
Disinilah Abrian, Abrico, Abrilla, Arbella berada. Sebuah pusat perbelanjaan terkenal di negara itu yang menjual produk berkualita tinggi dan harganya terbilang mahal. Saat ini Abrian dan Abrico hanya bisa pasrah mengikuti kemama perginya Abrilla bersama Arbella.
“Kak menurut kalian aku lebih cantik menggunkan warna biru atau putih?” tanya Abrilla memegang dress ditangan kanan dan kirinya.
“Keduanya tidak membuatmu cantik, lebih baik cari yang lain saja.” Jawab Abrico malas.
“Kak Rico kau jangan seperti itu. Aku tahu dalam hati pasti kau sedang mengeluh kan?”
“Tidak, aku tidak pernah megeluh. Kau ini selalu saja berpikir buruk dengan ku.”
“Ck tidak usah berpura-pura kak, aku tahu kau sangat kesal dengan ku karena dari tadi uangmu yang sudah banyak terkuras.” Abrilla memang sengaja menggunakan uang milik Abrico untuk berbelanja sedangkan uang milik Abrian akan dia gunakan untuk perawatan tubuh dan membeli mobil keluaran terbaru saat di Indonesia nanti.
“Terserahmu saja Rilla, aku malas berdebat dengan mu. Cepat ambil apa saja yang kau inginkan, aku sudah lelah membawa semua barang-barang ini.” Sambung Abrico menatap barang-barang Abrilla yang dia bawa.
Disudut lain terlihat Bella kebingungan memilih pakaian. Abrian yang melihatnya langsung memanggil Abrilla untuk memilihkan pakaian untuk Bella. Tentu saja dengan senang hati Abrilla melakukannya.
“Ya ampun dari tadi kau baru mendapatkan 4 pakaian ini Bella.”
“Memang Kak Rilla berapa pakaian? Bagi bella 4 pakaian saja sudah banyak, dulu saat tinggal di kediaman Gu bisa mendapatkan 1 pakaian baru dalam 2 bulan itu sudah membuatku sangat senang. Karena pakaian yang biasa Bella kenakan itu baju bekas wanita jahat yang sudah tidak layak pakai, kadang perlu dijahit dulu sebelum Bella pakai.”
Sungguh miris sekali hidu Bella, pikir 3 saudara kembar itu. Mereka saja dalam berpakaian bisa setiap minggu berbelanja, kadang juga mereka mendapat kiriman dari Oma Ara yang tinggal di Paris.
“Lupakan masa lalumu, sekarang kau tidak perlu menghitung berapa banyak pakaian yang harus kau beli. Cukup contoh apa yang aku lakukan, seperti ini.” Abrilla mengambil pakaian sesuka hatinya tanpa melihat harga lalu memasukkan ke keranjang pakaian.
Abrian dan Abrico yang berpikir Abrilla akan tersentuh hatinya dan bertobat membeli banyak pakaian kini meghela napas panjang.
“Dia tidak akan berubah, gadis itu malah semakin semena-mena dalam menghabiskan uang kita.” Ujar Abrian terkekeh.
__ADS_1
“Sebenarnya aku tidak masalah kak dia menghabiskan uangku tapi yang menjadi masalah belum tentu pakaian yang dia beli akan dia pakai. Alhasil kamarnya akan menjadi gudang pakaian dan meminta renovasi kamar lagi. Untung saja Paman Azkio sangat menyayanginya jika tidak mungkin sudah dari dulu dia dikembalikan ke Indonesia.”
Abrian tertawa mendengar keluh kesah Abrico. Jika pada Abrico, Abrilla menguras uang untuk membeli pakaian, berlian, tas atau aksesoris lainnya. Tapi jika menguras uangnnya, Abrilla menggunkan untuk membeli mobil keluaran terbaru. Sudah banyak koleksi mobil Abrilla baik di sini maupun di Indonesia, belum lagi beberapa mobil di Cina dan Paris pemberian kakek, nenek dan oma. Tapi tidak satu pun mobil digunakan oleh Abrilla, dia lebih suka menggunkan mobil milik orang lain. Aneh bukan adiknya itu.
Saat Abrilla sedang asik berbelanja dengan Arbella, Abrico melihat bayangan dua orang sedang mengintai dua adiknya itu.
“Ternyata mereka beralih profesi sebagai penguntit kak?” ucap Azkio melirik dua orang itu.
“Biarkan saja, selama tidak mengganggu Abrilla dan Arbella itu tidak masalah. Kita awasi dari sini saja, aku yakin jika mereka mendekati Abrilla, gadis nakal itu pasti bisa mengatasinya.” Jawab Abrian yang sudah tahu siapa mereka sebenarnya.
Benar dugaan Abrian, dua orang yang sedang mengintai itu berjalan mendekati Rilla dan Bella.
“Bril, bagaimana kabarmu?”
Abrilla menoleh dan menatap datar orang di depannya. Dia sama sekali tidak berminat menjawab pertanyaan orang itu.
“Dia orang asing, sebaiknya kita kembali kesana. Kakak takut kau akan terkontaminasi virus yang dia bawa.” Abrilla menggandeng tangan Bella pergi dari situ.
“Bril, maafkan aku. Aku tidak berniat melukaimu.” Ucap pria itu tapi tetap di acuhkan oleh Abrilla.
“Nona Bril, tolong beri waktu sebentar saja pada Tuan Edrice.” Dua orang itu adalah Edrice dan Rezan. Mereka mengikuti dan mengawasi Abrilla dari tadi.
“Paman, kakakku tidak suka berbicara dengan orang asing. Lebih baik paman berdua pergi saja.” Ucap Bella mengusir Edrice dan Rezan. Walaupun dia tidak tahu siapa sebenarnya dua pria ini tapi Bella merasa Rilla tidak menyukai keduanya. Terlihat dari genggaman tangan Rilla yang begitu kuat pada tangannya.
“Apa? Paman? Kau gadis cilik tidak usah ikut campur.” Rezan tidak terima dia dan bosnya dipanggil paman.
Abrilla menahan tawa mendengar Bella menyebut Edrice dan Rezan paman, berbeda dengan Abrian dan Abrico di ujung sana yang sudah tertawa.
__ADS_1
“Sepertinya mulut Bella sama tajamnya dengan Oma Ara.” Kata Abrico teringat Omanya.
“Aku rasa juga begitu, mulutnya mungil tapi tajam.”
Melihat Rezan melotot dan tidak terima dia panggil paman, Bella melepaskan tangannya dari genggaman Abrilla.
“Iya paman, lihatlah berewok paman yang mengerikan itu. Apa paman tidak pernah mencukurnya?” tunjuk Bella pada dagu Rezan.
“Bukan tidak pernah mencukur tapi memang ciri khas kami seperti ini gadis cilik.” Jawab Rezan.
“Terserah paman saja, sebaiknya bawa teman paman pergi dari sini. Jika tidak kalian akan aku hajar.”
“Tidak usah mengancam kami nona, tujuan kami itu baik ingin meminta maaf dengan wanita di sampingmu itu. Jadi izinkan kami untuk berbica sebentar dengannya.” Edrice berusaha sabar meladeni gadis kecil ini, dia takut membuat Abrilla semakin membencinya.
Bella menatap Abrilla. “Kak, apa ingin berbicara dengan paman-paman ini?”
Abrilla menggelengkan kepalanya.
“Lihat sendiri kan jika kakakku tidak mau berbicara dengan paman berdua. Jadi pergi sana.” Usir Bella mengibaskan tangannya.
“Baiklah kami akan pergi. Tapi nona bisakah panggil kami dengan sebuatan kakak juga. Kami masih muda.” Pinta Rezan.
“Tidak bisa, kalian sudah tua. Berbeda dengan kakakku yang masih muda, tampan dan tidak memiliki berewok. Ayo Kak Rilla kita tinggalkan mereka.” Bella kembali menggandeng Abrilla dan berjalan mendekati Abrian dan Abrico. Terlihat mereka mengacungkan jempol padanya.
“Rezan, kenapa kau menuruti perkataan gadis ituyang meminta kita pergi?” Edrice kesal karena tidak bisa berbicara dengan Abrrilla.
“Maaf Tuan Muda, saya terpaksa menurutinya karena di ujung sana ada dua malaikat maut yang sedang memperhatikan kita.” Tunjuk Rezan pada Abrian dan Abrico.
__ADS_1