
Dinda hanya bisa terdiam menahan rasa sakit yang dia rasakan di dalam hatinya pada saat itu, sekuat tenaga Dinda berusaha untuk menutupi apa yang dia rasakan di hadapan Alexa
"Makanya tadi aku sempat tanya kamu apa kamu pernah dengar kak Alex dekat sama perempuan? soalnya kalau kak Alex menjalin hubungan dengan seseorang aku jadi kasihan sama kak Alex, dan sampai detik ini kak Alex masih belum tau rencana papa"
"Jadi den Alex mau di jodohkan di acara nanti ya kak?"
Alexa pun menganggukkan kepalanya
"Dan sebagai penerus papa kak Alex ga bisa melawan kehendak papa, suka atau tidak kak Alex harus terima perjodohan itu"
Saat itu Dinda hanya bisa memaksa bibirnya untuk tersenyum agar tak membuat Alexa curiga terhadap dirinya
"Udah malam kita tidur yuk"
"Ya kak"
Mereka pun bersiap untuk menuju ke alam mimpi, setelah mematikan lampu kamar tersebut tak butuh waktu yang lama Alexa sudah terlelap ke alam mimpi. Sedangkan Dinda yang baru saja mengetahui kabar tentang perjodohan Alex pun tak bisa memejamkan kedua bola matanya sama sekali
"Jadi sebentar lagi kamu akan di jodohkan ya kak? apa yang kamu harapkan Dinda? seharusnya dari awal kamu bisa sadar diri Din, perempuan seperti kamu ga pantas untuk bersanding dengan laki-laki sehebat kak Alex"
Dinda kini sudah merubah cara dia memanggil Alex, dia tak lagi menggunakan kata den jika mereka hanya berbicara berdua
Dinda yang masih terjaga tiba-tiba saja mendengar ponselnya bergetar, saat dia memeriksa ponselnya sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya dan pesan tersebut berasal dari Alex
"Apa kamu sudah tidur?"
Dinda yang masih teringat akan ucapan Alexa pun memilih untuk mengabaikan pesan Alex pada saat itu, tetapi Alex tak berhenti sampai di situ karena dia langsung menghubungi Dinda. Dan sudah pasti Dinda mengabaikan panggilan telepon tersebut
"Dia baca pesan aku kok berarti kan dia belum tidur, tapi kenapa dia ga mau balas pesan aku? dia juga ga mau angkat telepon aku, sebenarnya dia kenapa? pasti ada yang ga beres" gumam Alex
__ADS_1
Alex yang sudah mulai merebahkan tubuhnya langsung bangkit dan melangkahkan kakinya ke arah kamar Alexa, saat dia sudah berada di depan pintu kamar Alexa dia mengirimkan kembali pesan kepada Dinda
"Kamu sebenarnya kenapa? sekarang aku ada di depan kamar Alexa, kalau kamu masih ga mau balas pesan aku jangan salahin aku kalau sekarang juga aku masuk ke kamar Alexa biar aku bisa ketemu kamu"
Sontak saja hal tersebut membuat nyali Dinda langsung menciut, karena dia tau dengan pasti bahwa Alex selalu melakukan apa yang dia katakan. Dinda yang merasa sedikit takut pun memilih untuk langsung menjawab pesan Alex
"Kak Alexa belum tidur, aku takut kak Alexa baca pesan dari kamu kak"
"Apa kamu lagi belajar untuk berbohong Din? sejak kapan Alexa mematikan lampu kamarnya saat dia masih terjaga?"
Ternyata sebelum Alex mengirimkan pesan pertama dia sudah memastikan terlebih dahulu bahwa lampu kamar Alexa telah padam, dan Alex tau dengan pasti bahwa Alexa hanya melakukan hal itu jika dia sudah benar-benar mengantuk
"Astaga Dinda kenapa kamu bisa sebodoh ini? ga mungkin kak Alex ga tau kebiasaan kak Alexa!!" gerutu Dinda di dalam hatinya
"Ya kak tapi kak Alexa belum pulas tidurnya"
"Ya udah kamu juga istirahat ya"
"Ya kak"
Dinda berusaha secepat mungkin untuk pergi ke kampus demi mengindari bertemu Alex, dia hanya takut bila dia tak bisa mengendalikan perasaannya jika dia sampai bertemu dengan Alex. Tetapi yang terjadi adalah Alex sudah lebih dulu berada di tempat Dinda selalu menunggu angkutan umum
Ternyata Alex mengetahui saat Dinda keluar dari kamar Alexa di pagi buta, entah mengapa Alex merasa bahwa Dinda sedang menghindari dirinya. Dia pun segera bersiap dan menunggu Dinda di tempat itu, dia hanya ingin memperjelas keadaan yang sebenarnya
Mustahil jika saat itu Dinda tak menyadari bahwa mobil Alex sudah berhenti tak jauh dari dirinya, tetapi Dinda memilih untuk berpura-pura tak melihat mobil Alex pada saat itu. Alex pun semakin merasa yakin bahwa Dinda sedang menghindari dirinya
"Kamu sebenarnya kenapa sih Din? kemarin kamu masih baik-baik aja," gumam Alex
Alex pun langsung melajukan mobilnya dan berhenti tepat di hadapan Dinda lalu membuka salah satu kaca mobilnya
__ADS_1
"Kamu mau naik sendiri atau aku harus turun dulu untuk jemput kamu?" tanya Alex penuh penekanan
"Astaga padahal aku udah berusaha untuk kabur!!"
Dengan berat hati Dinda pun terpaksa naik ke dalam mobil Alex dan Dinda pun berusaha untuk menguatkan hatinya agar bisa bersikap biasa saja di hadapan Alex. Alex pun melaju kan mobilnya dan mulai menepikan mobilnya di tempat yang agak sepi dan mulai menatap ke arah Dinda dengan wajah serius
"Kamu sebenarnya kenapa?"
"Memang aku kenapa kak? aku baik-baik aja kok"
Alex melihat ke arah jam tangannya seolah dia mengingatkan Dinda bahwa tak mungkin Dinda ada kelas pada jam itu karena saat itu masih terlalu pagi
"Oh, tadi rencananya aku mampir ke suatu tempat dulu kak"
Alex pun langsung menatap jauh ke dalam mata Dinda untuk mencari kebenaran di dalam sana, dan sudah pasti Dinda pun langsung membuang pandangan matanya ke arah yang berlawanan
"Coba bilang sekali lagi kalau kamu baik-baik aja, tapi sekali ini bilang sambil lihat mata aku"
"Aku udah bilang kalau aku baik-baik aja kak"
Tetapi sudah pasti Dinda tak berani mengucapkan kata-kata itu sambil menatap mata Alex
"Dengan kamu ga berani tatap mata aku aja semuanya udah jelas Din, sekarang bilang sama aku kenapa sikap kamu bisa berubah? apa Alexa ada bilang sesuatu yang membuat kamu marah sama aku?"
Dinda pun hanya terdiam sambil menatap jauh ke depan, saat itu hati Dinda merasa dilema di satu sisi dia harus mengerti posisi Alex dan menyelesaikan hubungan mereka. Tetapi di sisi lain hati Dinda benar-benar terasa sakit
"Jangan buat aku bingung Din, kamu bilang ke aku ada masalah apa? kalau ada masalah kita bicarakan baik-baik"
Dinda pun berusaha mengumpulkan kekuatan di dalam hatinya, dia harus berani untuk membuat sebuah keputusan. Dinda pun mulai menatap ke arah Alex
__ADS_1
"Sebaiknya kita putus saja kak," ucap Dinda lirih