
Dan hari itu Alex benar-benar memperlakukan Dinda dengan sangat baik. Dinda tak henti-hentinya di buat bingung dengan semua perubahan sikap Alex. Dinda bisa merasa sedikit tenang pada saat itu, walaupun sesaat lagi hal yang tak pernah dia bayangkan akan segera terjadi
"Sudah selesai?"
"Ya kak"
Alex pun memanggil salah satu pelayan di tempat itu dan menyelesaikan pembayaran bill mereka
"Ayo biar aku antar kamu ke tempat kerja kamu"
"Ya kak"
Mereka pun mulai bangkit dari duduknya dan tiba-tiba saja Alex mengeluarkan kunci mobilnya dan memberikan kunci tersebut kepada Dinda
"Aku mau ke toilet sebentar, kamu tunggu di mobil aja ya"
"Ya kak"
Dinda pun menerima kunci yang Alex berikan dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari di tempat itu, sedangkan Alex langsung menuju ke arah toilet
Tanpa ada perasaan apapun Dinda yang baru saja keluar dari tempat itu langsung menuju ke arah parkiran, dan di saat itulah ada sebuah mobil yang melintasi Dinda. Orang yang berada di dalam mobil tersebut menatap ke arah Dinda dengan seksama
Tiba-tiba saja mobil tersebut mulai berhenti, dan orang yang berada di dalam mobil tersebut langsung keluar lalu memegang salah satu tangan Dinda
Dinda yang merasa tangannya di pegang pun langsung menatap ke arah orang tersebut, saat itu di hadapan Dinda berdiri seorang pria yang sangat tampan dan berpenampilan rapi
"Ini beneran kamu kan?" tanya pria itu sambil tersenyum
Dinda hanya bisa terdiam sambil berusaha mengingat orang yang ada di hadapannya tersebut
__ADS_1
"Saya selalu mencari kamu setiap saya datang ke kota ini, tapi saya ga pernah bisa mendapatkan kabar tentang kamu. Akhirnya saya bisa bertemu dengan kamu secara kebetulan di tempat ini"
Dalam sekejap wajah Dinda berubah menjadi pucat pasi, tubuh Dinda pun mulai bergetar karena perasaan takut yang telah menguasai dirinya. Saat itu Dinda sudah mengetahui siapakah orang yang kini berdiri di hadapannya tersebut
"Apa saya bisa bicara sebentar sama kamu?" tanya pria tersebut sambil tersenyum hangat
FLASH BACK
Sebuah kamar di salah satu hotel termewah di kota itu menjadi saksi bisu untuk kesalahan yang Dinda lakukan pada malam itu, Dinda berada di dalam kamar itu hanya seorang diri sesuai dengan arahan yang di berikan kepada dirinya
Orang yang akan memakai jasa Dinda sedang menghadiri sebuah pertemuan, dan Dinda di minta untuk menunggu orang tersebut di dalam kamar itu. Di tengah keheningan yang ada Dinda mulai memikirkan kembali perbuatan yang akan dia lakukan tersebut
"Apa aku benar-benar harus melakukan ini? apa cuma dengan cara ini aku bisa membalas perbuatan dia?"
Hati Dinda kembali bimbang dengan semua keputusan yang telah dia pilih pada saat itu, detik demi detik pun terus berlalu dan perasa bimbang di hatinya pun semakin kuat saat dia mengingat kembali semua kenangan manis yang telah dia lalui bersama Alex
"Bodoh aku benar-benar bodoh!! kenapa aku harus berbuat seperti ini cuma untuk membalas rasa sakit hati aku? bagaimana perasaan bapak dan ibu kalau tau apa yang aku lakukan saat ini? sebaiknya aku pergi sekarang juga"
Hingga detik terakhir Riska masih berusaha untuk terus membujuk Dinda agar tak melakukan hal tersebut, tetapi tetap saja keputusan akhir berada di tangan Dinda. Riska juga mengatakan saat Dinda berubah pikiran dia bisa membatalkan itu semua, dan Riska akan bertanggung jawab dengan masalah apapun yang akan terjadi
Dinda tak mau membuang waktu dan segera bangkit dari duduknya, dia benar-benar berniat untuk menghentikan tindakan bodoh yang sedang dia lakukan
Dinda pun segera menuju ke arah pintu tetapi sesaat sebelum Dinda berhasil mencapai pintu kamar itu, seorang laki-laki yang tak bisa dia ingat dengan jelas wajahnya sudah membuka pintu tersebut
Dinda hanya mengingat bahwa laki-laki tersebut terlihat kurang sehat dan suara laki-laki tersebut terdengar berat
"Kamu orang yang di kirim ke sini kan?"
"Maaf tuan tapi saya merasa menyesal dan saya tidak ingin melakukan ini, tolong ijinkan saya pergi dari sini tuan." ucap Dinda dengan hati-hati
__ADS_1
Laki-laki tersebut seperti tak mendengarkan penjelasan yang Dinda berikan pada saat itu, dia langsung menarik tubuh Dinda dengan paksa ke atas tempat tidur dan berniat melakukan hal tersebut
Sekuat apapun Dinda meronta dan memohon pada saat itu tak ada artinya sama sekali, karena pria tersebut terus melakukan hal tersebut tanpa henti hingga dia mencapai apa yang dia inginkan
Pada malam itu Dinda melakukan sebuah kesalahan yang tak akan bisa dia ubah untuk selamanya, dan itu semua akan menjadi sebuah kenangan pahit sepanjang hidupnya
FLASH OFF
"Tolong lepasin tangan saya tuan," ucap Dinda dengan suara yang bergetar
Pria tersebut pun langsung melepaskan tangannya saat menyadari Dinda sudah terlihat sangat ketakutan kepada dirinya
"Maaf kalau saya sudah membuat kamu takut, saya cuma ingin bicara sama kamu." ucap pria tersebut dengan lembut
Alex yang baru saja tiba di tempat itu langsung mendapatkan sebuah pemandangan yang membuat hatinya bergejolak, karena Alex harus melihat ada seorang pria yang terlihat tampan dan mapan sedang menatap ke arah Dinda dengan tatapan mata yang membuat dia merasa cemburu
"Saya rasa sudah tidak ada yang perlu di bicarakan di antara kita tuan," ucap Dinda sambil menundukkan kepalanya
Saat itu Dinda tak memiliki keberanian sama sekali untuk menatap ke arah pria tersebut
"Kamu salah, sampai detik ini saya masih mencari kamu. Karena saya merasa masih ada yang harus kita bahas di antara kita"
Tiba-tiba saja Alex langsung menarik tangan Dinda dan meletakkan tubuh Dinda tepat di belakang tubuhnya, Alex menunjukkan bahwa saat itu dia sedang bertugas sebagai pelindung bagi Dinda
"Dia sudah bilang kalau tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, maka artinya semuanya sudah selesai." ucap Alex dengan dingin
Dinda hanya bisa menatap ke arah Alex dengan perasaan yang tak menentu
"Seandainya malam itu kamu juga ada buat aku kak maka aku ga perlu mengalami ini semua," batin Dinda dengan mata yang berkaca-kaca
__ADS_1
Pria tersebut memandang Alex dengan lekat seolah dia tau dengan pasti lawan bicaranya pada saat itu, sedangkan Alex tak mau terlihat lemah dan terus menatap ke arah pria tersebut dengan dingin. Mereka seperti sedang menunjukkan kekuatan mereka masing-masing pada saat itu