
Pukul 4 sore Abrian dan Bella sudah sampai di rumah. Saat ini Abrian sedang bermain basket di halaman bekang kediamannya sedangan Bella yang sedang melakukan pemanasan sebelum berlatih bela diri bersama salah satu anak buah Abrian.
Bella diminta melakukan sit up sebanyak 100 kali oleh Sheila, wanita cantik seksi dan berotot.
“Jika kau rajin melakukan ini pasti kau akan terlihat semakin sexy Bella.” Ucap Sheila sambil mengedipkan mata.
“Ah tidak mau. Bisa-bisa mata pria di luar sana semakin membesar saat melihat diriku.” Bella menjawab sedikit terengap setelah menyelesaikan sit up.
“Bagus bukan? Dengan begitu kau memiliki banyak penggemar dan terkenal.”
“Aku tidak ingin terkenal karena tubuhku yang sexy kak. Bagaimana jika ada yang terobsesi dengan ku dan berniat menculik ku dan kemudian menyekap ku? Masa mudaku bisa hancur begitu saja karena terkurung.”
“Hei siapa yang berani menculik mu akan berhadapan denganku. Aku pastikan masa depannya yang hancur dan akan ku buat tubuhnya menjadi perkedel.”
“Apa kalian akan terus menggosip?”
Bella dan Sheila terkejut mendengar Abrian sudah berdiri di belakang mereka dengan wajah dinginnya.
“Oh tidak bos, ini aku segera mengajari bocah ini.” Sheila kembali dalam mode sangarnya. Dia mulai mencontohkan beberapa gerakan pada Bella.
“Jangan makan gaji buta Sheila. Nanti otot mu bisa kaku.” Ucap Abrian pergi meninggalkan dua wanita itu.
Setelah Abrian pergi Sheila benar-benar melatih Bella dengan keras. Tidak ada ucapan lemah lembut lagi keluar dari mulutnya.
“Yak pertahankan gerakan mu.”
“Jangan lengah Bella.”
“Tendang lagi…”
“Lagi…”
“Lagi…”
__ADS_1
Suara Sheila menggelegar diruang latihan, hal itu sudah biasa bagi mereka yang bekerja dengan Abrian. Akan hampa rasanya jika ruang latihan sepi dan tidak terdengar suara menggelegar.
Tepat pukul 6 Sheila mengakhiri latihan Bella. Dia senang Bella mudah memahami dan langsung mencontohkan apa yang sudah dia ajarkan. Tubuhnya memang kecil tapi Bella memiliki daya tahan tubuh yang kuat sehingga tidak bisa diremehkan.
***
Malam hari pukul 8 Abrian dan Bella sudah sampai di tempat pesta. Bella malam ini menggenakan gaun merah cerah dengan bagian pundak sedikit terbuka. Dia wig rambut panjang berwarna hitam pekat, tidak lupa beberapa aksesoris mahal melekat pada bagian tubuhnya yang lain. Tentu malam ini Abrian yang mengatur dengan menggundang perias terbaik. Bella juga tidak menggunkan kacamata tapimemakaia soflen sehingga matanya terlihat berbeda dari mata aslinya.
Abrian sendiri mengenakan jas berwarna hitam tidak lupa jam tangan mewah melekat di tangannya. Wajah tampannya semakin bersinar saat kacamata bertengger di hidung mancungnya.
“Ingat jangan takut dan gugup. Ayo gandeng tanganku.” Ucap Abrian saat turun dari mobil bersama Bella.
Bella menggandeng tangan Abrian dan mereka melangkah bersama melewati wartawan yang sedang meliput tamu. Wartawan tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mendapatkan gambar mereka berdua. Apalagi Abrian merupakan orang yang disegani kalangan bisnis.
Beberapa dari mereka mengajukan pertanyaan pada Abrian tapi hanya di acuhkan saja. Sudah tidak heran mereka dengan sikap pemilik Perusahaan Anggara tersebut. Sitampan yang dingin, julukan itu tersemat pada Abrian Anggara.
Di dalam sangat ramai sekali, Abrian berjalan melewati banyak orang yang ingin mendekatinya. Bukan tidak memiliki sopan santun tapi Abrian sudah tahu tujuan mereka mendekati dirinya hanya untuk ketenaran saja. Oleh karena itu Abrian memilih untuk mengacuhkan mereka.
“Selamat malam Tuan Abrian. Terimakasih sudah menyempatkan hadir di pesta saya malam hari ini.” Tuan Fras, penyelenggara acara menyambut Abrian dengan sangat ramah.
“Oh siapa gadis cantik ini? Apa ini kekasih anda?” tanya Tuan Fras melihat Bella.
“Dia adik sepupuku tuan.”
Bella melepaskan gandengan dan mengulurkan tangan pada Tuan Fras dan tentu saja disambut baik oleh Tuan Fras. “Perkenalkan saya Arbella, adik sepupu Abrian. Salam kenal tuan.”
“Salam kenal juga, saya Fras rekan kerja Tuan Abrian.”
Tuan Fras menatap kagum Bella. “Saya tidak menyangka jika Tuan Abrian memiliki adik secantik ini. Oh ya saya memiliki anak laki-laki yang usianya mungkin tidak jauh dari adik anda. Bolehkah nanti anak saya berkenalan dengan adik anda Tuan Abrian?” tanya Tuan Fras terlihat antusias.
“Tentu saja Tuan Fras, silahkan saja.”
“Terimakasih Tuan Abrian, kalau begitu silahkan duduk tuan. Setelah acara di mulai saya kan menemui anda kembali bersama anak dan istri saya.”
__ADS_1
Abrian duduk berdampingan dengan Bella. “Lihat arah 10.” Bisik Abrian pada Bella.
Bella melihat arah yang dibisikkan oleh Abrian. Terlihat disana ayah dan ibu tiri Bella sedang berbincang dengan tamu pesta juga. Ayah Bella terlihat bahagia sekali padahal putrinya pergi dari rumah.
“Jangan terlalu lama melihatnya, itu akan terlihat mencurigakan. Bersikaplah sesuai apa yang sudah aku ajarkan tadi sebelum berangkat.” Kata Abrian menggenggam tangan Bella yang mulai terasa dingin.
“Ya baiklah.” Bella mulai menetralkan raut wajahnya, dia tidak ingin membuat apa yang sudah dia dan Abrian rencanakan gagal.
Acara dimulai, Tuan Fras naik ke atas panggung dengan gagah. Dia tersenyum dan melambaikan tangan di depan wartawan yang sedang meliput.
“Selamat malam semuanya, baik rekan bisnis dan rekan wartawan. Terimakasih sudah berkenan hadir di pesta saya malam hari ini. Pesta malam hari ini saya adakan untuk menyambut pemimpin baru perusahaan Fraska yaitu putra tunggal saya Fadlian Fraska.”
Seorang pria naik ke atas panggung dengan senyum menyapa semuanya. Bella yang melihatnya memelototkan mata, hal itu disadari oleh Abrian.
“Jangan sampai bola matamu keluar Bella.”
“Kenapa pria jadi-jadian itu bisa naik ke atas panggung?” tanya Bella sambil memperhatikan acara yang masih terus berjalan.
“Karena dia anak Tuan Fras. Ada apa?”
“Pria itu yang tadi aku bayar menggunkan cek milik mu.” Abrian memang belum melihat video pertengkaran Bella bersama dua pria di kampus tapi Bella sudah bercerita pada Abrian saat di kantor.
“Jadi dia salah seorang pria yang kau sebut jadi-jadian? Ck ternyata penerus perusahaan Fraska bocah ingusan dan sok jagoan.” Abrian pikir anak tunggal Tuan Fras sudah matang ternyata masih setengah matang.
“Jika dia yang Tuan Fras ingin kenalkan denganku sungguh aku malas meladeninya.”
“Tidak boleh begitu, tetap harus diladeni.”
“Ya ya ya baiklah…”
****
Yang tanya Abrico sama Abrilla sabar yaa...
__ADS_1
Pasti bakal ada kok part yang memuat saudara kembar Abrian. ❤❤