Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
BAB 62 - Anjar & Alin


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa kegiatan Alfi pergi kantor bersama beberapa pengawalnya. Zay juga yang sekarang memegang kendali di Perusahaan Andara sudah berangkat bersama Ayunda ke kantor, Ayunda bekerja sebagai sekretaris suaminya sendiri atas keinginannya.


Anjar sendiri pergi ke markas pengawal mereka bersama dengan Alin dan Paman Jack.


Sedangkan di rumah kediaman Alfi terlihat Bibi Hana sedang mengelus perut Cila.


“Dulu bibi juga sering mengelus perut ibumu setiap pagi Cila, karena kalian dulu senang menedang perut ibu kalian saat pagi hari.” Bibi Hana terlihat senang sekali mengelus perut anak majikannya dulu.


“Bibi Hana tolong ceritakan tentang ibu dan ayah, terutama tentang siapa keluarga ibu.” Pinta Cila yang dari kemarin belum puas mendengarkan cerita tentang orang tuanya.


“Sebenarnya tidak ada yang tahu tentang siapa keluarag Nyonya Xin. Nyonya Xin bertemu dengan ketua saat ketua pergi ke perbatasan untuk menjalankan misi penyelamatan. Selesai misi penyelamatan berhasil ketua memutuskan menetap disebuah desa kecil dekat hutan. Disanalah mereka bertemu dan berkenalan, Nyonya Xin dibesarkan oleh seorang pria yang di kenal pintar ilmu bela diri. Tapi itu bukan ayah kandung nyonya, tidak ada yang tahu siapa keluarga kandung nyonya. Karena ketua dan nyonya merasa ada kecocokan mereka memutuskan untuk menikah di desa itu dan kembali ke markas saat nyonya dinyatakan hamil beberapa minggu. Sayangnya kehamilan nyonya mengalami keguguran dan baru hamil lagi setelah usia pernikahan 4 tahun. Kehamilan itu menjadi kado pernikahan yang paling indah bagi ketua karena mereka langsung diberikan sepasang bayi kembar. Bahkan sebelum kalian lahir ketua sudah menyematkan nama untuk kalian.” Cerita Bibi Hana sesuai apa yang dia ketahui.


“Apa keluarga ibu memang sudah tidak ada semua ya bi? Kasihan sekali ibu.” Ucap Cila lirih. Dia bersyukur walaupun dulu hidupnya banyak cobaan setidaknya memiliki kelurga yang lengkap ada Papa Reza dan Mama Rena.


“Lalu siapa nama saudara kembar Cila bi?” Tanya Cila yang belum mengetahui nama saudara kembarnya.


“Jiazhen, itu nama saudara kembar mu nak. Jiazhen Chen dan Annchi Chen, serasi bukan? Ketua sering memanggil kalian dengan panggilan Ji dan An, sepertinya itu panggian kesayangan dari ketua untuk kalian.” Kata Bibi Hana mengingat dulu ketua sering menyebut nama itu setiap kali mengelus perut Nyonya Xin Qian.


Ada rasa senang yang tidak bisa Cila ungkapkan saat tahu ayahnya sangat menyanyanginya, jika ada sebuah permintaan yang bisa dikabulkan secara langsung pasti dia sudah meminta kembalikan orang tua dan saudara kembarnya.


Jika bukan karena kejahatan adik tiri ayahnya pasti saat ini dia masih memiliki harapan bercengkraman dengan keluarga kandungnya.


“Bibi apakah orang yang bernama Gerry memiliki keluarga disana?” Tanya Cila yang ingin tahu tentang saudara tiri ayahnya.


“Dulu Tuan Gerry memiliki banyak istri namun dari semua istrinya itu tidak ada yang bisa mengandung anaknya karena ternyata Tuan Gerry mengalami kemandulan. Oleh karena itu semua istrinya di ceraikan dan sampai saat ini tidak memiliki keluarga. Bahkan adiknya yang bernama Fen tidak pernah menengok Tuan Gerry.”


Walaupun Bibi Hana sudah tidak bekerja di markas Black Star tapi koneksi suaminya masih banyak yang bertahan sebagai pekerja di markas jadi informasi seperti itu mudah untuk di dapat. Ditambah anak gadisnya, Alin yang sudah bergabung lama dengan Black Star sering berbagi cerita dengannya.

__ADS_1


“Oh ya apakah bibi menguasi ilmu bela diri?” Tanya Cila lagi.


“Tentu saja bibi meguasai ilmu bela diri, jika tidak mana mungki dulu bibi bisa bekerja menjadi orang terdekat ibumu.” Jawab Bibi Hana terkekeh.


“Wah berarti bibi bisa mengajari Cila sedikit saja ilmu bela diri?” Terlihat Cila sangat antusias ingin belajar ilmu bela diri, entah mengapa dia ingin seperti ibunya yang juga menguasi ilmu bela diri.


“Tentu bisa tapi sebaiknya izin terlebih dahulu pada suamimu nak, terlibih saat ini kamu sedang mengandung.”


Cila mengangguki ucapan Bibi Hana, nanti saat suaminya pulang bekerja dia akan meminta persetujuan dari Alfi.


Sedangkan di markas Anjar dan Alin sedang mencoba mengakses akun yang terhubung dengan Dragon Gold. Ini sudah percobaan ke sekian kalinya selama hampir 3 jam mereka berkutat dengan komputer.


“Bukankah kita sudah medapatkan tiket masuk ke acara pertemuan itu kenapa kita harus mengakses seperti ini juga?” Tanya Anjar yang kesal karena percobaan mereka terus gagal.


“Ck tiket masuk itu belum cukup, kita harus menjalin komunikasi yang baik juga dengan mereka melalui komunikasi seperti ini. Jika kita berhasil menembus pertahanan mereka pasti mereka jug yang akan mendekati kita. Dengan begitu kita tidak perlu bersusah payah mendekati mereka. Begitu saja bodoh pemikiranmu.” Ucap Alin dengan mata masih terfokus pada layar computer di depannya.


Wajar saja dia bodoh karena kepintarannya hanya untuk dunia binis bukan untuk dunia organisasi seperti itu, yang tentunya bukan bidangnya. Anjar terus mengumpat dalam hati sambil melirik Alin.


“Tidak usah mengumpat, itu hanya membuat mu bertambah bodoh.” Kata Alin tersenyum mengejek.


Anjar terliha gelagapan, darimana Alin bisa tahu jika dia sedang mengumpat tapi tentu dia tidak mau mengakuinya. “Hah siapa juga yang mengumpat aku sedang berpikir.”


“Dari deru nafas mu saja aku sudah tau jika orang yang bernama Anjar sedang berbohong. Yes berhasil.” Ucap Alin tersenyum senang.


Anjar mendekati Alin dan melihat layar computer gadis itu. Telihat lambang naga emas berhasil Alin akses dan itu berarti usaha mereka tidak sia-sia selama hampir 3 jam percobaan.


“Apa kau juga seorang hacker?” Tanya Anjar menatap Alin, Anjar tahu tidak mudah mengaskses hal seperti itu jika bukan seorang hacker handal. Dia saja yang sudah dikatakan handal dalam meretas data perusahaan orang lain tidak berhasil menjalan misi mengakses akun Dragon Gold.

__ADS_1


“Hei bodoh, apa kau lupa jika aku pernah bekerja sebagai anggota Black Star tentu saja aku harus pintar dalam segala hal, termasuk hal seperti ini.” Jawab Alin terlihat menyombongkan diri.


Sekarang Anjar tahu jika mulut gadis disampingnya itu sangat tajam, buktinya dia sangat kesal saat Alin mengatainya bodoh, bodoh dan bodoh.


Ingin rasanya dia menyumpul mult gadis itu dengan kain perca supaya tidak megatai dirinya seenak jidat tapi sayangnya dia masih butuh gadis ini untuk menyelesaikan banyak masalah.


“Aku tahu aku cantik dan pintar tapi tidak perlu menatap ku seperti itu. Kau seperti buaya yang siap menerkam aku.” Alin menjitak kepala Anjar yang terus menatapnya.


Sontak Anjar berteriak sakit,”Auu gadis bar-bar berani sekali menjitak kepalaku.” Kata Anjar mengusap kepalanya.


“Ck dasar lemah seperti itu saja sakit.” Alin berjalan meninggalkan Anjar yang masih menatap dirinya. Entah mengapa dia senang sekali bisa menjahili Anjar.


Hai Reader's ❤


Jangan lupa kasih dukungan ke Author yaa


Like


Komen


Vote


Tambah Favorit juga yaa ❤


Yg belum follow jangan lupa follow yaa ❤


Terimakasih ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2