Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
BAB 55 - Melamar


__ADS_3

Sudah 3 hari Zay uring-uringan baik dirumah maupun dikantor, Alfi sampai pusing memperhatikan tingkahnya.


"Lo bisa fokus ngak sih Zay? Kalo ada masalah jangan Lo bawa ke kerjaan dong." Alfi memegang pelipisnya mengingat tadi hampir saja mereka kehilangan proyek besar akibat Zay salah melakukan presentasi.


"Sorry Fi, lain kali ngak bakal kejadian gini lagi bener deh." ucap Zay meminta maaf.


"Lo tuh kenapa beberapa hari ini ngk serius kerja beda dari biasanya? Mikirin Ayunda loh? Makanya cepet kasih kepastian. Kalo mau ya lo lamaran secepetnya kalo ngak bilang ngk."


Alfi menyadari jika Zay pasti sedang memikirkan pertanyaan Mami Ara yang pernah dia dengan dari Anjar. Sebagai seorang kakak tentunya dia juga ingin melihat Zay secepatnya menikah.


"Iya iya nanti malem gue bakal ke rumah Ayunda, gue bakal langsung ngelamar dia." Zay sudah memikirkan beberapa hari ini tentang perasaannya kepada gadis kecilnya itu dan nanti malam dia berencana akan melamar langsung Ayunda.


"Nah gitu dong, semoga Ayunda masih mau nerima lo ya." Ledek Alfi sambil terkekeh.


Zay mendengus kesal,


"Gue yakin pasti mau." jawab Zay yakin.


***


Sore telah berganti malam dan saat ini Keluarga Alfi bersiap pergi ke rumah Ayunda. Mami Ara adalah orang yang paling sibuk saat mendapatkan kabar dari Alfi jika Zay berencana melamar langsung Ayunda malam ini. Mami Ara langsung menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke rumah Ayunda dengan bantuan Cila.


"Aduh Zay mami ngak nyangka kalo kamu bakal langsung ngelamar Ayu. Ternyata kamu gerak cepat juga yaa." Ucap Mami Ara dalam perjalanan kerumah Ayunda.


"Takut diambil Anjar kali mi, makanya gerak cepat." celetuk Alfi melirik Zay yang sedang menyetir mobil sedangkan yang dilirik hanya diam saja tanpa menjawab.


"Gitu kemarin sok jual mahal katanya ngak suka eh taunya kecantol juga kan." ujar Mami Ara meledek Zay.

__ADS_1


"Semoga lancar ya acara malam ini dan semoga Ayu nerima lamaran Zay." kata Cila sambil tersenyum.


"Aamiin... "


Tidak terasa akhirnya mereka sampai di rumah keluarga Ayunda. Zay terlihat sangat gugup saat melihat rumah gadis kecil yang akan dia lamar malam ini.


"Heh ayo masuk Zay, kenapa malah berdiri disitu? Kamu kok tangannya dingin banget sih." Mami Ara menarik tangan Zay yang berdiri mematung disamping mobil.


Zay mengikuti langkah kaki Mami Ara dan ternyata kedatangan mereka sudah disambut oleh Mamanya Ayu.


"Akhirnya yang ditunggu datang juga."


Mami Ara mendekati mamanya Ayu dan membisikkan sesuatu.


"Ayu dirumah kan?"


"Oke bagus,"


Zay memicingkan mata melihat kedua wanita paruh baya itu berbisik.


"Mami bisik-bisik apa?"


Mami Ara menggelengkan kepala tanpa menjawab apapun menggandeng tangan Zay masuk ke dalam rumah. Alfi dan Cila mengikuti mereka dari belakang.


Sampai di dalam sudah terhidang beberapa makanan dan minuman. Tuan rumah mempersilahkan mereka duduk sembari menunggu Ayu turun kebawah.


Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki ditangga, ternyata itu Ayu.

__ADS_1


"Ayu sini sayang, ini tamu kita malam ini." Ayu terkejut melihat kedatangan Zay dan keluarganya.


Ayu duduk duduk disamping mamanya dan berhadapan dengan Zay.


"Gimana kabar kamu Ayu? Kok ngak pernah main ke rumah mami?" tanya Mami Ara.


"Kabar Ayu baik mi, maaf Ayu baru pulang dari luar kota jadi belum bisa main ke rumah mami." jawab Ayu sambil tersenyum.


Mereka berbincang sejenak lalu Alfi selaku perwakilan dari keluarga Zay mulai ke inti pembicaraan.


Alfi mengutarakan maksud dan tujuan mereka datang ke rumah Ayunda yaitu untuk melamar Ayunda untuk Zay. Mama Ayunda dan Mami Ara terlihat begitu senang berbeda dengan Ayu yang masih mematung mencerna perkataan Alfi.


Melihat Ayu seperti itu Zay tiba-tiba berdiri dan mendekati Ayu. Tiba-tiba Zay mengeluarkan cincin dari saku celananya dan diarahkan kepada Ayu lalu berkata,


"Hei gadis kecil, dulu aku memang tidak menyukai keberadaanmu, selalu menganggapmu pengganggu dan selalu menghindar saat bertemu denganmu. Tapi semenjak pertemuan kita terkahir kali aku menyadari bahwa keberadaanmu yang membuat hatiku berdebar. Aku tidak bisa melihatmu dekat dengan pria lain dan tentunya aku selalu memikirkanmu. Maaf aku tidak bisa seromantis pria lain tapi percayalah aku sangat ingin menjadikanmu pendamping hidupku. Jadi maukah kamu menikah denganku?"


Ayu menganga mendengar penuturan Zay, pria dingin yang dulu sangat menghindari dirinya malam ini melamarnya.


"Apakah lamaranku ditolak?" tutur Zay terus memperhatikan wajah gadis kecilnya. Wajah Ayu bersemu merah seperti kepiting rebus.


"Ya, aku mau menjadi pendamping hidupmu." jawab Ayu lirih namum masih bisa didengar oleh mereka semua.


"Yesss," Zay berjingkrak senang mendengar jawaban dari Ayu. Dia yang biasanya mode dingin sekarang mode mencair.


Mami Ara langsung memeluk mamanya Ayu yang sebentar lagi menjadi besannya. Cila tidak kalah senang melihat adik iparnya sudah menemukan tambatan hati. Sama halnya dengan Alfi terlihat ada rasa lega dihatinya bisa ikut berperan dalam lamaran Zay yang sudah seperti adik kandungnya.


Mereka kembali duduk dengan tenang dan langsung membahas kapan pernikahan Zay dan Ayu diadakan. Baik Zay dan Ayu menyerahkan semua urusan pernikahan ke mami dan mama mereka. Dan telah diputuskan pernikahan akan diadakan 2 minggu lagi, lebih cepat lebih baik, itu ucap Mami Ara.

__ADS_1


__ADS_2