
Dijalan yang sepi dan lenggang terjadi aksi kejar-kejaran dan saling adu tembak.
“Serahkan bayi itu pada kami.” Teriak pria yang mengejar.
“Enak saja, tidak akan aku biarkan kalian mendapatan bayi ini.” Pria yang dikejar terus menambah kecepatan dalam mengendarai mobilnya.
Pria yang megejar tadi ikut menambah kecepatan mobil yang dia kendarai dan menghadang mobil di depannya.
“Turun cepat serahkan bayi itu.” Pria itu mengacungkan pistol pada lawannya.
Pria yang membawa bayi meletakkan bayi itu di kuris belakang penumpang dan keluar dari mobil. Terjadilah perkelahian antara mereka berdua, sayangnya pria yang membawa pistol jatuh tersungkur akiba suntikan yang dibrian oleh lawannya.
“Itu akibat kamu sudah menghalangi perjalananku.” Ucap pria itu kembali ke mobil dan mengemudikkannya.
Tanpa dia sadari beberapa orang bersenyembunyi mengamati pergerakannya dan melaporkan pada seseorang.
Sedangkan dirumah Cila menangis histeris saat tahu anaknya hilang di rumah sakit. Si kembar Rian dan Rico juga ikut menangis dan itu membuat orang di rumah kebingungan menenangkannya.
“Maafkan aku, aku gagal melindungi mereka.” Alfi dari tadi berusaha menemangkan istrinya dan meminta maaf.
Disaat Alfi sedang memeluk Cila, Zay datang dengan tergesa-gesa menghampiri mereka.
“Ada kabar apa?” Tanya Alfi melihat kedatangan Zay.
“Ada surat misterius dari seseorang, gue dapet dari penjaga di depan.” Zay memberikan surat berwarna putih itu pada Alfi.
__ADS_1
Alfi membuka surat itu bersama Cila dan Zay.
‘Jika ingin putri kalian selamat, Cila harus datang sendiri menjemput anaknya. Datanglah ke Gedung X tanpa membawa siapapun. Jika tidak bayi ini tidak akan selamat.’
Terlihat tanda bintang dibawah surat itu dan sudah bisa dipastikan jika pengirim tersebut adalah Tuan Gerry.
“Aku harus datang sekarang.”
“Tidak, biar aku saja sayang.” Kata Alfi tidak setuju.
“Yang mereka mau itu aku mas bukan kamu.”
“Tapi ini bahaya sayang, mereka pasti ngerencanain sesuatu buat kamu.” Ucap Alfi tidak ingin Cila kenapa-napa.
Alfi tidak bisa berkata apapun lagi, akhirnya dengan terpaksa dia mengizinkan Cila pergi ke Gedung X. Cila pergi ke kamar si kembar untuk berpamit pada Rian dan Rico. Di kamar si kembar juga ada Mami Ara, Mama Rena dan Dinda.
“Mami, mama dan Kak Dinda titip si kembar dulu ya. Cila mau keluar sebentar jemput Rilla.” Ucap Cila sambil mencium baby boy.
“Kamu mau jemput kemana Cila?” Tanya Mama Rena mendekati anaknya.
“Ada disuatu tempat ma, pokoknya Cila titip mereka. Waktu Cila ngak banyak, Cila pamit.” Ucap Cila berusaha kuat.
Cila keluar dari kamar anaknya dan berganti pakaian serba hitam, walupun bekas operasi masih sedikit nyeri dia berusaha tetap kuat demi menyelamatkan putrinya.
“Sayang biar aku antar kamu.”
__ADS_1
“Jangan mas, biar aku sendiri.”
Cila mengendarai mobil milik Alfi dengan kecepatan tinggi. Alfi yang melihat hal itu semakin khawatir terjadi sesuatu pada istrinya.
“Zay ikutin Cila gue takut dia kenapa-napa. Minta anak buah kita standby deket Gedung itu juga. Oh ya jangan lupa hubungin Azkio.”
Perintah ALfi dan langsung Zay laksanakan.
Cila mengendarai mobil dengan rasa emosi yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.
‘Kalian sudah menculik putriku lihat saja akan aku buat kalian menyesal.’
Sedangkan di Gedung X seorang wanita mengendong bayi kecil yang dari tadi tetap tenang tidak menangis sedikitpun.
“Manis sekali kamu bayi kecil, tunggu sebentar lagi ibumu pasti akan datang kesini untuk melihatmu.” Ucap wanita itu mengusap pipi bayi di gendongannya.
***
Like
Komen
Vote
❤❤❤❤
__ADS_1