Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
BAB 40 - Cila Pingsan


__ADS_3

Di butik Mami Ara terlihat Cila sedang bermalas-malasan. Entah mengapa dia merasa sangat lemas sekali hari ini. Mila juga heran melihat Cila yang biasanya sangat bersemangat hari ini seperti kucing malas.


Saat sedang berbaring di sofa bersama Mila yang sedang memijat kepala Cila, mereka dikejutkan dengan Dela yang masuk tanpa berkata apa-apa.


"Nona Cila ada yang mencari nona diluar." kata Dela yang masih ngos-ngosan.


"Siapa Del?" tanya Cila yang masih santai berbaring malas.


"Seorang pria nona." jawab Dela.


Kening Cila mengkerut.


"Mas Alfi ya?"


"Bukan nona. Jika pak bos yang datang pasti langsung masuk kesini. Ini seorang pria dengan tampilan acak-acakan dan memanggil-manggil nama nona. Sebaiknya nina keluar untuk melihat siapa orang itu. Takutnya dia malah membuat kekacauan." kata Dela memberi saran.


"Ya baiklah. Ayo kalian tolong bantu aku berdiri, aku sebenarnya sangat malas sekali untuk turun kebawah." kata Cila dengan lesu.


Maya dan Dela membantu Cila berdiri.


"Nona kenapa anda sangat berat sekali dan lihat jari-jari tangan anda telihat lebih besar dari kemarin-kemarin." Dela sambil memegang tangan Cila sebelah kanan.


"Kamu mengatai aku gendut Del?" kata Cila melirik Dela.


"Tidak nona, aku hanya bertanya kenapa nona sensitif sekali?" jawab Dela tersenyum.


Maya terkekeh mendengar jawaban Dela sedangkan Cila hanya membangunkan bibirnya.


Sampai dibawah terlihat seorang pria berpenampilan acak-acakan memanggil-manggil nama Cila.


"Apa itu pengemis ya Del?" kata Cila tidak mengenali pria itu.


"Jika pengemis tidak mungkin berani masuk kesini dan tahu nama anda nona. Kecuali anda mempunyai kenalan seorang pengemis." ucap Dela kepada Cila.


"Iya benar juga ya. Tapi dia itu siapa ya?" Cila berusaha mengingat pria itu.


"Daripada nona asal menebak lebih baik datangi saja. Ayo nona." kata Maya menarik Cila mendekati pria itu.


Cila mendekati pria itu yang terduduk dilantai memanggil-manggil nama Cila. Dia dipegangi 2 orang satpam.


"Nona orang ini tidak mau keluar dari sini padahal sudah kita paksa tapi dia memberontak." Salah satu satpam langsung memberi tahu kepada Cila.

__ADS_1


"Sudah berapa lama dia disini pak?" tanya Cila sambil memperhatikan pria itu sedang menunduk.


"Sudah 30 menit bu." jawab pak satpam.


Pria ini mendongak ke atas mendengar suara wanita yang dia cari.


"Cila Cila."


Cila terkejut melihat wajah pria didepannya itu.


"Dika kenapa kamu bisa seperti ini?"


Ya pria itu adalah Dika mantan kekasih Cila.


"Cila aku merindukanmu." Dika berdiri dan tersenyum memandang Cila.


"Tidak seharusnya kamu datang kesini. Pulanglah sana kasihan Vely pasti mencarimu." ucap Cila kepada Dika.


"Cila, aku dan Vely sudah tidak ada hubungan apapun. Aku sudah menceraikannya dan aku sudah mengusir Vely untuk pergi jauh dari hidupku. Jadi kita bisa kembali bersama seperti dulu lagi sayang." Dika yang sepertinya dalam keadaan mabuk berusaha mendekati Cila.


"Stop. Berhenti disitu Dika. Aku mual dengan aroma alkohol dan rokok pada tubuhmu." Cila menutup hidungnya dan menghentikan langkah Dika mendekati dia.


"Cila aku ingin memelukmu sayang. Kembalilah kepadaku, aku sangat mencintaimu." Dika memandang Cila dengan tatapan sayu.


"Tidak Cila, kebahagiaan ku bersama dirimu. Ayolah kembali kepada ku. Aku janji tidak akan menyakiti kamu lagi sayang." Dika tidak kembali mendekati Cila dan dengan cepat memeluk tubuh Cila.


Maya, Dela, pak satpam dan beberapa karyawan terkejut melihat tingkah nekat Dika. Mereka berteriak melihat nona mereka pucat. Untung saja butik ditutup sementara akibat Dika yang tidak ingin keluar dari butik itu.


"Dika lepaskan aku, aku mual Dika." Cila meronta-ronta minta dilepaskan.


Maya, Dela dan pak satpam mencoba melepaskan Cila yang berada dipelukan Dika. Tapi pelukan Dika begitu erat membuat mereka sulit melepaskan Cila.


"Kamu hanya milikku Cila dan orang lain tidak boleh memiliki kamu." Dika tidak memperdulikan Cila yang sudah menangis di pelukannya.


"Diak tolong lepaskanlah aku, aku sangat mual. ucap Cila memohon dan mulai kehilangan kesadaran.


Tiba-tiba saja seseorang datang memukul punggung Dika dan itu membuat pelukan Diak melonggar. Cila yang sudah tidak sadarkan diri terperosok kebawah. Untung saja ada tangan kekar menangkap tubuhnya.


"Cila bangun sayang. Sayang maafkan aku yang datang terlambat."


Ternyata pria itu adalah Alfi, suami Cila.

__ADS_1


Alfi langsung mengangkat tubuh Cila membawanya ke ruangan Cila diikuti Maya dan Dela. Sedangkan Dika mencoba mengejar Cila yang digendong oleh Alfi tapi tidak bisa karena Zay dan Anjar langsung memegangi tangannya.


"Ikat dia di kursi itu." pinta Anjar pada salah satu bodyguard.


Dika diikat oleh bodyguard pada sebuah kursi. Dia marah dan berusaha melepaskan diri.


"Kamu membangunkan singa yang sedang tidur Dika." ucap Zay menatap tajam Dika.


"Aku tidak takut kepada singa itu. Cila adalah milikku dan tidak ada orang lain berhak mendapatkan Cila." ujar Dika kekeh.


Anjar tertawa mendengar ucapan Dika.


"Itu hanya dalam mimpimu saja."


"Sudah jar kita ke atas dulu saja. Kalian jaga dia jangan sampai kabur." perintah Zay kepada 4 orang bodyguard.


"Baik tuan." jawab mereka serempak.


Zay dan Anjar naik ke atas tempat ruang kerja Cila. Sampai di dalam Cila terlihat belum sadar.


"Fi udah telpon dokter belum?" tanya Anjar.


"Udah sebentar lagi dokter datang." jawab Alfi.


Zay melihat ke arah Mila dan Dela yang berdiri disamping sofa.


"Ada apa dengan penampilan kalian berdua?" tanya Zay menahan tawa.


Mila da Dela langsung melihat penampilan mereka sendiri. Kaki tanpa sepatu alias nyeker, rambut berantakan, pipi Mila sedikit lebam, tangan Dela ada bekas gigitan.


Anjar dan Alfi ikut melihat penampilan Mila dan Dela. Jika Alfi masih dalam mode khawatir karena Cila belum sadari tapi Anjar langsung tertawa.


"Em ini karena pria gila itu tuan. Dia seperti anjing gila yang suka menggigit sembarangan." ucap Dela mengingat Dika menggigit tangannya saat ingin menghentikan Dika ingin mencium pipi Cila.


"Benar tuan, pria barbar itu sangat ganas karena menjadikan saya seperti samsak." tambah Mila mengingat saat Dika asal menonjok tanpa melihat siapa yang dia tonjok.


"Lalu Kalian kenapa tidak menggunakan sepatu?" tanya Anjar melihat kaki mereka.


"Tadi sepatunya kami gunakan untuk memukul tubuh pria gila tadi tuan tapi malah tidak berefek apapun malah hak sepatu kami yang lepas." jawab Mila jujur.


Antara ingin tertawa dan kasihan itu yang dirasakan Zay.

__ADS_1


"Ya sudah kalian obati dan perbaiki penampilan kalian dulu." ucap Alfi kepada Mila dan Dela.


__ADS_2