinan tersenyum sinis. "Oh baguslah jika kalian sudah mengetahui hal itu. Aku tidak perlu repot-repot lagi berpura-pura dihadapkan kalian. Toh juga seluruh harta kekayaan milik Keluarga Gu sudah beralih menjadi milikku." Tanpa malu dan takut lagi Kinan mengakui perbuatannya.


"Harta kekayaan apa yang anda bicarakan Nyonya Kinan? Ini maksud anda?" Bella mengangkat sebuh berkas yang tak lain surat pengalihan asset peninggalan Opa dan Oma-nya.


Mata Kinan terbelalak menatap tidak percaya berkas itu. "Bagaimana bisa berkas itu berada ditangan mu? Kau mengambilnya dariku?" Wanita mengeram marah, wajahnya merah padam dan tangannya terkepal kuat.


"Maaf Nyonya Kinan, sedari awal berkas itu memang sudah ditangan Bella dan berkas yang aku berikan padamu itu palsu. Dan bagaimana Bella mengambil itu darimu jika sejak dulu itu miliknya." Keyra menjawab itu dengan sinis, tidak ada lagi raut wajah bersahabat menatap wanita yang sudah merawatnya. Bukan tidak menghargai wanita itu tapi dia merasa kecewa karena selama ini hanya dijadikan alat untuk mendapatkan apa yang wanita itu inginkan.


Kinan menatap tajam Keyra, gadis itu ternyata pengkhianatan. "Cih jangan senang dulu, kalian pasti akan menyerahkan berkas itu padaku karena Jonathan saat ini berada dalam pengawasanku. Jika kalian tidak menyerahkan berkas itu maka pria tidak berguna itu akan mati." Ancam Kinan tanpa dia tahu jika Jonathan sudah di pindahkan oleh Abrian ketempat yang aman.


"Anda pikir aku perduli, silahkan saja jika ingin melenyapkan nyawa pria itu. Aku tidak perduli dengannya. Karena aku tidak pernah mendapatkan perhatian dari pria itu." Bella yang tidak tahu jika ayahnya sudah aman ternyata tidak takut dengan ancaman ibu tirinya itu.


Orang disekitarnya menganggap wajar jika gadis itu tidak memperdulikan sang ayah karena sikap Jonathan sendiri yang tidak pernah memberikan perhatian dan kasih sayang pada putrinya.


Cila mendekati Bella, wanita yang sudah tidak muda lagi itu menasehati gadis yang sudah menjadi putrinya. "Nak, seburuk apapun ayahmu jangan sampai mendendam dengannya. Biarkan Tuhan yang menghukum perbuatan ayahmu."


Bella terdiam sejenak lalu mengangguk. "Baik bu, maaf aku terbawa emosi."


"Jika kamu ingin menyelamatkan ayahmu maka serahkan berkas itu padaku." ucap Kinan.


"Tidak perlu karena Tuan Jonathan sudah aku amankan sejak kemarin." jawab Abrian dengan tenang.


"Apa? Tidak mungkin. Kau pasti sudah membohongi ku. Jelas kemarin aku masih melihatnya di rumah sakit." Ujar Kinan tidak percaya.


"Maaf Nyonya Kinan tapi aku tidak membohongi anda."


Kinan berteriak marah dan tiba-tiba perutnya merasa keram. "Ahhh Fangyu perutku sakit sekali." Keluh Kinan memegangi perutnya.

__ADS_1


Fangyu dengan cepat merangkul Kinan. Bella tersenyum sinis menatap keduanya. "Oh sepertinya terjadi sesuatu dengan kandungan anda Nyonya Kinan. Lihatlah ada darah mengalir dari kaki anda." ucap Bella menunjuk kaki Kinan.


"Kau juga tahu aku sedang mengandung?" tanya Kinan dan di angguki oleh Bella.


"Anda dulu selalu mengatai ku anak pembawa sial dan anak hasil perzinahan. Padahal anda tahu jelas jika Ibuku tidak pernah melakukan perbuatan itu. Tapi sekarang anda sendiri yang membuat anak dalam kandung anda di cap sebagai anak hasil perzinahan. Sungguh karma itu nyata." Ucap Bella mengingat banyaknya kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut wanita itu saat dirinya tinggal di rumah kediaman Gu.


"Tutup mulutmu. Aku ku bukan hasil zina. Aku sudah menikah secara resmi dengan Fangyu." Bantah Kinan tidak terima.


"Woh bagaimana bisa seorang wanita memiliki 2 suami. Anda sangat serakah Nyonya." Ejek Bella, gadis itu terlihat bahagia diatas penderitaan ibu tirinya.


"Kurang ajar kau gadis sialan sudah menghancurkan kebahagiaan ku. Kenapa aku dulu tidak membunuh mu juga seperti aku membunuh ibumu." Tanpa sadar Kinan mengakui perbuatannya itu.


"Akhirnya anda mengakui perbuatan keji itu Nyonya Kinan. Anda seorang pembunuh." Bella berniat melayangkan tamparan untuk Kinan tapi Alfi menahannya.


"Jangan kotori tangan mu untuk menampar wanita ini nak. Dia sudah mendapatkan balasan. Lihat wajahnya semakin pucat dan sepertinya kandungannya bermasalah." Sebagai seorang ayah Alfi tidak mau Bella bertindak kasar kepada orang yang sudah lemah.


"Akan aku balas perbuatan kalian... " teriak Kinan dengan suara bergetar.


"Lepaskan aku. Aku harus membawa Kina ke rumah sakit." Fangyu meronta-ronta ingin dilepaskan tapi ternyata tenaganya tidak sebanding dengan tenaga anak buah Abrian.


"Tenang saja Tuan Fangyu, istri anda akan mendapat pertolongan dari dokterku." ucap Alfi pada Fangyu.


Kinan sendiri sudah lemas dan hampir kehilangan kesadaran. Wanita itu tidak menanggapi apapun dan matanya sudah tertutup.


Melihat Kinan dan Fangyu sudah diamankan, Abrian langsung meminta anak buahnya menuju posisinya masing-masing. Dari pintu samping terlihat barisan pria dan wanita berjalan menuju kursi tamu undangan.


"Kenapa aku merasa tidak asing dengan wajah mereka?" ucap Abrian menatap aneh mereka.


"Mereka anak buah Paman Azkio yang menyamar sebagai tamu undangan. Walaupun sedikit setidaknya bisa membantu kalian melawan mereka." Kata Alfi memberitahu putranya.

__ADS_1


"Ah pantas saja tidak asing ternyata anak buah Paman Azkio. Ya sudah ayah kita harus bersiap. Abrilla berkata target sudah mendekat." Abrian kembali mendekati istrinya. Sama halnya dengan Alfi yang ikut mendekat sang istri.


Pesta pernikahan berlanjut seperti biasa supaya tidak mengundang kecurigaan mata-mata. Anak buah Azkio juga berperan baik bak tamu undangan. Mereka mengobrol dan tertawa bahkan menyalami Abrian dan Keyra. Siapapun yang melihatnya pasti tidak akan menaruh curiga.


"Abri, apa semua akan baik-baik saja?" tanya Keyra terlihat cemas. "Berjanjilah kau tidak akan terluka sedikitpun." ujar wanita yang sudah sah menjadi istri Abrian.


"Percayalah semua akan baik-baik saja. Aku tidak akan terluka karena jika terluka bagaimana dengan malam pertama kita." jawab Abrian menatap genit istrinya.


"Ck kau ini keadaan sedang genting masih saja menggodaku." Ucap Keyra menatap jengah suaminya.


Di ujung sana terlihat Abrico memegang erat tangan Bella. Setelah tadi berurusan dengan Kina dan Fangyu, Abrico langsung menarik Bella untuk tetap di dekatnya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Abrico menatap Bella disampingnya. "Maksudku kau sudah puas melawan nenek lampir itu?"


"Sebenarnya aku kurang puas karena belum mencekokinya dengan racun seperti apa yang sudah dia lakukan kepada ibuku. Tapi karena kandungan dia bermasalah jadi aku anggap itu karma yang setimpal untuknya." jawab Bella tersenyum lega.


"Syukur lah, kini tinggal menyelesaikan masalah Rilla. Kau jangan jauh-jauh dariku jika tidak ingin kepala mu terpisah dari leher." Abrico lalu mengolesi cairan berwarna hijau di bagian wajah tangan dan jenjang kaki Bella.


"Heh cairan apa ini Kak Rico? Bukan racun kan?" tanya Bella.


"Syutt jangan berisik. Ini cairan supaya kulitmu tidak terkena serbuk racun yang bisa membuat area tubuhmu perih dan gatal-gatal." Jelas Abrico mengoleskan dengan hati-hati.


"Oh pantas saja tadi aku melihat Ibu dan Ayah memakai ini juga. Tapi kenapa baru sekarang aku diberi?"


"Karena tadi habis dan ajak buah Rilla baru memberikan ini padaku tadi saat kau mengomeli nenek lampir. Nah sudah." Kata Abrian selesai mengoles. "Jika nanti tubuhmu ada terasa perih dan gatal jangan di garuk, biarkan saja dulu. Ini peganglah pistol dan pisau lipat. Jangan ragu menggunakan ini karena musuh kita kali ini bukan ecek-ecek."


Hingga 30 menit terlewat segerombolan orang berpakaian hitam memasuki ballroom dengan wajah sangar. Jumlahnya sangat banyak diluar perkiraan Abrilla dan itu membuat Tim Rilla banyak terkejut. Pasalnya anak buah mereka kalah jumlah dengan orang-orang itu.


"Rilla bagaimana bisa anak buah mereka sebanyak ini? Dan kenapa jadi kita yang sekarang terkepung?" tanya Abrian pada sang adik yang entah dimana keberadaannya.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu kak, sepertinya ada pengkhianatan di kubu kita. Percayalah kita pasti bisa menghadapi mereka."


__ADS_2