
Makan malam kali ini terasa berbeda dari makan malam biasanya. Mala mini makan malam di buat seperti pesta karena Alfi memesa khusus makanan dan minuman dari restoran Oma Hesti. Para pelayan dan pengawal ikut makan bersama di taman belakang yang sudah dihias sedemikian rupa dengan ornamen warna-warni.
“Apa ayah yang menyiapkan ini khusus untuk Rilla?” tanya Rilla menatap kagum semua sudut taman yang di penuhi lampu dan beraneka jenis makanan.
“Tentu saja, kau suka tidak? Jika tidak aku akan meminta ayah mengganti ulang dekorasi malam ini.” Ucap Rico yang duduk di samping Rilla.
“Kau pikir mengganti semua ini seperti melakukan atraksi sulap.” Rian yang baru saja mengambilkan Rilla potongan buah segar menyahut ucapan Rico.
“Hehe aku hanya bercanda Rian. Kau ini sensi sekali.” Rico mencomot potongan buah yang dibawa Rian.
“Ambil sendiri jika kau mau. Ini milik Rilla.” Rian menyuapi Rilla yang terkekeh melihat ekspresi Rico memanyunkan mulutnya.
“Apa kamu akan berubah menjadi ikan lohan Rico?” Oma Ara yang baru datang mengagetkan Rico dari belakang.
“Ck oma lagi, sudah oma malam ini kita berdamai. Ric tidak mau debat terbuka bersama oma malam ini.” Ucap Rico menatap malas Oma Ara.
“Dasar bocah semprul. Kamu pikir oma mau berdebat terus denganmu? Bisa-bisa darah tinggi oma kambuh dan membuat acara makan malam ini kacau.” Jawab Oma Ara ketus. Oma Ara mendekati Rilla dan duduk disebelahnya.
__ADS_1
“Rilla mau makan apa biar oma ambilkan.” Tawar Oma Ara pada cucu cantiknya itu, sebentar lagi oma tidak bisa memperlakukan Rilla seperti ini lagi karena mereka akan berpisah jauh.
“Rilla hanya ingin makan bauh saja oma, mungkin nanti jika Rilla mau pasti Rilla minta.” Rilla menjawab sambil menikmati potongan buah yang disuapi oleh Rian.
“Baiklah kalau begitu oma kesana dulu ya, mau melihat apakah ada makanan kesukaan oma apa tidak.” Kata Oma Ara melangkah pergi meninggalkan tiga anak kembar itu. Oma Ara sengaja melakukan itu supaya ketiganya memiliki waktu bertiga untuk berbincang sebelum berpisah.
“Oma jangan terlalu banyak makan daging sapi nanti kolestrol.” Teriak Rico pada Oma Ara.
“Dasar bocah tengil itu membuyarkan khayalanku, tahu saja aku ingin makan daging sapi.” Ujar Mami Ara mendengar teriakan Rico.
“Semoga Rilla cepat pulih supaya kami bisa tumbuh dewasa bersama.” Ujar Rian dalam hati.
“Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku harus kuat. Aku tidak mau di kasihi banyak orang karena aku ingin hidup tanpa menjadi beban pikir orang lain.” Ujar Rilla menguatkan diri.
“Aku ingin cepat tumbuh besar supaya bisa pergi kemanapun. Tujuanku adalah mencari ramuan obat yang bisa menyembuhkan Rilla.” Ujar Rico mengutarakan keinginannya.
“Kak Rian, Kak Rico, terimakasih sudah menjadi kakak terbaik untukku dan terimakasih sudah berbaik hati mengizinkan ayah dan ibu memberikan kasih sayang lebih untukku.” Ucap Rilla melihat kedua kakaknya secara bergantian.
__ADS_1
Rian menoleh dan mengusap lembut kepala adiknya. “Walaupun harus mengizinkan ayah ibu mencurahkan seluruh perhatian mereka untukmu kami tidak masalah. Aku dan Rico selama 5 tahun ini tumbuh dengan kesempurnaan dan kebebasan. Kami bisa malakukan apapun semau kami dan bisa pergi kemanapun tanpa ada larangan. Berbedadenganmu yang harus membatasi pergerakan dan sulit pergi ketempat yang kau inginkan.”
Rico menyetujui ucapan Rian. Memang benar sedari kecil baik Rian dan Rico tidak pernah sakit keluar masuk rumah sakit. Berbeda dengan Rila yang sering sekali keluar masuk rumah sakit. Mereka juga bebas melakukan hal apapun tanpa ada larangan keras. Berbeda dengan Rilla yang kadang hanya bisa menyaksikan kegiatan Rian dan Rico lewat video.
“Hidup memang tidak semaunya berjalan mulus, tapi setidaknya hidup tidak selalu melewati jalan berliku. Hidupku memang tidak baik orang lain tapi setidaknya aku masih bisa merasakan kasih sayang kalian.”
Alfi dan Cila tidak jauh berdiri dari belakang mereka menatap haru anak-anaknya. Mereka bersyukur anak-anak mereka bisa bersikap dewasa di umur mereka yang terbilang masih anak-anak. Rian dan Rico, karena keadaan dimana adik perempuan mereka memiliki kondisi tubuh tidak baik, mereka bisa paham jika sang adik membutuhkan perhatian lebih. Tidak jarang kadang baik ayah atau ibu lebih memperhatikan Rilla. Untung saja saat waktu senggang seperti Rilla tidur, Alfi dan Cila akan berganti menemani mereka.
Rilla, putri cantik mereka yang sejak usia 2 tahun sudah berteman dengan obat-obatan tidak pernah mengeluh saat merasakan sakit. Sebisa mungkin untuk tidak menangis di depan orang-orang terdekatnya. Terlebih saat usianya menginjak 4 tahun, Rilla kecil sudah tahu mana obat yang harus dia minum saat merasa tubuhnya tidak baik. Sungguh Alfi dan Cila merasa sangat bersyukur memiliki anak-anak yang bisa menerima keadaan mereka.
Pukul 7 malam semua penghuni keadiaman Alfi berkumpul di taman belakang. Mereka bernyanyi, bercanda dan tertawa bersama. Mala mini dianggap sebagai malam perpisahan dengan Rilla yang besok malam akan pergi ke Afrika dan menetap disana sampai jangka waktu yang belum bisa ditentukan. Tapi mereka berharap semoga Rilla bisa berkumpul bersama mereka lagi.
“Nanti kita akan tidur berlima di kamar ayah dan ibu.” Ucap Cila membisikkan kalimat itu kepada anak-anaknya.
“Wah benarkah? Aku ingin tidur ditengah.” Ucap Rilla tersenyum.
“Tentu saja, apapun untuk putri ayah,”
__ADS_1