
Bella saat ini sedang berada di kamar mandi untuk merapikan rambutnya. Saat keluar dia dihadang orang wanita yang sangat dia benci. Tapi Bella berusaha tenang dan tidak mengenali wanita itu.
“Ada apa nyonya?” tanya Bella tenang.
“Jangan tebar pesona dengan Tuan Pras. Apalagi sampai kau berani mendekati putranya. Karena putra Tuan Pras calon suami putriku.” Ucap wanita itu mengancam Bella, siapa lagi jika bukan ibu tiri Bella sendiri.
Bella tidak takut sama sekali dengan ibu tirinya ini karena sepertinya wanita jahat ini tidk mengenali dirinya. Tapi dia sangat penasaran siapa yang di maksud putri oleh wanita jahat ini. Tidak mungkin jika dirinya karena Bella tahu siapa calon suami yang dipilihkan wanita ini untuk dirinya.
“Maaf nyonya, saya tidak berniat mendekati siapapun. Oh ya seharusnya jika anak Tuan Pras calon suami putri anda lalu mana puti anda?” Bella sengaja mengajukan pertanyaan seperti itu untuk menjawab rasa penasarannya.
“Bagus jika kamu tahu diri. Putra Tuan Pras tidak cocok bersam mu karena kau tidak secantik putriku. Dan sepertinya usiamu masih sangat muda berbeda dengan putriku yang sudah dewasa dan siap untuk menikah. Putriku masih berada di luar negeri menyelesaikan pendidikannya.” Jawab ibu tiri Bella sombong lalu pergi meninggalkan Bella.
Bella masih memikirkan jawaban ibu tirinya, jelas bukan dia yang dimaksud oleh wanita jahat itu. Dan sepertinya wanita jahat itu menjawan jujur. Siapa sebenarnya anak dari ibu tirinya? Apakah dia saudari Bella juga tapi lain ibu?
Bella memilih untuk menyimpan semuanya dulu karena saat ini pasti Abrian sedang menunggunya.
***
__ADS_1
“Tuan Abrian dan Nona Abrilla, perkenalkan ini istri saya Fani dan ini anak saya Fadli.” Ucap Tuan Fras memperkenalkan istri dan anaknya.
“Kau- kau gadis bar-bar tadi bukan? Kenapa kau bisa datang ke pestaku? Pergi kau dari sini. Aku tidak sudi menjamu tamu sepertimu.” Fadli menarik paksa tangan Bella hingga membuat Bella hampir terjatuh.
Abrian yang tidak terima dengan tindakan kasar Fadli langsung menarik Bella ke pelukannya dan menghempaskan tangan Fadli dari Bella.
“Berani sekali kau menyentuh adikku.”
Suasana pesta yang tadi ramai kini terlihat hening karena mereka memperhatikan keributan. Tuan Fras dan istrinya juga ikut terkejut melihat putranya bersikap kurang jar pada Bella yang merupakan saudari Abrian, pria dingin yang tidak boleh disentuh.
“Tuan Abrian maafkan sikap putra saya. Saya yakin dia salah mengenali orang.” Ucap Tuan Pras sedikit ketakutan melihat wajah Abrian tidak bersahabat.
“Ya memang anda tidak salah mengenali orang tapi anda salah mencari lawan Tuan Fadli.”
Kini Fadli baru menatap pria yang sedang memeluk Bella, Abrian Anggara. “Tu-an Abrian…”
“Ternyata kau pria yang suka berbuat keonaran. Kau pikir aku tidak tahu penyebab adikku memukulmu. Aku tidak perlu menjelaskan apapun, lihat saja pa yang akan aku lakukan untuk membalas perbuatan mu.” Ucapan Abrian membuat beberapa orang katakutan, sungguh sial nasib Fadli harus berurusan dengan pria dingin itu.
__ADS_1
“Tuan Abrian maafkan tindakn anak saya. Saya janji akan mendidiknya lebih baik lagi.” Mohon Tuan Pras mengesampingkan rasa malunya.
“Maaf Tuan Pras, saya rasa tidak ada lagi yang harus kita bicarakan.” Abrian menggandeng Bella pergi dari tempat pesta mengbaikan tatapan orang-orang di sekitar mereka.
Disisi lain Fadli hanya bisa berdiri mematung menatap kepergian Abrian dan Bella. Jangan tanya lagi bagaimana tatapan ayah dan ibunya, sangat mengintimidasi dirinya.
***
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Abrian sambil memegang kemudi.
“Aku baik-baik saja, ungguh aku tidak menyangka pria itu bertindak gegabah tadi.”
“Itu pelajaran untuk mu supaya bisa lebih sigap menghadapi sesuatu. Jika tadi aku tidak cepat menarik mu pasti kau sudah terjatuh dan terseret olehnya.”
“Iya benar apa yang kau katakan. Aku memang harus lebih berhati-hati.”
***
__ADS_1
Kembali ke tempat pesta seorang pria berjalan menghampiri Tuan Pras beserta istri dan anaknya. Wajahnya mirip dengan Abrian tapi yang membedakan pria ini terlihat lebih raman dari Abrian. Pria itu berjalan di damping beberapa pengawal di belakangnya, bibirnya menebar senyum kepada tamu undangan yang hadir tapi siapa sangka senyum yang mempesona itu tidak sembarang senyum. Dibalik senyum menawannya ada sesuatu yang sangat mematikan.
“Berani sekali menyentuh orang terdekatku Tuan Muda Fadli…”