Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Abrico dan Abrilla POV


__ADS_3

Abrico POV


Hari ini mengunjungi salah satu bisnis milikku, Laboratorium AcO. Tempat dimana aku menyalurkan bakat yaitu membuat penemuan baru mulai dari racun, obat-obatan dan barang khusus lainnya. Laboratorium ini sudah lama aku dirikan di atas tanah milik keluarga dari Oma Rena. Dimana lagi tempatnya jika bukan halaman luas samping rumah mewah Keluarga Andara.


"Tumben kau datang kesini pagi-pagi. Biasanya malam hari. Ada apa?" Amoz pria kepercayaan ku ini menatap heran kedatanganku. Tapi tangannya sibuk meracik sesuatu berwarna ungu pekat. Aku yakin itu sesuatu yang menarik dibuatnya.


"Aku membutuhkan bantuan mu. Apa kau sedang membuat racun baru?" Kulihat di layar komputer bahan apa saja yang terkandung di racikan Amoz.


"Ya ini racun baru tapi aku belum mengujinya langsung. Tidak ada objek yang bisa menjadi bahan percobaan." Amoz memasukkan cairan yang sudah berubah menjadi warna ungu terang itu pada botol berukuran 20ml. Lalu sisanya dia campur dengan bahan lain.


"Cairan itu mengandung obat bius dosis tinggi yang kau campur dengan cairan perusak fungsi organ dalam bukan? Dan satunya kau ingin membuatnya jadi cairan peledak." Rico kagum dengan berbagai cairan hasil racikan tangan Amoz karena tidak satupun cairan itu gagal saat di coba.


"Tentu saja, pil peledak yang aku buat sudah dikenal di pasaran. Jadi aku ingin membuat sesuatu yang baru dan tidak membuat musuh curiga. Oh ya tadi kau butuh bantuan apa?" Sambil mengaduk cairan hitam kecoklatan Amoz menunggu jawabanku.


Aku mendudukkan bokongku di kursi samping Amoz. "Aku membutuhkan beberapa anggota kita untuk ditempatkan di pernikahan Kak Rian. Ini untuk berjaga-jaga apabila musuh melakukan serangan dadakan. Dan kau yang akan memimpin mereka disana. Kau tentu tahu apa yang harus disiapkan bukan?"


Amoz mengangguk, tentu saja dia tahu maksudku. Sudah 5 tahun kami berteman dan menjadi partner kerja laboratorium milikku. Dia sudah hapal apa yang harus disiapkan jika sudah membicarakan tentang musuh.


"Apa tamu yang hadir banyak?" tanya Amoz telah menyelesaikan racikan terakhirnya.

__ADS_1


"Iya tentu saja karena kami juga menjalankan rencana lain. Oleh karena itu aku meminta bantuan mu. Bisa dikatakan ini rencana rangkap, selain menangkap mangsa kami juga berjaga-jaga jika musuh lain datang." Jelas singkat Rico dengan memberikan kertas berisi apa saja tugas utama Amoz di sana.


"Besok kau dan yang lain sudah bersiap disana untuk memastikan semuanya aman. Berpakaian lah seperti bagian keamanan supaya tidak ada yang mencurigai kalian." Tambah Rico sambil memikirkan beberapa hal lain.


Amoz membaca tulisan di kertas itu. "Sepertinya kali ini tangkapan besar. Terlihat persiapan sangat terjaga ketat." Ujar Azom melihat teliti keseluruhan titik penyebaran anak buahnya.


"Tentu saja, iblis bermuka dua itu tangkapan sangat besar dan tidak mudah untuk disingkirkan. Ingat jangan sampai ada yang terlewat."


"Siap bos... "


Abrilla POV


Rilla memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia butuh pelampiasan karena semalam anak buahnya menyampaikan kabar tak mengenakkan.


Tiba Rilla di sebuah hotel mewah, kedatangannya disambut oleh seorang wanita berkacamata hitam. Wanita itu membukakan pintu untuknya.


"Bagaimana persiapan? Aku tidak mau ada kegagalan. Pasukan mana yang kau bawa Zee?" Aku berjalan masuk ke hotel bersama Zee disebelah ku. Terdengar bisik-bisik karyawan hotel memuji diriku tapi aku juga mendengar ada yang sedang menggunjing tentangku. Hah baik kali ini aku biarkan dia berkata semaunya karena ada urusan yang lebih penting dari pada meladeni wanita berbedak tebal itu.


"Menjawab Nona, persiapan sudah selesai dan malam nanti kami beraksi. Aku membawa pasukan X02, X04 dan X06. Mereka berjumlah 20 orang dengan 3 orang pemimpin masing-masing kelompok." Zee terlihat tenang dan yakin dalam menjawab pertanyaan Rilla.

__ADS_1


"Bagus, aku senang mendengarnya." Sampai disebuah kamar yang paling luas aku masuk begitu saja. Terlihat beberapa orang sedang merakit senjata kesayangan mereka dan sebagian menumbuk daun berwarna hijau. Aku tersenyum melihat mereka tidak lupa membawa daun itu.


Melihat kedatangan ku mereka memberi hormat kemudian melanjutkan kegiatan. "Target mendekat?" tanyaku pada Zee.


"BM0100."


"Kau yakin?"


"Yakin Nona, mata-mata kita yang mengabari tadi."


"Posisi sekarang?"


"Air luas, jarak jauh."


Aku mengangguk paham, ya aku dan Zee menggunakan kode setiap bertanya dan menjawab. Kode tidak sulit hanya kadang tidak semua orang paham.


"Jalankan sesuai intruksi ku semalam. Ini akan menambah kemudahan untuk kalian." Aku memberikan secarik kertas pada Zee, dia mengangguk paham.


"Ya sudah aku pergi dulu, beri kabar jika mengalami kendala." Aku meminta daun hijau yang B sudah mereka tumbuk tadi. Tidak banyak hanya 5 bungkus saja.

__ADS_1


"Jaga diri kalian baik-baik." ucapku sebelum melangkah pergi.


__ADS_2