Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Season 2 - Tikus Kantor dan Trik Kotor


__ADS_3

Abrian memperhatikan pria yang duduk bersebrangan dengannya, pria itu menjelaskan rencana pembukaan proyek baru di luar kota. Terlihat apa yang pria itu jelaskan sangat baik dan menguntungkan bagi perusahaan tapi Abrian hanya tersenyum sinis setelah membaca pesan yang baru dia dapatkan.


“Saya setuju dengan rencana pembukaan proyek baru yang di ajukan oleh Tuan Salim, ini pasti akan menguntungkan perusaah kita dan bisa membuat proyek lain di kota tersebut.” Ucap Tuan Damar yang merupakan teman dekat Tuan Salim.


“Saya kurang setuju, karena proyek sebelumnya saja belum terselesaikan. Bagaimana bisa Tuan Salim mengajukan pembukaan proyek baru yang dananay tidak terbilang sedikit.” Penolakan Tuan Galih di angguki oleh beberapa orang di ruangan itu.


“Benar sekali apa yang dikatakan oleh Tuan Galih. Seharusnya focus saat ini adalah penyelesaian proyek sebelumnya yang masih berjalan 45%, padahal ini sedang hampir satu tahun pengerjaan. Jika proyek sebelumnya tidak berjalan sesuai rencana seharusnya mengurusi ini terlebih dahulu.”


“Maaf Tuan Roni, memang proyek di kota A masih belum selesai tapi saya jamin dalam jangka waktu 6 bulan proyek tersebut akan selesai. Selain itu proyek yang saya ajukan kali ini lebih menguntungkan dari proyek yang sedang berjalan. Jadi saya rasa tidak ada salahnya kita membuka pembanguan proyek baru.” Tuan Salim mengatakan penuh percaya diri karena memang proyek yang da ajukan kali ini terlihat lebih besar keuntungannya dari proyek sebelumnya.


“Bagaimana Tuan Abrian pendapat anda?”


“Ehm… Saya setuju dengan pembukaan proyek baru kali ini.” Kata Abrian membuat Tuan Salim dan Tuan Damar tersenyum senang. “Tapi yang akan memegang tanggungjawab di proyek kali ini adalah Tuan Galih.” Lanjut Abrian membuat beberapa orang terkejut.


Pasalnya selama ini Tuan Salim lah yang selalu memegang tanggungjawab proyek baru.


“Kenapa saya Tuan Abrian?”


“Karena aku hanya memberikan kepercayaan pada orang yang menjunjung tinggi nilai kejujuran.”


Abrian memberikan bukti kecurangan Tuan Salim dan Tuan Galih yang mengkorupsi uang pembangunan proyek sehingga menghambat selesainya pembangunan.


“Bukti korupsi dana proyek sudah aku kirim ke grup perusahaan. Kalian bisa lihat sendiri dan untuk pembangunan proyek ke depan semua akan di handle oleh Tuan Damar.”


“Tuan Abrian, ini tidak benar sama sekali. Pasti kami sudah dijebak.” Dua tersangka mendekati Abrian dan mengelak.


“Kalian bisa melakukan pembelaan tapi bukti bisa memberikan kebenaran. Mulai saat ini kalian di pecat secara tidak hormat. Haidar urus mereka berdua. Rapat hari ini cukup dan untuk pembahasan proyek lebih lanjut akan diatur oleh asisten saya.”


Abrian pergi meninggalkan ruangan sedangkan yang lain masih menyaksikan dua pelaku korupsi yang ditangani oleh Haidar.


Abrian keluar ruangan dengan sedikit tersenyum tapi bukan senyuman menawan yang dia berikan. Senyuman yang membuat orang melihatnya takut.

__ADS_1


“Membangun reputasi tidak mudah tapi mereka berani menghancurkan reputasi mereka sendiri dengan cepat. Hari ini hari kehancuran karier kalian yang sudah berani menjadi tikus kantor di perusahaanku. Kau pikir aku bodoh, tidak pernah mengawasi pembangunan proyek yang sudah lama berjalan tapi tidak terselesaikan sesuai rencana. Kalian terlalu meremehkan aku Tuan Salim dan Tuan Galih.” Guman Abrian.


Abrian tersenyum sinis saat melihat CCTV yang menampilkan wajah dua tikus kantor malu karena di cemooh para karyawan kantor. Sudah berani mengotori perusahaannya berarti sudah siap merasakan siksaan penjara bawah tanah miliknya.


Berani bermain api maka dengan senang hati Abrian membuat kebakaran. Dia memang dingin tapi dia bisa menjadi panas saat orang kotor menyinggung harga dirinya.


“Bos sudah aku bereskan.” Haidar melaporkan.


“Bagus, berikan siksaan yang pantas mereka dapatkan. Aku tidak suka mereka menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan diri mereka.”


“Siap bos.”


“Ayo kita pergi pertemuan sekarang. Aku tidak ingin membuat calon rekn bisnis menunggu.”


Para karyawan yang melihat bos mereka keluar langsung menyapa. Para karyawan sangat menyukai sikap bosnya, walaupun dingin tapi mengayomi anak buahnya.


Tujuan Abrian kali ini adalah bertemu dengan calon rekan bisnisnya. Siang ini dia memiliki janji temu dengan CEO LC Group, Lilian Chai.


Dalam perjalanan Abrian sudah mempelajari berkas yang ada ditangannya, sesekali melihat ponsel untuk mengecek pesan masuk. Sampai ditempat tujuan Abrian langsung menuju ruang pertemuan.


Tapi dia merasa aneh karena yang dia masuki ternyata bukan ruang rapat tapi kamar hotel. “Apa kau yakin kita tidak salah masuk Haidar?” tanya Abrian melirik asistennya.


“Tidak tuan, ini sudah benar.” Haidar mengecek kembali pesan yang tertera di ponselnya. Sekretaris calon rekna bisnis bosnya yang mengirim pesan berisi nomor ruangan untuk rapat mereka jadi mana mungkin dia salah.


“Sepertinya mereka ingin bermain-main dengan kita. Bersiaplah dan jangan lengah.” Abrian duduk di kursi yng sudah tersedia di kamar itu. Sudah ada minuman dan beberapa cemilan di meja.


Abrian mengambil salah satu cemilan dan menciumnya. “Trik kotor ini lagi.” Ujar ABrian sinis.


Abrian mengambil sesuati dari saku jasnya kemudian memberikan pada Haidar. “Telanlah jika ingin masa depanmu aman.” Dengan senang hati Haidar menelan pil berwarna putih itu, dia sangat yaki bosnya mengetahui rencana calon rekan bisnis mereka.


Tidak lama kemudia dua orang wanita masuk ke kamar itu dengan pakaian minim tidak berakhlak. Haidar menghebuskan nafas kasar, sudah bisa ditebak kenapa bosnya memberikan pi putih tadi padanya. Rupanya ada ular keket yang ingin menggunakan trik kotor.

__ADS_1


“Selamat siang Tuan Abrian dan Tuan Haidar. Saya Lilian dan ini sekretaris sekaligus adik saya Lifian. Senang bertemu dengan kalian.” Sapa Lilian dengan percaya diri.


“Selamat siang Tuan Abrian dan Tuan Haidar.” Sapa Lifian mengikuti kakaknya.


“Siang…” saut Abrian dan Haidar bersamaan.


“Langsung saja Tuan Abrian, kerjasama kita sangat saya setujui mengingat perusahaan anda sangat berpengaruh di dunia bisnis. Tawaran yang perusahaan anda berikan juga sangat menguntungkan jadi saya tidak keberatan sama sekali dengan bagi hasil yang perusahaan anda tawarkan.” Ucap Lilian sambil dengan santainya.


“Silahkan diminum Tuan Abrian dan Tuan Haidar.” Lifian menyodorkan minuman pada Abrian dan Haidar.


Abrian dan Haidar menerima minuman itu dan langsung meneguk habis tanpa sisa. Hal itu membuat kakak beradik itu tersenyum senang.


“Bagaimana tanggapan Tuan Abrian?” tanya Lilian ingin meraih tangan Abrian.


“Saya sudah tidak membutuhkan kerjasama ini lagi.” Abrian menghempaskan tangan Lilian yang ingin menyentuh tangannya.


“Oh benarkah? Tidak apa tuan tidak membutuhkan kersama ini lagi tapi kita lihat apa Tuan Abrian dan Haidar tidak membutuhkan bantuan kami.”


“Benar sekali, kalian sebentar lagi juga pasti akan memohon bantuan pada kami.” Lifian ikut tersenyum mendukung ucapan kakaknya.


“Bantuan apa yang kalian maksud? Kami tidak membutuhkan bantuan apapun karena obat yang kalian larutkan dalam minuman tidak akan bekerja ditubuh kami.” Kata Abrian tersenyum miring.


“Apa? Bagaimana bisa?” Lilian dan Lifian terkejut mengetahui rencana mereka diketahu oleh Abrian.


“Kalian pikir aku bodoh tidak tahu jika minuman dan cemilan yang dihidangkan sudah kalian bubuhi dengan racun. Kalian pikir aku tidak tahu jika kalian keponakan dari Tuan Robin, mantan rekan bisnisku yang suka menipu.” Haidar membuka pintu dan beberapa orang bertubuh tegap masuk kedalam. Mereka adaah anak buah Abrian yang sudah berjaga-jaga di hotel tempat pertemuan.


"Pantas saja kalian memilih melakukan rapat dikamar hotel yang tidak ada CCTV. Ternyata kalian sudah berniat meracuni kami."


“Lepaskan kami, kalian memang harus mati karena sudah membuat bisnis keluarga kami hampir bangkrut.” Teriak Lilia meronta-ronta.


“Salahkan paman kalian yang sudah berani menipu ku. Bawa mereka ke markas dan hubungi Robin. Katakan padanya dua keponakannya berada ditempat paling aman.” Abrian keluar dari ruangan tersebut diikuti Haidar.

__ADS_1


“Bos sebenarnya yang ada dalam minuman itu racun atau..”


“Racun, setelah itu bersihkan otak kotormu. Aku tidak mau memiliki asisten memiliki pikiran kotor.”


__ADS_2