Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Season 2 - Usaha Membuat Rilla tertawa


__ADS_3

“Apa kalian sudah yakin dengan keputusan yang kalian buat?” Tama yang sudah di beri tahu oleh Alfi jika mereka sudah setuju Rilla di bawa ke Afrika.


“Ya tentu saja, baik aku dan Cila sudah memikirkan ini baik-baik. Kami tidak mungkin terus mempertahankan Rilla di sisi kami jika kondisinya terus seperti ini dan kami juga tidak mungkin harus pindah kesana karena perusahaan membutuhkan kami. Jalan terbaik saat ini adalah menyetujui penawaran Azkio untuk merawat Rilla di sana.” Jelas Alfi yang sudah memikirkan semuanya.


“Syukurlah, aku senang dengan keputusan yang kalian buat. Kondisi Rilla semakin kesini semakin memburuk, aku khawatir jika dia terus mengkonsumsi obat tanpa perubahan malah membawa dampak buruk pada tubuhnya. Tapi yang aku salut pada putrimu, dia tidak pernah mengeluh sedikit sama sekali. Usianya memang masih kecil tapi aku yakin dia bisa melewati semua ini.” Ucap Tama memuji Rilla.


“Ya, dia memang anak yang kuat. Aku sebagai ayahnya merasa gagal tidak bisa melindungi putriku sendiri. Andai saat itu aku bisa lebih waspada menjaga Cila, pasti saat ini Rilla bisa hidup seperti anak lainnya.” Alfi selalu merasa bersalah pada Rilla, walaupun itu semua bukan sepenuhnya salah Alfi tapi tetap saja sebagai seorang suami dan calon ayah pada saat itu dirinya sudah gagal menjaga istri dan calon anak-anaknya.


Tama menepuk pundak Alfi. “Yang lalu biarlah berlalu, saat ini tugasmu mendukung dan menyemangati Rilla. Jangan tunjukkan wajah sedihmu itu. Jika anak-anakmu melihat mereka pasti ikut bersedih.”


“Ah benar juga ucapanmu, aku harus kuat demi mereka. Ya sudah aku ingin pergike kamar Rilla dulu. Terimakasih sudah datang teat waktu tadi.” Ucap Alfi lalu masuk ke kamar Rilla.


Dikamar Rilla sudah ada Cila dan Oma Ara. Rilla juga sudah terlihat sedikit membaik.


“Ibu dan oma, dimana Kak Rian dan Kak Rico? Kenapa tidak menemani Rilla? Ayah juga tidak ada disini.” Tanya Rilla yang tidak melihat keberadaan dua kakak serta ayahnya.


“Ayah disini nak.” Saut Alfi sambil membuka pintu.


Rilla tersenyum melihat ayahnya. “Lalu dimana kakak?” tanya Rilla melihat ayahnya hanya sendiri.


“Kak Rian dan Kak Rico sedang pergi membeli sesuatu, mungkin sebentar lagi pulang.” Ucap Oma Ara mengelus rambut Rilla.


Rilla hanya menganggukkan kepala sedangkan Alfi mendekati Rilla dan duduk di samping istrinya.


“Ayah, ibu dan oma tidak marah pada Rilla karena sudah mendorong Fani tadi?” tanya Rilla menatap Alfi dan Cila. Cila tersenyum mendengar pertanyaan Rilla. Dia menggenggam tangan putrinya. “Tentu saja tidak. Untuk apa ibu dan ayah marah? Rilla melakukan itu karena Fani yang memulai dulu bukan? Lakukan hal yang menurut Rilla benar, dengan begitu ayah dan ibu pasti akan membela kamu.”


“Benar sayang, jangankan Rilla dorong, Rilla ingin menjambak rambut Fani juga boleh.” Ucap Oma Ara yang tidak terima cucunya di ganggu oleh anak siluman rubah.


Rilla tertawa mendengar ucapan Oma Ara, kemudian terdiam sejenak menatap Alfi, Cila dan Oma Ara bergantian.


“Ada apa nak?” tanya Alfi yang mengerti jika Rilla akan berbicara hal serius.


“Ayah, ibu dan oma nanti jangan sedih jika Rilla tinggal bersama Om Kio. Rilla disana akan berusaha untuk cepat sembuh supaya bisa berkumpul dengan kalian lagi. Rilla tahu jika besok malam Om Kio akan menjemput Rilla dan dibawa ke tempat kakek uyut. Tenang saja Rilla tidak akan menagis karena Rilla anak kuat.” Ucap Rilla dengan menunjukkan senyum terbaiknya.


Baik Alfi, Cila dan Oma Ara hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Rila. Bocah 5 tahun ini masih sangat kecil namun bisa bersikap dewasa melebihi anak seusianya.

__ADS_1


“Tentu saja kami tidak akan bersedih, karena Rilla pergi untuk berobat supaya bisa sembuh. Rilla juga anak kuat jadi ibu percaya anak cantik ini tidak akan menangis.” Cila sekuat tenaga tidak akan menangis di depan Rilla, dirinya tidak mau membuat Rilla khawatir dan tidak jadi pergi.


Alfi dan Oma Ara mengangguki ucapan Cila. Saat mereka sedang saling terdiam pintu terbuka menampilkan Rico sepasang badut bertubuh kecil yang melakukan atraksi menggunakan bola pimpong.


“Hai nona manis, perkenalkan kami adalah pangeran tampan yang datang untuk menghibur anda.” Ucap salah satu badut dengan mengiyangkan pinggulnya hal itu membuat Rilla tertawa terbahak-bahak.


Alfi, Cila dan Oma Ara tersenyum bahagia melihat Rilla yang tidak pernah tertawa sepeti itu kali ini terlihat sangat senang melihat enampilan dua badut kecil itu.


“Perkenalkan namaku Pangeran Ian, aku memiliki sebuah hadiah untuku nona cantik. Terimalah kado dariku.” Badut kecil bernama Ian itu memberikan boneka beruang seukuran dengan tubuhnya pada Rilla. Dengan senang hati Rilla menerima boneka itu dengan dibantu Alfi.


Kini ganti badut kecil satunya maju dengan membawa balon warna-warni dan permen lollipop.


“Hai nona cantik, namaku Ico. Si tampan yang mapan dengan sejuta pesona. Terimalah hadiahku yang tidak seberapa ini, aku membuatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.” Badut kecil bernama Ico itu memberikan bucket lollipop serta permen kapas yang tersusun rapi berbentuk hati. Rilla menerimanya dengan riang karena itu makanan favoritnya.


“Terimakasih Ian dan Ico atas hadian yang kalian berikan untukku. Aku senang sekali.” Ucap Rilla tersenyum cantik memandang dua badut di depannya yang masih asik bergoyang.


“Sama-sama nona cantik.” Ucap badut kecil itu tersentum genit. Kemudian melepas baju dan aksesoris yang mereka pakai.


“Ya ampun kalian berdua seperti kepiting rebut wajahnya.” Ucap Oma Ara tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Rian dan Rico memerah.


“Ah ternyata panas sekali menggunakan kostum badut seperti ini.” Ucap Rico terduduk di lantai setelah berhasil mencopot kostumnya.


“Tidak lucu oma, kami seperti ini juga demi membuat Rilla tertawa tapi sekarang malah oma yang tertawa terpingkal-pingkal.” Ucap ketus Rian yang masih kesusahan melepas kostumnya.


“Ibu tolong bantu aku.” Rian mendekati Cila dengan menekuk wajahnya.


“Ck kamu ini bisa memakainya tapi tidak bisa melepasnya.” Cila menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya satu ini.


“Bibi Ayunda tadi yang membantuku memakaikanya ibu jadi jelas aku bisa.” Jawab Rian bernapas lega setelah kostumnya terlepas.


“Lalu dimana bibimu itu? Kenapa tidak ikut memakai kostum badut?” tanya Oma Ara yang masih berusaha menahan tawa.


“Bibi pergi bersama paman setelah mengantar kami kemari.” Jawab Rico mendekati Rilla.


“Rilla walaupun aku membelikanmu banyak sepeti ini tapi bukan berarti langsung kau habiskan. Nanti gigimu cepat ompong seperti oma.” Rico duduk di ranjang Rilla dengan bantuan Alfi.

__ADS_1


“Tenang saja, aku sangat menyanyangi gigiku. Tidak lucu nanti saat aku dewasa lalu tersenyum gigiku ompong. Nanti aku tidak bisa mendapatkan calon suami konglomerat.” Jawab Rila masih menatap permen kapas di tangannya.


Rico senang bisa melihat Rilla tersenyum lagi. Tanpa dia sadari sebuah tangan mendarat mulus di telinganya.


“Ahh sakit sakit sakitt..” ucap Rico merasakan tarikan di telinganya.


“Kamu ini suka sekali mengejek oma dan membuat oma darah tinggi.” Ternyata yang menarik telinga Rico adalah Oma Ara. Oma Ara tidak terima dikatai ompong oleh Rico.


Rilla, Rian, Alfi dan Cila terkekeh melihat Rico memohon ampun pada oma dengan menggunakan ancaman.


“Oma sudah lepaskan, jika sampai telinga Rico bengkak maka kelinci oma akan Rico jadikan bahan percobaan lagi.” Mendengar ancaran Rico membuat Oma Ara langsung melepaskan tangannya dari telinga Rico.


“Kamu ini selalu mengancam oma dengan menggunakan kelinci. Lihat saja besok Cici akan oma pindahkan ke tempat aman suapaya kamu tidak bisa menggunakan Cici sebagai bahan percobaan. Kamu mau oma buatkan film azab dengan judul “Azab menganiaya kelinci, telinga cucuku mirip kelinci.” Ucap Oma Ara ketus.


“Mau oma pindahkan kemanapun pasti Rico akan menemukannya. Jika oma tidak percaya coba saja. Wah ide bagus oma, buatkan film untuk Rico suapay banyak orang melihat ketampanan Rico.” Rico tentu saja tidak pernah takut dengan omanya, semakin omanya mengancam pasti akan semakin Rico tantang. Bagitulah sifat tengil Rico yang selalu membuat sang oma darah tinggi.


“Ah pasti kau akan merindukan suasana seperti ini.” Ucapan Rilla menghentikan perdebatan Rico dan Oma Ara.


“Tenang saja, jika rindu pada kami pasti kami akan segera meluncur kesana. Tidak akan kami biarkan nona cantik ini tersiksa karena rindu.” Ucap Rico menghibur Rilla.


“Setiap libur sekolah pasti aku dan Rico akan mengunjungimu disana jadi jangan bersedih saat jauh dari kami.” Rian ikut menghibur Rilla, walaupun dia terlihat dingin tapi kepada saudaranya sendiri sifat dinginnya mencair.


“Ah terimakasih kalian,” Rilla berusaha memeluk Rian dan Rico namun karena tangannya terdapat selang infus, dua kakaknya yang berinisiatif memeluk dirinya.


“Uh sosweet .” Kata Oma Ara memotret mereka.


“Oma jangan merusak suasana.” Lagi-lagi Rico memancing omanya berkelahi.


Saat Oma Ara ingin menyauti ucapan Rico, seorang pelayan mengetu pintu.


Tok tok tok…


“Maaf tuan dan nyonya, di luar ada tamu yang memaksa masuk. Katanya ingin bertemu dengan Tuan Alfi dan Nyonya Cila.”


Alfi tersenyum sinis setelah mendengar laporan dari pelayannya. Tentu saja dia sudah tahu siapa tamu yang dimaksud pelayannya itu. Siapa lagi jika bukan siluman rubah yang dijuluki oleh Oma Ara.

__ADS_1


__ADS_2