Perjuangan Cinta Beda Kasta

Perjuangan Cinta Beda Kasta
Bertemu Julian


__ADS_3

Dinda hanya menggunakan alasan pekerjaan di hadapan Melinda untuk menghindari bersama mereka lebih lama lagi, tetapi yang Dinda lakukan adalah mendudukkan tubuhnya di sebuah taman untuk di taman dekat tempat kerjanya. Dinda pun meraih ponselnya dan menghubungi sang ibu


"Halo Din"


"Ibu bagaimana kabarnya?"


Dinda menghubungi sang ibu untuk mencari ketenangan hati, tetapi hati seorang ibu tak bisa di tipu. Dengan sangat mudah ibu Sari mengetahui bahwa Dinda saat itu sedang menghadapi sebuah masalah


"Kamu kenapa Din?"


"Aku ga apa kok bu, aku baik-baik aja"


"Ibu mungkin ga bisa lihat kamu secara langsung, tapi ibu bisa tau dari suara kamu Din. Apa kamu lagi ada masalah?"


"Terima kasih ya bu, di saat Dinda seperti ini cuma suara lembut ibu yang bisa membuat Dinda menjadi kuat." batin Dinda sambil tersenyum tipis


"Aku baik-baik aja kok bu, cuma memang di sini lagi banyak kerjaan. Aku jadi kurang istirahat hari ini bu"


"Jangan terlalu capek kerja Din, kamu harus bisa jaga kesehatan kamu. Kalau kamu sakit ibu harus gimana? ibu kan ga ada di dekat kamu"


"Ya bu"


Cukup lama Dinda berbincang dengan sang ibu, suara lembut sang ibu seolah memberikan kekuatan yang sangat besar di dalam hatinya. Karena dia yakin bahwa yang rasa sakit yang dia rasakan bisa terbayar lunas dengan kesehatan sang ibu


Setelah puas berbincang dengan sang ibu Dinda pun seperti mendapatkan kembali semangat hidupnya, dia pun segera kembali ke kantor dan menyelesaikan semua pekerjaan yang harus dia kerjakan


Tetapi semangat hidupnya kembali redup saat jam pulang kerja telah usai, Dinda mengingat kembali semua sikap manja Melinda terhadap Alex. Entah mengapa hari itu Dinda merasa enggan untuk kembali ke apartemen Alex


"Buat apa aku pulang? di sana juga ga ada yang menunggu aku untuk pulang"


Dinda pun melangkahkan kakinya begitu saja dan ternyata pilihan hati Dinda berakhir di sebuah tempat di mana dia pernah di bawa oleh sahabatnya, Dinda pun memesan minuman yang sama dengan Riska pesan pada malam itu


"Jangan jadi perempuan lemah Din, kamu harus sadar kalau dari awal semuanya sudah di atur. Dia boleh melakukan apapun dan kamu hanya boleh jadi penonton yang baik, dasar laki-laki bajingan!! jangan salahkan aku kak kalau mulai sekarang aku akan berusaha menghabiskan uang kamu dengan baik"


Dinda bahkan memesan beberapa minuman mahal lainnya dan membagikan minuman tersebut kepada orang-orang, dan yang lebih konyol Dinda benar-benar menggunakan kartu yang Alex berikan kepada dirinya

__ADS_1


Alex yang masih berada di ruang kerjanya menghentikan semua aktivitas yang sedang dia lakukan dan memeriksa ponselnya, karena dia mendengar sebuah notifikasi di ponselnya


Alex hanya bisa mengerutkan keningnya saat melihat pemberitahuan bahwa kartu yang dia berikan baru saja di gunakan di tempat seperti itu, dia pun langsung menghubungi seseorang


"Kamu ada di mana?"


"Saya sedang mengikuti ibu Dinda pak"


"Kalian ada di mana?"


"Di sebuah mini bar pak"


"Apa yang dia lakukan di sana?" tanya Alex penuh penekanan


"Ibu Dinda sedang meminum minuman yang dia pesan sampai sekarang pak"


"Siapa yang menemani dia di sana?"


"Ibu Dinda hanya sendiri pak, tapi..."


"Ibu Dinda membagikan minuman kepada semua orang pak, dan entah sudah berapa banyak minuman yang dia bagikan"


Alex pun tersenyum penuh arti


"Biarkan saja dia melakukan apapun yang dia mau, dan jaga dia dengan baik. Jangan biarkan ada orang yang berani mengganggu dia." ucap Alex dengan tegas


"Baik pak"


Alex pun langsung memutuskan sambungan teleponnya


"Apa aku lupa bilang ke kamu Dinda? kalau aku akan membuat perhitungan dengan semua uang yang kamu gunakan dari kartu itu?" ucap Alex dalam hati sambil tersenyum tipis


Alex meminta orang yang mengikuti Dinda untuk selalu mengabarkan kepada dirinya tentang semua yang Dinda lakukan di tempat itu, Alex pun tersenyum tipis karena sedari awal Dinda hanya melakukan hal yang sama. Semua notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya membuat Alex semakin bahagia


"Apa ini cara kamu lari dari masalah? aku ga akan melarang kamu melakukan apapun yang akan kamu lakukan, bahkan jika kamu mengabiskan semua uang yang aku punya Din. Tapi tolong jangan pernah lakukan hal itu lagi."

__ADS_1


Malam pun semakin larut dan Dinda yang sudah mulai berada di bawah pengaruh alkohol tetap asik dengan apa yang dia lakukan, di meja yang berbeda ada sepasang mata memperhatikan Dinda dengan seksama


Dan orang tersebut adalah Julian yang baru saja tiba di tempat itu, Julian ada di tempat itu untuk merayakan pesta ulang tahun salah satu temannya. Dia berada di tempat itu seorang diri tanpa di dampingi oleh Riska, karena Riska sedang menemui orang tuanya, saat Julian yakin bahwa perempuan tersebut adalah Dinda dia pun langsung menghampiri Dinda


"Apa kabar Din?"


Dan kini Alex harus merasa sedikit cemas, karena dia baru saja mendapatkan laporan bahwa kini ada seorang pria yang mendudukkan tubuhnya tepat di samping Dinda. Dan orang tersebut adalah Julian


"Sial!! kenapa mereka harus ketemu? Julian kan dulu sempat suka sama Dinda, gimana kalau dia berani berbuat macam-macam sama Dinda?"


Alex meminta orang yang mengawasi Dinda untuk tak bertindak apapun dan tetap mengawasi mereka, Alex hanya yakin bahwa orang yang dia kirim tak akan sanggup melawan seorang Julian. Tanpa menunda waktu Alex pun segera menuju ke tempat itu


Di tempat yang berbeda Dinda yang sudah di bawah pengaruh alkohol harus menyipitkan kedua bola matanya untuk memastikan orang yang berada di hadapannya tersebut


"Wah!! kak Julian ya?"


"Boleh aku duduk di sini?" tanya Julian sambil tersenyum


Dinda pun menganggukkan kepalanya, tak butuh waktu yang lama Julian bisa mengetahui bahwa saat itu Dinda sudah dalam keadaan mabuk


"Kamu sama siapa?"


"Sendiri kak, tapi aku yakin ada bayangan aku di dekat sini." ucap Dinda sambil tertawa


Julian pun membuang nafasnya dengan kasar


"Sepertinya kamu sudah mulai mabuk Din, sebaiknya kamu pulang aja. Ga baik juga perempuan ada di tempat seperti ini seorang diri." ucap Julian dengan serius


Dinda pun tersenyum tipis dan kembali meminum minuman yang berada di dalam gelasnya lalu mulai menatap ke arah Julian dengan tatapan mata yang sulit di artikan


"Tapi buat apa aku pulang kak?" ucap Dinda lirih


Julian hanya terdiam mendengar ucapan terakhir Dinda, entah mengapa saat itu dia seperti mendengar guratan kesedihan dari kata-kata Dinda saat itu


"Lagi pula perempuan seperti aku memang pantasnya berada di tempat seperti ini kak"

__ADS_1


Dan Julian semakin yakin bahwa keadaan Dinda saat itu tidak baik-baik saja


__ADS_2