
Sore ini keluarga besar Abrian sudah berada di hotel tempat Abrian dan Keyra melangsungkan pernikahan. Narendra Hotel merupakan salah satu hotel mewah milik Paman Anjar, sepupu Tuan Alfian. Keamanan hotel di ambil alih anak buah Alfi sejak pagi hari dan dekorasi pernikahan sudah tertata rapi dan cantik. Ballroom hotel di penuhi aneka macam bunga mulai dari mawar, krisan dan tulip.
“Aku tidak menyangka jika Kak Rian membuat pernikahannya semewah ini.” Ujar Rilla melihat tempat yang akan di pakai sang kakak mengucapkan janji suci.
Rico menatap kagum sekelilingnya, mata mereka disuguhkan pemandangan seperti padang bunga dan wangi harum keluar dari bunga-bunga segar itu. Padahal beberapa hari kemarin Rian begitu santai mempersiapkan pernikahannya tapi tidak disangka akan semenakjubkan ini.
Dengan masih penuh kekaguman, Rico berkata pada Rilla, “Jangan sampai pernikahan mu kelak kalah saing dengan pernikahan Kak Rian, Rilla. Aku yakin saat ini otak mu sedang berpikir bagaimana konsep pernikahan mu suatu hari nanti.” Gampang di tebak, apa yang sedang Rilla pikirkan. Adiknya satu itu tipe orang yang tidak ingin merasa tersaingi.
Rico tersenyum mengejek melihat wajah Rilla masam, dia tahu sebentar lagi mulut adiknya akan membalas ejekannya. Benar saja tidak lama diam Rilla membuka suara, gadis itu mengeluarkan kata pedas yang ditujukan untuk Rico.
“Heii kak, aku jamin pernikahan ku kelak lebih megah dan meriah dari ini. Kau tahu bukan jika Ayah Alfi dan Ayah Azkio tidak akan membiarkan putri kesayangan mereka menikah biasa saja. Tapi sebelum mengejek ku lebih baik Kak Rico segera mempersiapakan diri. Karena setelah Kak Rian menikah maka ganti Kak Rico yang akan diberi pertanyaan oleh yang lain kapan akan menikah.” Rilla tersenyum sinis menatap sang kakak, dia ingin sekali tertawa melihat wajah pias Rico setelah mendengar perkataannya.
“Aku akan menikah paling terakhir. Jadi tunggu kau menikah dulu baru aku akan menikah. Bukankah seorang kakak harus memperhatikan masa depan adiknya dulu?” tanya Rico tersenyum menaikkan satu alisnya.
Rilla berjalan mendekati kakaknya. “Kak Rico jangan menunda jika memang sudah menemukan jodoh. Tidak baik juga jika seorang adik melangkahi kakaknya menikah dulu sedangkan sang kakak masih menyandang gelar jomblo.” Gadis itu menjawab sambil tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. Terlihat dari raut wajahnya sangat puas bisa mengejek Rico.
“Apa kalian bisa diam untuk tidak saling mengejek? Aku bosan melihat pertengkaran kalian.” Rian baru saja tida di hotel setelah menyelesaikan pekerjaan kantor untuk beberapa hari ke depan. Baru tiba di hotel dia langsung menuju ballroom untuk melihat kesiapan pernikahannya esok. Namun saat masuk matanya disuguhkan pemandangan saling ejek kedua adiknya itu.
__ADS_1
“Bukan aku yang memulainya dulu tapi Kak Rico. Dia itu seperti setan yang selalu memanas-manasi ku. Tenang saja Kak Rian, aku tidak iri ataupun kalah saing. Hanya saja pernikahann ku kelak memang harus lebih megah dari ini.” Ucap Rilla mengerucutkan bibir dan menatap Rico tajam.
Rico mendesah pelan, “Itu sama saja kau tidak mau kalah saing bukan? Hanya saja kau gengsi untuk mengakuinya.” Sebenarnya Rico tidak berniat memanas-manasi Rilla tapi karena seharian ini dia tidak ada teman berdebat ataupun bertengkar jadi merasa ada yang kurang.
Rian menatap jengan Rico, mulut adiknya satu itu memang pintar mengeles saja. “Kau itu sudah besar tapi masih suka sekali mencari keributan. Jika tidak dengan Oma Aram aka dengan Rilla dan kemarin dengan Bella. Tobat lah kau Rico.” Ujar Rian menepuk pundak sang adik.
“Sehari tanpa keributan itu hampa kak. Apalagi hari ini semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ingin mengganggu Oma Ara , aku takut di kutuk karena oma sudah sangat tua. Ingin mengganggu Bella, gadis itu irit bicara dan seperti menghindar dari ku. Untung saja tadi aku bertemu Rilla di loby jadi aku bisa mengajaknya berdebat sebentar.” Rico menyampaikan keluh kesahnya hari ini yang tidak memiliki teman ribut. Dia juga merasa tidak nyaman karena sejak kemarin Bella selalu menghindar saat berdua dengannya.
“Mungkin mulut mu terlalu tajam sehingga Bella tidak tahan dengan mu kak.” Ejek Rilla bergelayut manja di lengan Rian. “Eh iya bagaimana tidak tajam jika setiap hari selalu di asah.” Tambah gadis itu puas mengejek Rico.
“Heh sudah, aku ingin membahas untuk besok. Ayo kita ke kamar supaya lebih leluasa berbicara. Disini terlalu banyak mata mengincar informasi dari kita.” Rian memberikan kode ke kanan dan atas untuk memberi tahu kedua adiknya jika ada yang sedang memata-matai mereka.
Rico mengerutkan kening mendnegar pertanyaan Rilla. “Musuh dalam negeri bagaimana?” tanya-nya tidak mengerti.
Plukkk
Rilla memukul tangan Rico, gadis itu terlihat kesal dengan kakaknya satu ini. “Ck kenapa kau bodoh sekali sih kak? Apa IQ mu menurun akibat patah hati di tinggal Kak Rian menikah dulu?” ujar gadis itu ketus.
__ADS_1
Terjadilah perdebatan lagi anatara Rico dan Rilla. Kedua orang itu kembali adu mulut dan membuat Rian mengelus dada. ‘Andai kalian bukan adikku pasti sudah dari dulu aku buang ke laut atau aku kirim ke pluto.’
“Kalian bisa diam tidak?” tanya Rian menatap tajam keduanya.
“Tidak!”
Di sisi lain sebuah kapal militer baru saja bersandar di dermaga pinggir kota. Seorang pria yang di duga pemimpin rombongan mempersilahkan anak buahnya keluar. Terlihat ada 30 orang berpakaian santai keluar dari kapal dengan membawa ransel yang tidak terlalu besar. Wajah mereka datar dan menyeramkan. Salah seorang dari mereka keluar paling terakhir dan menghampiri pemimpin rombongan.
“Apakah jarak dari sini ke lokasi jauh, Lay? Jika tidak aku ingin ke sana lebih dulu bersama Rezan. Ada pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan tapi jaringan di sini cukup susah.” Tanya pria itu menatap sekelilingnya, perkampungan nelayan yang sudah lama tidak di tempati.
Pria bernama Lay membuang rokoknya dan menggelengkan kepala. “Sebenarnya tidak jauh, hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit saja. Akan tetapi kamar yang kita pesan baru bisa di masuki pukul 7 malam mengingat semalam kita tiba pukul 1 dini hari jadi anak buah ku baru mengecek tadi pagi. Kau berniat mengerjakan tugas kantor atau menguntit gadis itu? Berhati-hatilah karena semalam pintu dermaga di jaga ketat oleh petugas. Karena itu aku baru memutuskan menepi sore hari.
“Menguntit? Aku tidak bodoh untuk melakukan itu. Alangkah lebih aman menatapnya dari kejauhan tanpa mengikuti.”
‘Andai Bril tidak membenci ku dan keluarganya tidak menghalangi ku bertemu dengan gadis itu. Pasti ku tidak perlu repot-repot melakukan hal nekat seperti ini’ – pikir Edran menatap lautan di depannya.
Lay seperti tahu apa yang sedang Edran pikirkan. “Jangan sesali apa yang sudah terjadi, gadis itu sedari awal milik mu jadi tidak salah jika saat ini kau memintanya untuk kembali. Jika kau berhasil mendapatkan gadis itu tidak hanya organisasi perlindungan yang kau dapatkan tapi akses masuk Labroratorium AcO juga mudah. Dengan begitu bisnis penujualan obat kita akan sekain besar dan tidak perlu takut di serang musuh karena gadis mu itu cucu sekaligus pewaris organisasi perlindungan itu.” Ucap Lay membuat Edran menatap tajam dirinya.
__ADS_1
“Sudahlah Ed, sudahi munafik mu. Itu sudah tidak berguna lagi, sedari awal kau memang tidak menyukai Bril karena menganggap Bril hanya anak adopsi Tuan Sharga. Tapi setelah semua terbongkar kau beru menyesalinya, tambang emas mu sudah hilang.”
“Hahaaa… Akhirnya ada yang tahu tentang diriku. Kau hebat Lay, padahan Rezan saja tidak mengetahui semua ini. Ya memang benar jika Bril tanpa kekuasaan mana sudi aku mengejarnya. Aku hanya ingin memiliki seorang wanita yang hebat dan kekuasaannya luas. Ako bosan menjadi pengusaha sok bersih seperti papa. Jika saja papa mau menggunakan cara kotor pasti perusahaan saat ini bisa bertambah besar.” Inilah sisi Ed yang sebenarnya, dia memang bukan pria baik. Melainkan pria jahat yang berkodok seperti malaikat.