Perjuangan Cinta Beda Kasta

Perjuangan Cinta Beda Kasta
Orang Yang Tak Punya Kebebasan


__ADS_3

Ibu Sari pun sudah di pindahkan ke ruang rawat, dan Dinda terus memandangi wajah sang ibu yang masih setia dengan matanya yang tertutup rapat. Alex pun masuk ke dalam ruangan tersebut untuk menemui Dinda


"Saya akan siapkan beberapa suster untuk menjaga ibu kamu, jadi kamu bisa tenang saat menjalani tugas kamu nanti." ucap Alex dengan dingin


Dinda memilih untuk diam dan hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya


"Nanti saya akan kirim supir untuk menjemput kamu"


"Apa saya boleh menunggu sampai ibu tersadar dulu kak? setidaknya saya harus memberikan sebuah alasan yang masuk akal kepada ibu kenapa saya ga ada di samping dia." ucap Dinda lirih


Alex tampak terdiam tapi dia tak memberikan sebuah penolakan atas permintaan Dinda, dan Dinda pun mulai menatap serius ke arah Alex. Dengan mudahnya Alex mengetahui bahwa saat itu ada sesuatu yang ingin Dinda sampaikan


"Ada apa?" tanya Alex dengan serius


"Apa boleh saya minta sesuatu dari kamu kak?"


Alex pun memberikan sebuah senyuman yang terlihat sinis


"Apa kamu berniat untuk lari dari perjanjian kita?"


Dinda pun menggelengkan kepalanya


"Lalu apa yang mau kamu minta?"


"Saya tau apa yang harus saya lakukan dengan perjanjian kita kak, jadi apa saya bisa meminta kamu menjadikan saya istri kamu yang sah kak?"


Alex hampir saja memeluk tubuh Dinda karena merasa bahagia saat mendengar permintaan Dinda, tetapi dia masih berusaha sekuat tenaga menahan perasaan tersebut


"Maksud aku cukup sah di mata agama kak," lanjut Dinda dengan berhati-hati


Dinda bisa melihat dengan jelas bahwa cara Alex menatap dirinya langsung berubah, tetapi Dinda tak bisa mengerti apa yang ada di dalam pikiran Alex pada saat itu. Tiba-tiba saja Alex mulai mendekatkan bibirnya ke telinga Dinda

__ADS_1


"Apa kamu kira saat ini kamu berada di posisi yang bisa untuk menuntut sesuatu?" bisik Alex dengan dingin


Dinda hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya, saat itu hatinya benar-benar terasa sakit dan merasa seluruh kekuatan yang dia punya hilang entah kemana. Bahkan untuk membalas perkataan Alex pun Dinda sudah tak sanggup


Sedangkan Alex memilih untuk pergi dan meninggalkan Dinda begitu saja, saat itu jauh di dalam lubuk hati Alex terselip perasaan kecewa. Alex merasa kecewa mengapa Dinda hanya meminta hal tersebut dan tak meminta dirinya menjadi wanita Alex satu-satunya


Kesalahan pahaman terus terjadi di antara Alex dan Dinda, mereka hanya bisa saling menyakiti hati mereka satu sama lain untuk sebuah masa lalu yang pernah terjadi di antara mereka


Di dalam ruang rawat ibu Sari pun sudah ada dua orang suster, mereka bertugas untuk membantu mengurus segala keperluan ibu Sari sesuai yang Alex ucapkan


Saat sang ibu mulai membuka kedua bola matanya Dinda benar-benar merasa bahagia, setidaknya dengan begitu apa yang akan dia lakukan di kemudian hari tidaklah sia-sia


Secara perlahan Dinda pun memberitahukan kepada sang ibu bila dia akan di pindah tugaskan ke kota lain, dan keadaan sang ibu saat ini tak bisa membuat dia membawa sang ibu bersama dirinya. Dengan bodohnya ibu Sari mempercayai semua perkataan Dinda pada saat itu


Setelah merasa puas melihat sang ibu, Dinda pun mulai berpamitan dan segera meninggalkan rumah sakit. Dengan hati yang teramat sakit Dinda mulai menghubungi Alex


"Halo"


Dinda sudah cukup puas melihat keadaan sang ibu yang sudah mulai membaik, baginya apapun yang akan dia lalui di kemudian hari adalah apa yang harus dia bayar untuk kesembuhan sang ibu


Dinda menunggu sang supir yang akan menjemput dirinya di sebuah halte bus yang berada tak jauh dari rumah sakit, setelah cukup lama sebuah mobil yang sangat mewah pun mulai berhenti tepat di hadapan Dinda. Tanpa menunda waktu Dinda segera naik ke dalam mobil tersebut


Dinda pun sedikit terkejut karena bukan hanya sang supir yang berada di dalam mobil tersebut dan ternyata Alex pun berada di dalam mobil itu


"Kamu kok ada di sini kak?"


Alex hanya melirik sekilas ke arah Dinda tanpa menjawab pertanyaan yang Dinda berikan, sang supir langsung melajukan mobilnya ke sebuah tempat


Lagi-lagi Dinda di buat terkejut karena Alex mengabulkan permintaan Dinda, dengan menjadikan dia sebagai wanita yang sah berstatus istri Alex walaupun hanya sebatas di mata agama. Tanpa banyak bicara Alex pun membawa Dinda ke tempat tinggalnya


"Ambil semua barang yang kamu butuhkan, dan ga perlu membawa barang-barang yang tidak penting." ucap Alex dengan dingin

__ADS_1


Dengan patuh Dinda mengikuti semua ucapan Alex, Dinda pun mengambil barang-barang yang dia butuhkan dan secepatnya kembali ke mobil Alex. Sang supir pun mulai melajukan mobilnya, Dinda hanya diam tanpa banyak bicara selama perjalanan tersebut


Hingga mereka tiba di sebuah apartemen, ternyata Alex membawa Dinda kembali ke apartemen miliknya. Alex biasa beristirahat di apartemen tersebut pada hari kerja


"Rapi kan sendiri barang-barang kamu, di sini kamu ga perlu melakukan apapun karena setiap hari akan ada orang yang datang untuk bersih-bersih"


"Baik kak"


Alex mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya dan memberikan kartu tersebut kepada Dinda


"Mulai sekarang gunakan kartu ini untuk membeli semua yang kamu butuhkan"


"Tapi kemarin kamu sudah kasih aku kartu kak," ucap Dinda dengan polosnya


"Simpan aja kartu yang kemarin untuk kamu dan mulai sekarang gunakan kartu ini"


Dinda hanya mengikuti semua ucapan Alex dan menerima kartu tersebut, sedangkan Alex menatap Dinda dengan tatapan mata yang sulit di artikan


"Bagaimana pun juga kamu sekarang istri aku, jadi kamu harus menggunakan uang aku untuk memenuhi kebutuhan kamu. Sedangkan kartu kemarin memang milik kamu Din, isi kartu itu adalah sesuatu yang aku siapkan untuk kamu di masa lalu"


Dinda mulai menatap Alex dengan serius dalam dengan sangat mudah Alex tau bahwa Dinda menyampaikan sesuatu


"Ada apa?"


"Apa saya masih boleh tetap bekerja kak?"


"Terserah kamu aja, yang pasti kamu harus selalu ada di sini saat saya pulang." ucap Alex dengan dingin


Alex pun langsung meninggalkan Dinda sendiri di dalam apartemen tersebut, Dinda pun mencoba menguatkan hatinya dan mulai merapikan barang-barang yang dia bawa ke dalam kamar


"Mulai sekarang aku sudah resmi menjadi seseorang yang tak mempunyai kebebasan, aku tetap harus bersyukur karena setidaknya sekarang keadaan ibu sudah jauh lebih baik"

__ADS_1


Detik demi detik pun terus berlalu bahkan jam sudah mulai menunjukan tengah malam, tetapi Alex sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya di apartemen tersebut. Sedangkan Dinda tak mempunyai keberanian untuk menanyakan keberadaan Alex pada saat itu, dia merasa tak memiliki hak sama sekali atas kehidupan Alex


__ADS_2