
“Apa maksudmu Fen? Kecewa?” Kata Tuan Maxim menatap tajam Bibi Fen.
“Ya aku kecewa, Kau tahu kak jika aku bukan anak kandung ayah dan kau tahu aku mencintaimu tapi kenapa kau tetap memperlakukan aku sebagai adik? Tidak bisakah kau memberikan aku kesempatan untuk menjadi pasanganmu?” Ucapan Bibi Fen membuat banyak orang terkejut termasuk Paman Gerry.
“Fen, mengapa kau tidak memberi tahu aku jika kau bukan anak kandung ayah?” Tanya Paman Gerry merasa kecewa pada adiknya.
“Maaf kak, itu semua aku lakukan supaya bisa terus dekat dengan kak Maxim.” Jawab Bibi Fen terisak.
“Bukankah kau sudah tahu jika aku tidak mencintaimu sama sekali Fen dan ada alasan yang paling membuatku tidak akan pernah menyukaimu. Kau tahu apa? Ibumu, ibu kalian lah yang sudah membunuh ibuku.” Ucap Tuan Maxim menatap sinis Bibi Fen dan Paman Gerry.
“Tidak, tidak mungkin kak.” Geleng Bibi Fen tidak percaya.
“Apanya yang tidak mungkin Fen, aku sudah memiliki bukti rekaman percakapan Gerry dengan orang kepercayaannya jika memang ibu kalian lah yang membuat ibuku meninggal dunia. Kalian memang tidak tahu di untung terutama kau Gerry. Kau itu sudah dirawat dan dibesarkan baik oleh ayahku tapi kau juga penyebab ayahku kecelakaan. Kau yang mengirimkan orang untuk membuat mobil yang ditumpangi ayahku hilang kendali bukan?” Ucap Tuan Maxim menatap Paman Gerry yang terkejut.
“Bagaiamana kau bisa tahu?” Tanya Paman Gerry tidak menyangka jika kejahatannya terbongkar juga.
Tuan Maxim tertawa dan kemudia berkata, “Itu tidak penting yang jelas kau dan ibumu itu sama saja. Kalian sama-sama pembunuh.”
“Jangan bawa-bawa nama ibuku Maxim, ya akulah yang sudah membunuh ayahmu dengan memerintahkan seseorang untuk menyabotase mobilnya. Itu aku lakukan karena dia mewariskan seluruh kekayaannya dan organisasi Black Star kepadamu, aku dan Fen hanya mendapatkan sedikit bagian saja. Terlebih saat itu aku tidak tahu jika Fen bukan anak kandung ayahmu, jadi aku berpikir jika ayahmu terlalu pilih kasih.” Jawab Paman Gerry mengakui kejahatannya.
“Kau terlalu serakah Gerry sudah baik masih mendapatkan bagian tapi masih saja tidak terima. Dan kau Fen, sudah baik aku masih mau menampung hidupmu dan kakakmu walaupun kita tidak ada hubungan darah sama sekali tapi kau juga masih melakukan hal buruk kepada putriku. Akibat ulahmu aku dan Xin Qian harus berpisah jauh dengan putriku. Puas kau Fen melihat putriku sempat menderita akibat ulahmu?” Kata Tuan Maxim menatap Bibi Fen tertunduk.
Bibi Fen mengangkat kepalanya dan menatap Tuan Maxim.
“Ya aku cukup puas, aku awalnya ingin merawat putrimu karena aku sanagt mencintaimu namun wajah putrimu sangan mirip dengan Xin Qiang, wanita yang sangat aku benci. Karena dia, Kak Maxim malah semakin menjauh dariku. Oleh karena itu saat aku pindah ke Indonesia aku meminta anak buahku membuangnya tapi ternyata aku salah, putrimu malah dibesarkan oleh keluarga kaya raya dan hidupnya juga ternyata sangat dengan ku terutama putriku. Hahaa….” Bibi Fen tertawa puas mengingat kisah kelamnya dulu.
Srettt
“Ahhhh…”
Bibi Fen berteriak saat lengannya tergores pisau kecil hingga mengeluarkan darah segar.
“Sakit Fen? Sakit itu tidak seberapa dengan sakit yang aku alami Ketika harus berpisah dengan putriku.” Ternyata yang melempar pisau itu adalah Nyonya Xin Qian. Awalnya dia tidak ikut camput saat suaminay membongkar kejahatan Paman Gerry dan Bibi Fen tapi dia geram mendengar alasan Fen membuang putrinya yang tidak bersalah.
__ADS_1
“Xin Qian, aku sangat membencimu. Karena dengan adanya kamu hidupku tidak bahagia.” Teriak Bibi Fen menatap Nyonya Xin Qian.
“Kau tidak bahagia bukan karena aku Fen tapi karena kebodohanmu sendiri yang terlalu dibutakan oleh cinta dan ambisi. Lihatlah sekarang tidak hanya kau saja tapi putrimu jua sama, dia sangat berambisi. Bedanya kau berambisi untuk mendapatkan suamiku sedangkan anakmu berambisi untuk menguasi Black Star yang jelas-jelas bukan haknya.” Ucap Nyonya Xin Qian menatap jijik Bibi Fen yang selalu berusaha mendekati suaminya.
Saat mereka sedang fokus memperhatikan Bibi Fen dan Nyonya Xin Qian, di ujung sana Vely meraih pistol yang tidak jauh dari jangkauannya. Vely berniat menembak Cila yang sedang menggendong bayinya.
Dor…
“Ahhhh sakit..”
Ternyata sebelum Vely melepaskan tembakan, sudah lebih dulu peluru menggores tangannya.
“Belajar terlebih dahulu menembak jika ingin tidak gemetar saat memegang pistol.” Rupanya Azkio yang telah melukai tangan Vely denga pistolnya.
“Beraninya kau melukai putriku?” Bibi Fen tidak terima melihat Vely terluka.
“Aku hanya melukai orang yang memang pantas dilukai.” Jawab Azkio acuh.
Kini Tuan Maxim berjalan lebih dekat pada Paman Gerry dengan tatapan suli dirtikan.
“Menurutmu apa yang akan aku lakukan padamu Gerry? Ohh ternyata keponakanmu sedang hamil besar juga ya?” Kata Tuan Maxim menatap Vely.
“Jangan lakukan apapun padanya Maxim, dia sedang hamil besar.” Pinta Paman Gerry memegang perut Vely.
“Paman jangan sakiti aku, bukankah aku juga keponakanmu?” Ucap Vely memelas.
“Sejak kapan kamu menjadi keponakanku hah? Jika kamu memiliki sifat yang baik mungkin aku masih bisa menganggapmu sebagai keponakanku tapi sifatmu sama jahatnya seperti ibu dan pamanmu.” Jawab Tuan Maxim menatap vely menangis ketakutan.
“Kak Maxim tolong jangan sakiti putriku, dia tidak salah apapun kak.” Bibi Fen memohon supaya Vely dilepaskan.
Tuan Maxim menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Bibi Fen.
“Tidak salah apapun katamu? Gara-gara dia putriku sempat hidup tersiksa Fen dan putriku sempat dipermalukan di depan banyak orang. Aku tidak terima putriku diperlakukan seperti itu.” Ucap Tuan Maxim dengan keras.
__ADS_1
“Maxim tolong jangan sakiti Vely, tidak baik melakukan hal keji pada wanita hamil.” Kata Paman Gerry melindungi Vely.
Tuan Maxim tertawa mendnegar perkataan Paman Gerry.
“Hahaha, bukankah kau juga melakukan hal yang sama dengan istriku saat dia sedang hamil besar Gerry?” Ujar Tuan Maxim mengingat kejadian 23 tahun yang lalu.
Paman Gerry terdiam mendangar ucapan Tuan Maxim. Dia teringat saat dia melakukan pemabantain di markas membuat banyak nyawa hilang bahkan Xin Qian mengalami pendarahan akibat dia menendang perutnya.
“Maafkan aku Maxim, aku benar menyesal. Tolong jangan lakukan itu pada kami terutama Vely.” Pinta Paman Gerry melindungi perut vely, dia takut Maxim melakukan hal sama seperti yang dia lakukan pada xin Qian dulu.
“Ayah, biar Vely menjadi urusan Cila. Urusan ayah hanya dengan Paman Gerry dan Bibi Fen saja.” Teriak Cila yang tidak mau melihat ayahnya menyakiti Velyyang sedang hamil besar.
“Baiklah nak, ayah juga tidak mungkin melakukan hal keji sperti yang Gerry lakukan pada ibumu. Jika ayah melakukan hal seperti itu, apa bedanya ayah dengan dia.” Tunjuk Tuan Maxim pada Paman Gerry.
“Alin bawa Vely ke markas.” Ucap Cila dan langsung diangguki oleh Alin.
Anak buah Alin langsung mendekati Vely dan membawanya pergi dari situ.
“Tidak jangan bawa ku, lepaskan aku. Jangan sakiti mama dan pamanku Cila.” Vely memberontak karena berusaha melepaskan diri dari anak buah Alin.
“Vely jangan perdulikan kami, kamu harus baik-baik saja sayang.” Ucap Bibi Fen menatap keprgian Vely.
***
Hai Reader's
Maaf baru bisa up 🙏🙏
2 hari kemarin aku sakit sampai berat badan aku turun banyak. Alhamdulillah hari ini udah mendingan jadi bisa up.
Maaf yaa buat yang mantengin cerita aku baru bisa up sekarang 🙏🙏
Jangan lupa Like, Komen dan Kasih bintang 5 yaa 🙏🙏
__ADS_1
Makasih dan jangan lupa jaga kesehatan 🙏🙏