
Pagi ini Alfi dan Zay akan meeting diluar perusahaan oleh karena itu mereka berangkat lebih cepat dari biasanya. Cila dan Mami Ara juga sudah berangkat ke butik tidak lama setelah Alfi dan Zay berangkat.
"Gimana acara semalem mi?" tanya Cila sambil membaca laporan harian butik.
"Berjalan dengan lancar dan mami yakin secepatnya mami bakal dapat menanti baru." jawab Mami Ara dengan begitu yakin.
"Wah berarti Cila bakal ada temen lagi dong." kata Cila ikut senang.
"Iya sayang, oh iya nanti siang kita lihat undangan pesta pernikahan kamu sama Alfi. Kalo Alfi ngak sibuk ajak sekalian soalnya mami lupa mau kasih tau Alfi tadi."
"Oke mami biar Cila nanti kabarin Mas Alfi."
Di lain tempat Alfi dan Zay sedang meeting dengan kolega bisnis mereka. Meeting berjalan dengan lancar karena Alfi selalu bisa membuat kolega bisnisnya merasa puas dengan kinerja perusahaannya. Hanya membutuhkan waktu 45 menit meeting sudah mencapai kesepakatan bersama dan selesai. Alfi senang karena perusahaan semakin berkembang dan peluang mendirikan beberapa anak cabang perusahaan di daerah lain semakin besar.
Lain halnya dengan Alfi yang tersenyum puas, disebelahnya Zay duduk dengan raut wajah masam.
"Lo kenapa Zay? Bukannya semalem abis kenalan sama cewek cantik." tanya Alfi kepada Zay.
"Lo tau ngak sih cewek yang semalem mami kenalin ke gue itu Yunda." ucap Zay lirih.
"Yunda? Yunda yang anak kecil itu?" kata Alfi terkejut.
"Iya lo pikir Yunda mana lagi."
"Hahaha jadi yang dimaksud mami Ayunda itu, wah lo dapet unyu-unyu tuh." Alfi tertawa mengetahui wanita yang dijodohkan dengan Zay.
Mami Ara sebelumnya memang sudah memberi tahu Alfi jika Zay akan dijodohkan dengan anak teman maminya. Tapi Alfi tidak mengetahui siapa wanita yang akan dijodohkan dengan Zay. Dan ternyata wanita itu adalah Yunda, wanita yang dulu pernah menyukai Zay. Sayangnya Zay tidak menyukai Yunda karena dianggap masih anak kecil karena perbedaan umur mereka yang hampir terpaut 7 tahun.
"Mungkin kalian memang ditakdirkan bersama." ucap Alfi menepuk pundak Zay.
"Ngak ah Fi, dia terlalu imut buat gue." jawab Zay menolak.
"Iya juga dia terlalu imut-imut buat lo yang amit-amit." kata Alfi meledek.
__ADS_1
"Gue nih tampang coll masa disandingin sama cewek kyak dia. Asal lo tau sekarang dia udah banyak berubah dan semalem gue hampir kena tonjok sama itu cewek." ucap Anjar mengingat kejadian semalam.
"Kok bisa gimana ceritanya itu cewek bisa berubah jadi bar-bar?" Seingat Alfi, Ayunda dulu adalah gadis yang pendiam dan kalem jadi rasanya tidak mungkin Ayunda bisa bar-bar seperti itu. Apalagi kepada Zay yang notabene pria yang dulu sangat dia sukai.
"Semalem gue ngatain dia gadis kecil dan gue bilang dia masih tetap sama kyak dulu, pendiem dan pemalu tapi ternyata ngak lama dari itu tangan gue ditarik kebelakang sama dia dan mulai gue hampir ditonjok. Ckck gadis cupu itu sekarang udah jadi gadis bar-bar." Zay terkekeh mengingat kejadian semalam.
"Hebat dong, cocok kalo jadi pendamping hidup lo. Biar ada temen gelut pas lagi ngak ada samsak." ledek Alfi kepada Zay.
Zay tidak menanggapi ledekan Alfi, dia hanya menatap lurus kedepan memperhatikan sesuatu. Alfi yang merasa tidak ditanggapi ikut melihat ke arah depan mencari apa yang sedang Zay perhatian dari tadi.
Ternyata yang dari tadi diperhatikan oleh Zay adalah seorang wanita muda dan cantik sedang duduk berhadapan dengan seorang pria.
"Jangan bilang itu Ayunda." kata Alfi memicingkan matanya.
"Sayangnya itu memang Ayunda." jawab Zay masih memperhatikan interaksi Ayunda dengan pria didepannya.
"Gila tambah cakep aja itu Yunda, tapi buat gue Cila lebih cakep." Tidak dipungkiri penampilan Ayunda sekarang lebih modis dan cantik. Tapi kesana imut tidak terlepas juga dari wajah gadis kecil itu.
"Lo pasti cemburu liat Ayunda sama cowok itu kan?" tanya Alfi terkekeh.
"Ngak usah bohong, kalo suka bilang aja suka, kalo cemburu bilang aja cemburu. Jangan sampe keduluan cowok lain baru entar lo nyesel." Alfi menasehati Zay supaya berkata jujur tentang perasaannya kepada Ayunda.
"Udahlah ngak usah bahas dia. Mending sekarang kita ke kantor banyak kerjaan nungguin gue dikantor." kata Zay terlihat kesal sambil berjalan keluar dari restoran.
Alfi terkekeh geli melihat tingkah Zay yang malu untuk mengakui perasaannya.
Sampai di kantor ternyata diruangan Alfi sudah ada Anjar yang menunggu kedatangan mereka.
"Lo berdua darimana?"
"Meeting diluar kantor." jawab Alfi mendudukkan diri disamping Anjar.
"Kerjaan lo di hotel udah kelar sampe bisa nikung kesini?" kata Zay sambil membuka jasnya.
__ADS_1
"Kerjaan hotel mah gampang. Gue kesini bukan sekedar nikung tapi ada yang perlu gie laporin ke bos besar." kata Anjar melirik Alfi.
Alfi menoleh ke arah Anjar dan mengerutkan keningnya.
"Apa?"
"Vely udah pergi ke luar negeri setelah 2 hari dia di Bali. Dia pergi tanpa sepengetahuan orang tuanya dan Jeremy." kata Anjar mulai serius.
"Bukannya dia udah jadi buronan polisi ya? Kok bisa lolos pemeriksaan gitu aja." ucap Zay bingung.
"Karena dia di dibantu orang lain karena dia pake identitas baru." Anjar menyodorkan kertas berisi identitas yang digunakan Vely untuk pergi keluar negeri.
Alfi dan Zay membaca dengan teliti.
"Siapa yang bantuin Vely?" tanya Zay menatap Anjar.
"Yang jelas dia bukan orang Indonesia. Coba aja nih liat CCTV."
Di CCTV terlihat orang berwajah bule sedang menggandeng Vely masuk ke pesawat.
"Selidiki lebih lanjut, kalo emang dia ada niat buruk untuk balas dendam lakukan musuh seperti biasa." kata Alfi tegas.
Zay dan Anjar sudah tahu apa yang dimaksud oleh Alfi. Hampir sama dengan apa yang dilakukan Alfi kepada Dika. Tapi jika kesalahannya lebih banyak, hukuman yang akan diberikan juga lebih buruk dari apa yang dirasakan oleh Dika.
"Lalu apa ada informasi lain lagi?" tanya Alfi.
"Tanda bintang yang ada pada Cila itu adalah tanda organisasi Black Star di Cina. Organisasi itu selalu memiliki misi melindungi orang-orang penting dan berpengaruh. Sayangnya organisasi itu sangat tertutup dan hanya orang yang memiliki jalur khusus bisa mengakses jaringan komunikasi organisasi itu." jelas Anjar memperlihatkan informasi singkat tentang organisasi Red Star.
"Black Star? Aku pernah mendengar nama organisasi ini tapi itu sudah lama sekali. Bintang hitam tapi Cila bintang merah." ucap Alfi bingung.
"Oh iya alamat dokter yang waktu itu memeriksa mu sudah aku dapatkan dan saat ini anak buah kita sedang mengawasinya."
"Nanti malam bawa dia ke markas kita." perintah Alfi tegas.
__ADS_1
"Siap laksanakan."