Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Mak Lampir Kurang Ajar


__ADS_3

Pagi ini Senafa pergi ke kampus diantar oleh Rico. Sejak malam itu keduanya semakin dekat, lebih tepatnya Rico yang selalu menempeli Senafa dengan alasan ingin menjaganya dari pria tidak benar.


“Kak Rico bisa tidak mengendarai mobil dengan benar, ini sangat lambat sekali seperti siput.” Ujar Senafa dengan kesal. Pasalnya ini sudah 30 menit mereka berangkat dari rumah namun belum sampai kampus juga. Padahal hari ini Senafa ingin mengurus berkas kepindahannya ke kampus yang ada di China.


“Memang kamu tahu jika kecepatan siput sama seperti mobil ini?” tanya Rico dengan senyuman meledek. Pria itu memang sengaja melajukan kendaraan dengan pelan karena ingin menjahili gadis di sampingnya ini. Toh hari ini Senafa tidak ada jam perkuliahan.


“Jangan bercanda kak, aku ingin cepat sampai kampus dan mengurus berkas ini.” Tunjuk Senafa menatap berkas yang ada dipangkuannya.


“Ya baiklah, jangan protes jika aku membawa mobilnya dengan kecepatan penuh.” Rico menaikkan satu alisnya dan mulai serisu mengemudi.


Jantung Senafa ingin copot rasanya saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi namun sebisa mungkin dia mengontrol raut wajahnya. Bisa malu jika Rico tahu dirinya takut. Benar saja tidak sampai 10 menit mobil sudah berhenti di pintu masuk kampus.


Dengan segera Senafa turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Rico. Tidak lupa ucapan terimakasih karena sudah mengantarkannya ke kampus.


Senafa berjalan menuju Gedung administrasi untuk mengurus kepindahannya sampai di tempat dirinya langsung dilayani dengan baik dan cepat. Tentu saja itu semua karena Senafa masih dikenal sebagai bagain dari Keluarga


Andara. Siapa yang berani menyepelekan keluarga itu.


Selesai mengurus Senafa memutuskan berkeliing kampus sebentar, walaupun dia tidak sampai satu semester di kampus ini tetap saja dia memiliki kenangan disini. Bertemu dengan geng Alexa dkk, Fadli dkk serta Yuni di awal masuk kuliah hingga Leo yang selalu mengusik ketenangannya.


“Arbella, akhirnya aku menemukanmu.” Suara itu memevahkan lamunan Senafa. Gadis itu melihak ke samping kanan menemukan Leo sedang berlari menuju dirinya. Baru saja aku membicarakan dalam hati sudah muncul juga makhluk satu ini, batin gadis itu sambil menghembuskan nafas kasar.


“Bella, aku dengar kamu akan pindah kuliah ke luar negeri. Kenapa mendadak sekali? Kenapa kamu tidak memberitahu aku? Padahal kita baru saja dekat.” Leo mengajukan pertanyaan yang membuat Senafa heran.


“Itu semua tidak ada hubungannya denganmu. Lagi pula kita tidak ada dekat sama sekal jadi jangan membuat orang lain berpikir yang tidak-tidak tentang kita.” Jawab Senafa dengan suara sedikit keras, tujuannya supaya mereka yang sedang memperhatikan dirinya dan Leo tidak salah paham dengan perkataan Leo.


Wajah Leo terlihat memerah karena gadis di depannya berbicara seperti itu. Niatnya ingin pamer ke mahasiswa lain karena dirinya dekat dengan Arbella yang merupakan bagian dari keluarga terhormat di negara ini. Selain itu dirinya juga ingin membuat orang lain beranggapan dia dan Bella memiliki hubungan khusus. Sayangnya gadis di depannya ini terlalu blak-blakan, membuat rencanaya gagal total.


Leo mendekati Senafa dan berbisik. “Jangan mentang-mentang kamu bagian dari Keluarga Andara bisa memperlakukan aku seperti ini. Bersikaplah seolah-olah kita memiliki hubungan cukup dekat jika tidak jangan harap kamu bisa pulang dengan selamat.” Ancam Leo tanpa memikirnya akibatnya.


Bukannya takut Senafa malah terkekeh mendengar ancaman Leo. Sejak awal dirinya memang tidak taku dengan pria ini, bukan karena dia pandai bela diri tapi karena keluarganya yang sekrang pasti terus menjaganya dari


kejauhan. Jika benar Leo nekat ingin mencelakainya bisa dipastikan besok pagi keluarga Leo dalam masalah besar.


“Jangan pernah mengancamku, selagi aku benar ancaman mu hanya angin lalu untukku.” Setelah berkata seperti itu Senafa memutuskan untuk pergi ke kantin untuk bertemu dengan Yuni. Mengabaikan tatapan Leo yang sedang

__ADS_1


menahan malu karena dia abaikan.


Berjalan melewati Lorong yang cukup banyak mahasiswa sebenarnya Senafa tidak suka. Karena dia terus di tatap oleh banyak pasang mata, tidak hanya di perhatikan namn beberapa juga membicarakannya. Gadis itu mempercepat langkahnya agar segera sampai kantin.


“Arbellaaaa.” Teriak seorang gadis berkacamata yang duduk di pojokan. Dia adalah Yuni, orang yang pernah Senafa tolong saat Fadli dkk membully Yuni.


“Maaf menunggu lama ya?” Senafa dengan cepat duduk disamping Yuni. Terlihat di meja sudah ada 2 mangkuk soto, sepiring gorengan dan 2 gelas teh manis.


“Tidak kok, pesanan ini juga baru juga datang. Sesuai janjiku padamu, jika akua da uang maka aku akan mentraktir mu sebagai ucapan terimakasih. Walaupun ini tidak mahal semoga cocok dengan perut mu ya.”


“Heii ini cocok di peruku. Wah sepertinya enak sekali, ayo makan.”


Sedang enak menikmati makanan tiba-tiba Alexa dkk muncul.


“Bella, kamu tidak malu makab bersama dia? Si cupu yang bersal dari keluarga miskin.” Tanya Miska di ikuti suara teman-temannya termasuk Alexa.


“Tidak, selama dia memakai pakaian sopan dan tidak membuat onar aku nyaman saja.” Senafa menghentikan makannya karena tiba-tiba mood nya hancur gara-gara geng ulat keket ini.


“Aku dengar kamu pindah kuliah ke luar negeri, kenapa?” tanya Alexa pensaran.


“Aku rasa kalian tidak perlu tahu alasan aku pindah.”


dia juga anak pindahan dari kampus lain.


“Ren, kamu jaga ucapan jika berbicara dengan Bella.” Tegur Yuni tapi Renita tidak terima.


“Heh gadis miskin, lebih baik kamu diam saja. Aku bisa saja membuatmu keluar dari kampus ini.”


“Ren, kamu diam dulu.” Tania berusaha menengakan Renita yang sudah tersulut emosi.


“Apasih kamu Tan, diem. Aku memang tidak suka dengan dia.” Tunjuk Renita pada Senafa.


“Kenapa?” tanya Alexa dkk bersamaan.


“Dia itu calon pelakor masa depanku. Tahu tidak, tadi pagi aku melihat dia keluar dari mobil calon suami ku. Aku ingin memberinya pelajaran supaya kedepan dia tidak berani mendekati calon suamikuu.”

__ADS_1


Dengan Gerakan cepat Renita menyiram Senafa dengan air panasyang entah dia dapat darimana. Tidak hanya itu, Renita juga menampar dan menjambak rambut Senafa. Gadis itu yang tidak siap dengan serangan Renita


sangat terkejut.


Plak Plak


“Dasar calon pelakor, rasakan itu.”


Rambut Senafa terasa sakit sekali karena dijambak oleh Renita hingga rontok.


“Mak lampir kurang ajar.”


Buggggg


Renita terpental cukup jauh karena dorongan Senafa. Gadis itu terlihat menyeramkan sekali, penampilannya sudah acak-acakan karena ulah Renita tadi.


“Mau apa kamu hah?” Renita berdiri sambil menahan ngilu dipunggungnya. Dia melihat gelas ada di meja langsung di ambil dan di lemparkan pada Senafa.


“Bella awasss…”


“Aaaa..”


“Renitaa jangannnn…”


Teriakan Yuni, Alexa dkk dan pengunjung kantin terdengar keras. Mereka seperti senam jantung melihat Renita yang tidak mau berhenti dan Senafa/Bella yang tidak ada rasa takut.


Gelas yang dilemparkan Renita mendarat di tangan Senafa dengan cantik. Mereka yang melihatnya sanagt terkejut karena Senafa terlihat sangat santai sekali menghadapi Renita. Padahal di awal tadi gadis itu sangat


tertindas sekali.


“Ck hanya seperti ini kemampuan melemparmu? Payah.” Ucap Senafa meletakkan gelas itu di kursi.


Renita yang merasa diremehkan tiba-tiba mengangkat kursi dan berlari menuju Senafa. Namun saat sudah dekat, Senafa menendang kursi tersebut hingga membuat Renita kembali terpental.


“Ahhhhh… Dasar calon pelakor setan.” Umpat Renita.

__ADS_1


Saat Renita kembali ingin melemparkan asbak ke Senafa, tiba-tiba pihak keamanan kampus datang. Renita dan Senafa di bawa ke ruang rektor untuk di siding. Tidak lupa juga memanggil orang tua mereka.


Renita tertawa sinis melihat musuhnya yang hanya menunduk saja. Dia merasa yakin gadis yang dia cap sebagai calon pelakor masa depan akan dikeluarkan secara tidak hormat dari kampus ini.


__ADS_2