Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
BAB 83 - Selesai


__ADS_3

"Bagaimana rasanya terkurung disini? Nyaman bukan?" ucap seorang wanita dengan tersenyum iba menatap wanita itu terlihat kurus dan tidak terawat.


"Untuk apa kamu datang kesini hah? Tidak puas kamu mengurung ku dalam keadaan hamil seperti ini Cila? Liat saja aku pasti akan bebas dan membalas perbuatan mu ini."


Wanita itu adalah Vely, sudah seminggu dia dikurung oleh Cila di sebuah kamar yang cukup luas.


"Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Bukan tidak puas tapi belum puas. Aku masih berbaik hati mengurung mu disini bukan di ruang bawah tanah yang pengap dan gelap jadi jangan mengeluh. Aku pikir kamu akan merenungkan kesalahan apa saja yang sudah kamu perbuat tapi ternyata tidak. Kamu masih angkuh dan sombong. Kamu pikir bisa bebas dengan mudah keluar dari sini dan siapa yang akan menyelamatkan kamu?"


"Tentu saja ayahku." jawab Vely yakin.


"Oh ayahmu, em aku lupa memberitahu jika ayahmu juga sudah tertangkap oleh anggota kakakku. Kamu tahu bukan jika Azkio itu adalah saudara kembar ku."


"Tidak, tidak mungkin ayahku tertangkap." Vely tidak percaya dengan apa yang dikatakan Cila. Sudah tidak ada harapan untuk dia bisa keluar dari tempat ini.


"Aku sarankan fokus dengan kehamilan mu dulu, kasihan bayimu jika kamu terus bersedih."


Vely menatap sinis Cila, "Fokus kehamilan katamu? Jika begitu bebaskan aku, biarkan aku pergi dari sini supaya bisa fokus dengan kehamilan ku."


"Untuk hal itu aku tidak bisa karena kamu harus mempertanggungjawabkan semua kesalahanmu setelah melahirkan. Jangan khawatir, bayimu akan aku rawat seperti anakku sendiri." Cila sudah membicarakan ini sebelumnya dengan Alfi. Jika nanti Vely melahirkan maka mereka yang akan merawat anak Vely seperti anak mereka sendiri.


"Aku tidak percaya denganmu, pasti anakku akan kalian siksa bukan? Aku tidak akan membiarkan anakku hidup bersama kalian."


"Tidak Vely, aku tidak sekejam itu. Kesalahan ada padamu bukan anakmu jadi aku tidak akan mencelakai anakmu nanti." Cila berusaha memberi pengertian supaya Vely tidak berpikir buruk padanya tapi sepertinya sangat sulit mengingat sifat Vely yang keras kepala.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak percaya dengan mu. Kamu wanita jahat, jika saja kamu beserta orang tuamu dan kakak kembar mu meninggal pasti saat ini aku sudah hidup bahagia dan anakku masa depannya baik." Vely menangis meratapi nasibnya yang selalu kalah dengan Cila.


Ada rasa tidak tega dihati Cila melihat Vely terpuruk seperti itu. Tapi jika Vely dibebaskan begitu saja pasti dia akan mencelakai Cila lagi. Masih terlihat jika Vely menyimpan dendam kepadanya.


***


"Cila ibu dan ayah serta Azkio pamit kembali ke Cina karena banyak yang harus kami selesaikan di sana. Nanti saat si kembar sudah bisa dibawa perjalanan jauh bawa mereka mengunjungi kami dan kakekmu. Pasti beliau sangat senang bisa melihat cicitnya yang tampan dan cantik." ucap Xin Qian pada putrinya.


"Baik bu, pasti nanti akan mengunjungi kalian ke sana." ucap Cila memeluk ibunya.


"Nak jaga diri baik-baik, walaupun musuh sudah tertangkap tapi bukan berarti hanya itu saja musuh kita. Bisa jadi masih banyak orang luar yang berniat mencelakai kita terutama keluarga kecilmu." Maxim Chen menasehati putrinya sebelum pergi, mengingat tidak hanya keluarganya saja yang memiliki kekuasaan tetapi keluarga suami Cila juga memiliki kekuasaan.


"Iya ayah, Cila akan lebih berhati-hati lagi. Ayah juga harus berhati-hati." kata Cila memeluk ayahnya.


"Tidak, aku malas memberikan ucapan atau nasehat." celetuk Azkio sambil menoel pipi Rilla di gendongannya.


"Kenapa kakak jadi dingin seperti es?" Tanya Cila heran menatap Azkio.


"Karena es lebih menyegarkan dari pada api." ballas Azkio singkat.


"Dia memang seperti itu Cila, jadi jangan heran." ucap Xin Qian tersenyum.


"Pantas saja masih menjomblo, sifatnya saja seperti kulkas 3 pintu." ejek Cila melirik Azkio.

__ADS_1


"Ck ck ck ternyata mulutmu pedas juga."


"Sudah jangan diteruskan. Ayo Azkio kita berangkat. Cila, Alfi dan semuanya kami pamit dan terimakasih atas jamuan yang telah kalian berikan." ucap Maxim Chen kepada semuanya.


"Tuan Maxim, kita sudah menjadi keluarga jadi jangan sungkan lagi." ucap Mami Ara sebagai perwakilan keluarga.


"Benar ayah dan semoga lancar perjalanan." tambah Alfi kepada ayah mertuanya.


Kini Xin Qian, Maxim Chen dan Azkio menaiki helikopter milik Azkio yang sudah terparkir di lapangan belakang markas Alfi.


Di dalam helikopter ada Paman Gerry, Bibi Fan dan suaminya serta Vely. Mereka ikut dibawa ke Cina untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka dan memberitahu silsilah keluarga Chen yang baru. Paman Jack, Bibi Hana dan Alin juga ikut kembali ke Cina.


Tiga helikopter sudah mengudara dan tidak terlihat lagi dari jangkauan mata.


"Jangan sedih, tunggu si kembar kuat dan kita akan mengunjungi mereka." ucap Alfi memeluk istrinya dari belakang.


"Kalo mau pacaran di kamar aja ya, jangan disini. Mata cucu-cucu mami ternodai karena ulah kalian." ucap Mami Ara menutupi mata Rilla.


"Ya ampun tante, kan mereka masih kecil mana paham." saut Anjar menggendong Riko.


"Udah Anjar jangan ikut-ikutan. Kamu baru sembuh mending diem aja, tante juga tahu kamu pasti lagi galau gara-gara ditinggal Alin." kata Mami Ara mengejek Anjar.


Terjadilah saling balas ejekan antara tante dan keponakan membuat orang disekitar mereka tertawa.

__ADS_1


Tuhan terimakasih sudah berbaik hati dengan jalan hidupku. Tidak mudah namun bisa dilakuin bersama orang-orang terdekatku.


__ADS_2