
“Memang didikan seperti apa yang dibutuhkan oleh mereka Nyonya Laras?” Entah sejak kapan Alfi berdiri di pintu tapi yang jelas dia tahu wanita itu terus mengejek anak-anaknya.
“Ah bukannya anda Tuan Alfian Anggara? Pengusaha sukkses dan terkenal di negara ini? Sungguh kehormatan bisa berjumpa dengan anda tuan.” Wanita bernama Laras itu mendekati Alfi dengan menampilkan senyum menawan.
“Ya, saya Alfian Anggara. Senang bertemu dengan anda nyonya.” Ucap Alfi dengan tenang.
“Senang bertemu dengan anda Tuan Alfi. Oh ya kalau boleh tahu ada keperluan apa anda bisa berada disini tuan?” tanya Nyonya Laras, tidak mungkin seorang Alfian Anggara pengusaha hebat bisa datang kesekolah jika bukan urusan yang penting.
“Untuk membasmi kuman yang menjijikan. Nyonya Laras jangan alihkan pertanyaan saya tadi.” Alfi berucap tegas dengan tatapan dingin.
“Menurut saya pendidikan yang memiliki kualitas baik dimana orang tua mengajarkan anaknya memiliki attitude yang baik. Bukankah seperti itu tuan?” Jawab Nyonya Laras dengan percaya diri, dia merasa pasti seorang Alfian Anggara membenarkan ucapannya dan itu bisa menambah nilai postif dalam dirinya.
“Benar sekali Nyonya Laras. Semua orang tua memang harus memberikan pendidikan dasar dimulai dari attitude yang baik. Dan saya yakin orang tua mereka juga mendidik mereka dengan sangat baik sekali. Jadi mana mungkin mereka bertindak hal tidak baik.” Jawab Alfi menghampiri Rian daan Rilla, kedua anak itu hanya diam menyaksikan ayah mereka bertindak.
“Tuan Alfi, anda salah. Mereka sudah melakukan hal tidak baik. anak perempuan itu bernama Rilla sudah berbuat buruk pada putri saya Fani. Dia mendorong anak saya sampai terbentur meja dan memar. Tentu saja saya tidak terima dia berbuat seenaknya sendiri seperti itu. Ditambah dia, anak laki-laki itu kakaknya Rilla ikut membela adiknya yang jelas-jelas bersalah. Mereka juga berani menjawab ucapan saya. Sepertinya mereka berasal dari kalangan bawah yang tidak memiliki pendidikan baik dan sopan santun.” Jelas Nyonya Laras supaya Tuan Alfi membelanya.
“Oh benarkah seperti itu? Baiklah kita tanya dulu pada anak-anak ini?” ucap Alfi menatap Rilla. “Rilla benarkah kamu yang membuat Fani terbentur meja? Tolong jelaskan kejadiannya nak?” Pinta Alfi mengelus lembut kepala putrinya.
“Ya benar memang aku yang membuat Fani terbentur meja…”
“Nah benar bukan tuan jika dia yang sudah mencelakai anak saya.” Uca Nyonya Laras memotong perkataan Rilla. Hal itu membuat Alfi menatap tajam wanita itu.
“Bisakah anda dia dulu Nyonya Laras, biarkan Rilla menyelesaikan perkataanya.” Kepala sekolah yang dari tadi hanya diam saja karena taku salah bicara di depan Alfi kini berani membuka suara. Dirinya ikut geram melihat Nyonya Laras yang seenaknya sendiri.
__ADS_1
“Jika anda orang yang berpendidikan dan memiliki attitude yang baik pasti tidak akan memotong perkataan orang lain. Benar bukan Nyonya Laras Aditama?” Alfi mengucapkan dengan penuh penekanan. Hal itu membuat Nyonya Laras yang tadinya terlihat berani sekarang nyalinya mulai menciut. Sungguh ucapan Alfi merupakan sindiran halus baginya.
“Lanjutkan Rilla.”
“Ya aku yang sudah membuat Fani terbentur meja karena dia terus mengganguku dan berniat mengambil mengambil paksa barangku. Ini bukan pertama kalinya Fani seperti itu jadi kali ni aku tidak tinggal diam. Aku mendorongnya hingga dia terbentur meja. Tapi sungguh aku tidak mendorongnya keras karena tubuhku sendiri sedang lemas. Aku juga tadi sudah meminta maaf pada Fani tapi dia mengadukan aku pada mamanya dan mamanya memarahiku dan menolak permintaan maafku.” Jelas Rilla dengan suara lirih, dia menceritakan dengan jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Mendengar penjelasan Rilla, Alfi menatap tajam Nyonya Laras.
“Tidak, kau pasti berbohong suapay bisa menarik simpati Tuan Alfi bukan?” kata Nyonya Laras membantah penjelasan Rilla.
“Pak Galih, apakah benar tadi Rilla sudah meminta maaf pada Fani dan Nyonya Laras?” tanya ALfi mengabaikan perkataan Nyonya Laras.
“Benar Tuan Alfi, apa yang dijelaskan Rilla memang benar.” Jawab Pak Galih selaku kepala sekolah.
“Bagaimana bisa begitu tuan? Tetap saja dia salah dan harus bertanggungjawab atas tindakannya.” Nyonya Laras tidak rela jika Rilla tidak bertanggungjawab karena dia tidak bisa mendapatkan uang ganti rugi nantinya.
“Maaf nyonya, pertanggungjawaban seperti apa yang anda butuhkan? Permintaan maaf sudah. Oh ya pasti anda meminta biaya ganti rugi pengobatan bukan? Tenang saja, itu akan menjadi urusan saya.” Ucap Alfi yang sedari awal sudah tahu tujuan wanita ini, menginginkan uang. Nyonya Laras pikir orang tua Rilla berasal dari kalangan bawah yang bisa diperas uangnya.
“Mengapa anda yang menanggungnya tuan?” tanya Nyonya Laras heran, tapi di lain sisi dia senang karena pasti uang yang akan di berikan oleh Alfi nominalnya cukup besar.
“Tentu saja aku yang menanggungnya. Anda pikir siapa lagi?”
“Orang tuanya tuan.” Jawab Nyonya Laras tanpa memikirkan apapun.
__ADS_1
“Benar sekali orang tuanya. Oleh karena itu sebagai orang tua Rilla aku akan menanggung biaya pengobatan anak anda yang terluka.” Alfi berucap santai tapi mengejutkan lawan bicaranya.
Nyonya Laras menggelengkan kepalanya. “Ti..dak, tidak mungkin anda ayah dari Rilla.” Ucap Nyonya Laras terbata-bata.
“Apa anda pikir jika orang tua Rilla yang tadi saya katakan sedang dalam perjalanan belum sampai-sampai? Asal anda tahu orang dihadapan anda ini adalah ayah kandung Rilla dan Rian.” Ucap kepala sekolah dengan tenang.
Nyonya Laras sangat terkejut, tubuhnya merosot kebawah. Bukannya mendapatkan keuntungan dari celakanya anaknya tapi malah membawa kesialan.
“Maafkan saya Tuan Alfi, saya tidak tahu jika mereka anak-anak anda.” Ucap Ntonya Laras bersimpuh di kaki Alfi.
“Jadi jika mereka bukan anak-anakku maka anda akan tetap memojokan dan menghina mereka? Asal anda tahu nyonya, anak-anakku tidak akan berbuat kasar jika mereka tidak diganggu. Terlebih putriku, dia sangat pendiam dan dingin jadi sangat tidak mungkin dia mencelaki temannya jika temannya yang tidak memulai dulu. Dan anda tadi berkata jika didikan orang tua mereka itu tidak baik bukan? Asal anda tahu nyonya, saya mendidik mereka dengan sangat-sangat baik. Saya tidak pernah mendidik mereka untuk menindas atau berbuat jahat terhadap orang lain tapi saya juga tidak akan membiarkan mereka ditindas oleh orang lain.Perihal mereka menjawab perkataan anda tadi, menurut saya itu tidak apa selama masih dalam tingkat kesopanan.” Kali ini Alfi tidak bisa Mengontrol emosinya lagi, wanita didepannya tidak bisa ajak berbicara baik-baik dan niat wanita itu sangatlah buruk. Tentu jika tidak segera diatasi akan menjadi sebuah kebiasaan.
Nyonya Laras masih terduduk dilantai ketakutan tapi hatinya masih memiliki niat mendapatkan uang dari Alfi terlebih Rilla merupakan anak dari pengusaha kaya raya itu.
“Iya tuan, tolong maafkan salah saya. Tapi bukankan tetap saja apa yang dilakukan putri anda itu tidak baik jadi saya minta uang ganti rugi untuk pengobatan luka memar pada kening Fani.” Sifat serakah seseorang tetap terlihat walaupun dirinya juga salah, ituah sifat Nyonya Laras yang haus akan kekayaan dan berhati busuk.
“Tenang saja Nyonya Laras, saya pasti akan meberikan ganti rugi untuk pengobatan luka anak anda.” Kata Alfi yang tidak hasbis fikir dengan sifat wanita itu, tidak masalah bagi Alfi mengeluarkan uang untuk biaya pengobatan tapi yang membuat Alfi heran luka anaknya itu hanya memar biasa karena sudah di periksa oleh Alfi sebelum datang ke ruang kepala sekolah. Namun wanita itu membuat seolah-olah luka anaknya seperti terkoyak cakar harimau.
“Ah terimakasih Tuan Alfi sudah bebaik hati dengan saya.” Ucap Nyonya Laras tidak tahu malu.
Alfi mengacuhkan wanita itu dan memilih menggendong tubuh putrinya yang terlihat pucat. Tangan kirinya menggandeng tangan Rian.
“Pak Galih saya permisi dulu, terimakasih sudah tepat waktu menghubungi saya tadi. Kalau begitu saya permisi dulu.” Ucap Alfi pada kepala sekolah.
__ADS_1
“Iya pak sama-sama. Mari saya antar pak.”