
“Rico kenapa kamu suka sekali berdebat dengan Oma Ara?” tanya Cila membuka obrolan saat mereka sudah tidur di kamar Alfi dan Cila.
“Bukan aku yang mengajak Oma Ara berdebat tapi Oma yang selalu mengajak Rico berdebat ibu.” Jawab Rico mengelak.
Sebenarnya dulu Rico dan Oma Ara itu satu tim solid tapi semenjak Rico menjadikan kelinci kesayangan Oma Ara bahan percobaan mereka menjadi tidak akur lagi dan sering berdebat. Mami Ara dengan jiwa pembully yang tinggi sedangkan Rico si mulut lemes, mereka saat ribut ramainya seperti debat bahasa Indonesia. Dimana tim pro dan kontra tidak akan bersatu.
“Kamu itu selalu mengelak, jelas-jelas kamu yang suka memancing Oma Ara mengomel seperti burung beo.” Alfi ikut menanggapi pembicaraan istri dan anaknya.
“Oma Ara itu cerewet tapi kenapa ayah tidak cerewet seperti oma?” tanya Rian melihat ayahnya.
“Tentu saja karena sifat ayah mirip dengan opa kalian bukan dengan oma.” Jawab Alfi terkekeh.
“Apa opa tampan seperti ayah? Rilla yang tidur ditengah hanya melirik ayahnya saja.
“Iya opa sangat tampan dan ketampanan opa diwariskan pada ayah saat opa sudah tua.” Alfi menjawab dengan mengedipkan mata pada istrinya.
“Berarti saat opa tua, opa terlihat sangat jelek yah? Kan ketampanan opa sudah beralih pada ayah.”
Perkataan Rilla membuat Cila tertawa, karena dia yakin suaminya akan bingung memberi jawaban. Jika Alfi menjawab iya pasti Rilla akan berkata jika wajah Alfi akan jelek seperti opanya saat dia sudah tua. Jika dia jawab tidak pasti Rilla akann bertanya apakah Rian dan Rico tidak akan mewarisi ketampanan ayahnya.
__ADS_1
“Sepertinya ini sudah malam, tidak baik anak-anak seerti kalian tidur terlalu malam. Ayo kita tidur.” Alfi mengalihkan perhatian anak-anaknya dengan kalimat lain. Ambil aman saja.
“Baiklah, selamat malam ayah dan selamat malam ibu.” Ucap Rian, Rico dan Rilla kompak.
“Selamat malam anak-anak baik.”
Mereka tidur saling memeluk, tanda keterikatan dan kasih sayang antara mereka. Tidak ada yang tahu ke depan kehidupan mereka bagaimana. Tapi yang jelas kehidupan mereka akan saling bergantung antara satu dengan yang lainnya.
***
Malam sudah berlalu, berganti pagi disambut dengan sinar matahari. Terlihat Rian dan Rico sedang bermain bola bersama ayah mereka. Pakaian mereka sudah basah karena keringat dan tanah.
“Tidak, ayah tidak curang. Kamu saja yang kurang ahli dalam bermai bola.” Ucap Alfi berusaha melepaskan kakinya dari pelukan koala besar.
“Rian cepat tending bola itu, biar ayah aku yang hadapi.” Ucap Rico terus bergelayut di kaki Alfi.
“Ya baiklah.” Dengan senang hati Rian mengambil bola dan menggiringnya ke gawang ayahnya.
Gollllll…..
__ADS_1
Rian berhasil memasukkan bola ke gawang ayahnya, hal itu membuat Rico melepaskan pelukan dari kaki Alfi.
“Yes, kami menang dan ayah kalah.” Rico berteriak girang mengelilingi Alfi yang hanya menghembuskan nafas kasar.
“Ya baiklah kalian menang hari ini, tidak dengan hari berikutnya.”
Terlihat Rian dan Rico meledeki ayahnya yang kalah bertanding bola. Sedangkan Alfi hanya duduk menatap jengah dua anaknya itu.
“Apa putri cantik ibu ingin bergabung dengan ayah dan kedua kakak kembar?” Rilla yang dari tadi memperhatikan putrinya tersenyum kecil menyaksikan ayah dan kedua kakaknya bermain bola memutuskan mendekati putrinya.
“Tidak ibu, Rilla disini saja. Em apakah ibu sudah selesai menyiapkan sarapan?” tanya Rilla melihat ibunya sudah mandi dan cantik sekali.
“Tentu saja. Apa Rilla ingin mandi? Ayo ibu bantu.” Cila membantu Rilla berjalan menuju kamarnya.
Sebelum itu tidak lupa meminta tiga laki-laki di lapangan untuk mandi.
"Hari sudah siang dan kalian masih belum mandi. Apakah kalian tidak ingin mandi dan mencicipi masakan ibu?” teriak Cila pada suami dan anaknya.
“Ya sebentar lagi kami mandi bu." teriak Rico melambaikan !tangan.
__ADS_1