Perjuangan Cinta Beda Kasta

Perjuangan Cinta Beda Kasta
Penekanan Dari Julian


__ADS_3

Setelah Dinda berganti pakaian Alex pun melanjutkan perjalanan mereka dan sekali ini Alex berhenti di sebuah tempat makanan siap saji


"Den Alex mau beli apa? biar saya yang turun den"


Alex pun menatap ke arah Dinda sambil tersenyum hangat


"Kamu tunggu di sini aja, biar aku yang turun ya." ucap Alex dengan lembut


Alex pun segera turun dari dalam mobilnya, dari dalam mobil Dinda bisa melihat Alex memesan beberapa makanan dan minuman


"Kenapa den Alex jadi berubah gini ya? tapi bagus juga deh, saat ini aku lagi ga pengen liat muka dingin dia." gumam Dinda


Alex pun segera kembali setelah apa yang dia pesan siap, dan memberikan sebuah minuman hangat kepada Dinda


"Terima kasih den"


Alex hanya menjawab dengan senyuman hangat, dan Dinda pun hanya bisa melihat Alex dengan tatapan mata yang semakin bingung. Alex melanjutkan kembali perjalanan mereka dan mulai menghentikan mobilnya di depan sebuah taman untuk menghabiskan waktu


"Sekali lagi aku minta maaf ya, aku ga sangka Valen bisa bertindak sejauh itu"


"Ya itu juga kan karena den Alex, aku kan udah bilang turunin aku di lampu merah aja. Tapi den Alex ga mau dengar"


"Aku kan udah minta maaf, jadi aku harus gimana lagi?" tanya Alex dengan wajah yang terlihat bersedih


"Kenapa den Alex kelihatan lebih sedih dari pada aku? yang seharusnya sedih sekarang kan aku, ga akh ga mungkin. Ini pasti karena den Alex merasa bersalah"


Dinda mencoba menghindari apa yang ada di dalam benaknya saat itu walaupun sudah pasti Alex mulai menunjukkan itu semua dengan jelas, sepanjang waktu Alex terus berusaha untuk membuka pembicaraan dengan Dinda. Dia hanya mau Dinda benar-benar tak mengingat kejadian yang baru saja menimpa dirinya


Alex sempat menerima sebuah panggilan telepon dan Alex mengatakan posisi mereka saat itu, tak selang berapa sebuah mobil berhenti tak jauh dari mobil Alex


Ternyata Julian adalah orang yang turun dari mobil yang baru saja berhenti di dekat mobil Alex, dan Julian terlihat mulai menatap ke arah mobil Alex. Entah mengapa hati kecil Alex tak ingin Julian mendekati mobilnya, dia pun langsung menatap ke arah Dinda


"Kamu tunggu di sini sebentar ya"


Alex pun segera turun dari mobilnya dan menghampiri Julian, dari dalam mobil Dinda bisa melihat bahwa Julian mengantarkan tas milik Dinda. Dan tanpa perasaan sama sekali Alex langsung meminta Julian untuk pergi


Waktu pun terus berlalu tanpa terasa langit di atas sana pun mulai berubah warna yang menandakan bahwa hari sudah mulai menjelang sore, Dinda pun sudah terlihat jauh lebih tenang karena tak ada lagi air mata yang keluar dari mata indahnya


"Kamu udah tenang?"


"Ya den"

__ADS_1


"Berarti kita udah bisa pulang ya?"


Dinda hanya terdiam sambil menatap ke arah Alex dengan serius seperti hendak mengatakan sesuatu


"Kenapa? apa kamu masih mau di sini?"


"Bukan den," jawab Dinda dengan cepat


"Terus kamu kenapa?"


"Tolong rahasiakan masalah tadi dari orang tua saya ya den, saya cuma ga mau kalau sampai kedua orang tua saya jadi sedih kalau tau kejadian tadi." ucap Dinda dengan lirih


Alex pun meletakkan tangannya di ujung kepala Dinda dengan lembut sambil tersenyum hangat


"Kamu tenang aja ya, aku janji ga akan bilang masalah ini sama orang tua kamu"


"Terima kasih ya den"


"Kita pulang ya"


Dinda pun menjawab dengan anggukan kepalanya, dan Alex mulai melajukan mobilnya kembali ke kediaman keluarga Wijaya. Saat sudah hampir tiba di kediaman mereka Dinda pun meminta untuk menurunkan dirinya terlebih dahulu


"Kenapa?"


Dengan berat hati Alex pun menyetujui keinginan Dinda pada saat itu, dan sudah pasti Alex tiba di kediaman keluarga Wijaya terlebih dahulu karena Dinda harus berjalan kaki dari depan jalan raya


Tetapi yang Alex lakukan saat itu adalah tetap dengan setia menunggu Dinda di teras depan hingga Dinda menampakkan batang hidungnya, saat dia yakin Dinda sudah tiba di kediaman mereka Alex pun langsung menuju ke kamarnya


Alex pun segera membersihkan diri dan mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil terus memikirkan keadaan Dinda, dia sendiri tak mengerti mengapa hatinya ikut terasa sakit saat mengingat keadaan Dinda yang menyedihkan tadi. Dan semua itu harus berakhir karena tiba-tiba saja ponselnya berdering, lamunan Alex pun terbuyarkan oleh sebuah panggilan telepon yang berasal dari Julian


"Ya"


"Akhirnya bisa juga anak ini di telepon"


"Kenapa?"


"Lu ada di mana sekarang lex?"


"Gw udah di rumah, kenapa lu telepon gw?"


"Sebenarnya dari tadi kepikiran tentang anak itu terus, dan lu ga kasih izin gw buat liat dia tadi. Jadi gimana keadaan dia sekarang?"

__ADS_1


"Sudah jauh lebih tenang sebelum gw bawa dia pulang"


"Apa ga perlu kita bawa dia ke psikiater? siapa tau dia mengalami trauma karena kejadian tadi?"


"Untuk saat ini sepertinya ga perlu, tadi gw juga udah coba tawarin dan dia ga mau. Kalau menurut gw sekarang dia udah baik-baik aja"


"Syukur deh Lex, ternyata dia perempuan yang kuat ya"


"Hem...."


"Oh ya ada sesuatu yang harus gw omongin sama lu," ucap Julian dengan nada serius


"Sejak kapan lu bisa serius begini?"


"Gw lagi mau ngomong serius Lex"


"Ya udah tinggal ngomong aja, apa susahnya?" ucap Alex dengan dingin


"Sebelumnya gw harus minta maaf sama lu Lex, karena mulai sekarang gw udah ga bisa kasih lu waktu lebih lama lagi"


"Ngomong apaan sih lu? waktu apa yang lu maksud?"


"Apa lu sudah tau apa yang hati lu mau? kalau lu belum yakin juga gw minta lu untuk lepas dia, dan gw janji sama lu gw akan jaga dia dengan baik." ucap Julian dengan bersungguh-sungguh


Cukup lama juga Alex hanya terdiam tanpa mengeluarkan suara sama sekali


"Oke gw anggap lu belum bisa yakin dengan hati lu, jadi gw minta lu untuk..."


"Maaf gw ga bisa kasih kesempatan itu sama lu," ucap Alex dengan serius


Di seberang sana Julian pun tersenyum tipis karena akhirnya sahabatnya tersebut mulai berani mengambil sikap, dan Julian adalah orang yang tau pasti bahwa selama ini Alex belum pernah menaruh perasaan serius kepada seorang wanita. Bahkan Julian yakin bila Valen pun tak bisa menaklukkan hati Alex


"Apa lu yakin Lex?"


"Ya," ucap Alex tanpa rasa ragu sama sekali


"Oke, gw harap lu jaga dia dengan baik. Karena gw yakin dia perempuan baik-baik"


"Hem...."


Alex pun memutuskan sambungan teleponnya, dan penekanan dari Julian pada saat itu membuat Alex benar-benar tersadar akan arti Dinda di dalam hatinya. Mulai detik itu Alex pun bertekad tak mau lagi kalah dengan perasaan gengsi yang selama ini dia punya. Dia benar-benar tak ingin bila Dinda bersama laki-laki lain

__ADS_1


__ADS_2