
Mereka mulai menyantap makan malam sambil terus berbincang ringan, malam itu Alex tak pernah merasa ragu untuk menunjukkan kelembutan yang biasa dia lakukan kepada Dinda. Lambat laun mereka bertiga pun terbiasa akan sikap Alex yang sangat berbeda dari biasanya
Selesai makan malam para wanita asik berkumpul di ruang tamu, mereka terus membahas ini dan itu. Seolah mereka selalu menemukan bahan untuk mereka bahas
Sedangkan Alex dan Julian memilih untuk di teras depan rumah mewah tersebut, Julian pun tau dengan pasti bahwa saat itu ada ingin Alex katakan
Cukup lama Julian menunggu Alex untuk membuka suara, tetapi Alex yang terbiasa dengan sikap dingin di hadapan orang lain seperti sulit untuk membuka suara lebih dulu. Dan Julian pun memilih untuk mengalah
"Kenapa?" tanya Julian dengan santai
"Apanya yang kenapa?"
"Apa yang mau lu bahas? sampai lu bawa gw ke sini menjauh dari mereka"
"Ga ada, gw bawa lu ke sini supaya mereka bisa ngobrol dengan santai aja"
Julian pun tersenyum penuh arti
"Apa gw baru kenal lu sebulan atau dua bulan? gw yakin banget sebenarnya ada yang mau lu bahas kan sama gw, sekarang ku bisa bilang ke gw kalau lu ga bisa cerita ke orang lain." ucap Julian dengan serius
"Bingung gw sama anak satu ini, kenapa anak ini peka banget dari dulu?" batin Alex sambil menatap malas ke arah Julian
"Mau ngomong apa ga? kalau ga ya ga masalah sama gw, kan lu yang ngerasain." ucap Julian santai
"Gw lagi bingung sekarang," ucap Alex dengan suara pelan
"Kenapa?"
"Gw mau kasih tau ke semua orang kalau Dinda itu istri gw, tapi gw ga bisa lakuin itu"
"Alasannya?"
"Dinda belum siap bilang ke ibunya tentang hubungan kami," ucap Alex dengan lirih
Julian pun tertawa lepas melihat ekspresi wajah Alex pada saat itu, membuat Alex langsung menatap ke arah dirinya dengan tajam
"Woi!! lu apa-apaan sih? kenapa lu jadi begini? mana si dingin yang bisa menghancurkan perusahaan orang lain tanpa perasaan," ucap Julian dengan nada suara mengejek
"Apa lu juga mau perusahaan lu masuk ke dalam daftar hitam gw?" tanya Alex dengan wajah dingin
__ADS_1
"Ga masalah karena gw ga takut sama sekali dengan ancaman lu," ucap Julian dengan santai
Alex pun langsung menatap tajam ke arah Julian
"Gw tinggal lari ke dalam dan ngadu sama istri lu, selesai kan." ucap Julian sambil tersenyum
Alex pun hanya bisa memandang malas ke arah sahabatnya tersebut
"Oke balik ke masalah lu Lex," ucap Julian dengan serius
Alex pun langsung menatap ke arah Julian dengan serius
"Apa yang udah kalian berdua lalui selama ini itu ga mudah, jangan biarin masalah yang sebenarnya kecil seolah-olah masalah yang besar"
"Gw cuma mau dia dapatkan semua yang terbaik, gw mau semua orang menghargai dia. Apa salah?" tanya Alex dengan serius
"Gw paham kok tujuan lu yang sebenarnya baik, tapi lu juga harus melihat posisi dia dulu. Bukan hal yang mudah buat dia sampaikan tentang hubungan kalian ke ibunya"
Alex pun menghela nafas
"Gw cuma mau dia mendapatkan yang terbaik, itu aja kok"
"Jadi menurut lu gw harus apa?" tanya Alex dengan serius
"Kalau menurut gw sih gampang aja Lex, untuk saat ini lu cukup berikan dia kasih sayang yang berlimpah. Dan satu saran dari gw buat lu"
Alex menatap serius ke arah Julian
"Gunakan alasan yang beda untuk membujuk dia, lu harus kasih dia alasan yang jelas supaya dia punya keberanian untuk bilang sama ibunya"
Alex pun seperti mendapatkan sebuah pencerahan, berbicara dengan Julian yang selalu terlihat santai membuat dia selalu bisa menemukan sebuah jalan keluar saat dia menemui jalan buntu
"Lu sendiri gimana cara lu menyelesaikan masalah istri lu?"
"Kenapa sama istri gw?" tanya Julian dengan santai
Lagi-lagi Alex memberikan wajah malas kepada Julian
"Apa lu mau belajar dari cara kami?"
__ADS_1
Alex pun menatap serius ke arah Julian yang menandakan bahwa ucapan Julian benar adanya
"Caranya cuma satu, kami mencoba untuk ga pernah melihat ke belakang. Karena kami menjalani saat ini dan kami sedang merencanakan untuk masa depan," ucap Julian dengan serius
Saat malam mulai larut mereka pun mulai membubarkan diri, hanya tersisa kedua insan yang sedang terus berusaha untuk menyatukan hati dan perasaan mereka
Malam itu seperti biasanya Alex akan memeluk tubuh mungil Dinda saat mereka sudah berada di atas tempat tidur, Alex mempunyai sebuah kebiasaan baru yaitu memainkan rambut Dinda tanpa henti sebelum dia tertidur
"Apa ada kemajuan tentang ibu kamu sayang?" tanya Alex dengan lembut
Dinda pun hanya bisa memasang wajah bersalah, karena dia belum siap melakukan itu semua. Dan sebenarnya tanpa harus bertanya Alex tau semuanya dari sang suster yang menjaga ibu Sari
"Maaf ya kak," ucap Dinda dengan perasaan bersalah
Alex langsung menghadiahkan sebuah ciuman yang lembut di ujung kepala Dinda
"Aku ngerti kok sayang, kamu ga usah merasa terbebani ya." ucap Alex dengan lembut
"Terima kasih ya kak"
Dinda pun bangkit untuk meminum vitamin yang di sediakan dokter untuk dirinya, dan Alex pun hanya bisa memperhatikan semua yang Dinda lakukan
"Kamu tau salah satu alasan aku ingin cepat mengumumkan bahwa kamu adalah istri aku?"
Dinda pun menjawab dengan gelengan kepalanya
"Karena kita ga pernah tau kapan Tuhan akan memberikan kita kepercayaan untuk punya momongan, kalau itu sampai terjadi dan kita belum mengumumkan status kita. Gimana?"
Dinda terdiam memikirkan semua ucapan Alex dan alasan terakhir yang Alex katakan benar-benar masuk di akal dan pikirannya
"Kamu benar kak, kasih aku sedikit waktu lagi ya. Aku janji secepatnya aku akan bilang sama ibu tentang hubungan kita," ucap Dinda dengan bersungguh-sungguh
Alex pun tersenyum puas di dalam hatinya, dia tak bisa memungkiri bahwa Julian adalah sahabat yang selalu ada untuk dirinya. Baru saja Dinda mau merebahkan tubuhnya di dalam pelukan Alex, tiba-tiba saja Alex memutar tubuhnya dan berada di atas tubuh Dinda sambil tersenyum
"Kamu mau apa kak?"
"Mau jemput anak kita supaya cepat datang sayang," ucap Alex dengan senyuman menggoda
Dinda pun hanya bisa membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna, Alex pun memulai ritual untuk memanggil kehadiran sang buah hati di antara mereka
__ADS_1
Hari itu pun terlewati tanpa hadirnya masalah besar di antara Alex dan Dinda, sedangkan di luar sana sebuah masalah sudah untuk siap berjalan