
Saat itu ada seorang pelayan di tempat itu yang menyapa Riska dengan ramah, Dinda pun tersadar bahwa sedari tadi ada beberapa pelayan di tempat melakukan hal yang sama terhadap Riska
"Kamu sering datang ke sini ya?"
Riska pun menganggukkan kepalanya
"Pantas aja dari tadi banyak kenal kamu"
"Biasanya aku datang ke sini bareng kak Julian"
Dinda pun hanya membalas dengan senyuman
"Apa kamu tau yang membuat aku merasa bahagia jadi istri kak Julian Din?"
"Apa?"
"Karena kak Julian ga pernah membahas tentang masa lalu aku sama sekali, dia benar-benar menghargai aku tanpa melihat masa lalu aku." ucap Riska sambil tersenyum bahagia
"Apa kak Julian tau kalau kamu dulu..."
Dinda tampak ragu untuk melanjutkan ucapan yang akan dia katakan, karena dia takut menyinggung perasaan sahabatnya tersebut. Dan Riska menampilkan senyuman hangat sambil menganggukkan kepalanya
"Awal-awal dia cari aku untuk tanya kamu sih dia belum tau Din, tapi saat dia tau tentang itu dia sama sekali ga pernah menganggap aku sebagai wanita murahan. Hal itu yang membuat kami bisa saling mencintai dengan tulus"
Dinda dan Riska banyak bercerita ini dan itu, yang pasti mereka tak mengetahui bahwa saat itu Alex sedang menuju ke tempat itu dengan pemikirannya sendiri yang sudah melayang jauh
Saat Dinda dan Riska masih asik membahas ini dan itu, tiba-tiba saja ponsel Riska pun bergetar karena sang suami menghubungi dirinya
"Sebentar ya Din"
Dinda pun menganggukkan kepalanya, sedangkan Riska langsung mencari tempat yang tak terlalu bising untuk menjawab telepon tersebut
"Ya sayang"
"Kamu di mana? aku baru aja sampai di apartemen tapi kamu kok ga ada?"
__ADS_1
"Aku lagi di tempat biasa kita sering datang sayang," ucap Riska dengan manja
"Kamu datang ke sana sama siapa? kenapa ga kasih kabar ke aku?"
"Aduh maaf sayang aku benar-benar lupa kasih kabar ke kamu, soalnya aku lagi seneng banget sayang. Aku habis ketemu Dinda jadi aku ajak aja dia ke sini supaya bisa sedikit menghibur dia"
"Dinda?"
"Ya sayang"
"Terus kamu masih lama di sana? kamu mau biarin suami sendirian di sini?" tanya Julian dengan manja
Riska pun tertawa mendengar ucapan sang suami
"Ya udah aku antar Dinda dulu ya, habis itu aku langsung pulang sayang"
"Oke, aku tunggu ya"
"Ya sayang, bye"
Riska langsung kembali ke meja mereka dan menyelesaikan pembayaran bill mereka, Riska juga meminta maaf karena pertemuan mereka harus segera di akhiri karena suaminya sudah berada di apartemen mereka
Sudah pasti hal tersebut membuat Dinda merasa sedikit lega, karena dengan begitu dia bisa segera kembali ke rumah sakit untuk menemani sang ibu. Mereka pun segera keluar dari tempat itu
"Ayo aku antar kamu dulu Din"
"Ga usah Ris, ga enak juga suami kamu sudah sampai di rumah. Aku naik taksi aja"
"Aku udah bilang kak Julian kok mau antar kamu dulu"
Dinda pun hanya bisa tersenyum melihat ketulusan hati sang sahabat
"Ga usah Ris, aku ke rumah sakit naik taksi aja. Lebih baik kamu cepat pulang suami kamu udah nungguin tuh," ucap Dinda sambil tersenyum
"Ya udah, pokoknya kapanpun kamu butuh bantuan aku kamu harus langsung menghubungi aku ya"
__ADS_1
"Makasih ya Ris"
Riska pun akhirnya pergi meninggalkan Dinda seorang diri di tempat itu, sedangkan Dinda menuju ke tepi jalan untuk menunggu taksi yang lewat. Dia hanya ingin secepatnya berada di sisi sang ibu
Dan tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Dinda, Alex keluar dari dalam mobil tersebut dengan wajah yang tak bersahabat. Alex pun langsung menarik tangan Dinda dan mengarahkan Dinda untuk masuk ke dalam mobilnya
"Kamu apa-apaan sih pak?" ucap Dinda sambil berusaha melepaskan tangannya
Alex pun langsung menatap tajam ke arah Dinda
"Sebaiknya kamu masuk ke mobil aku sekarang juga, jangan paksa aku untuk berbuat kasar sama kamu!!" ucap Alex penuh penekanan
Dinda masih berusaha menarik tangannya sekuat tenaga dan Alex pun semakin kuat memegang tangan Dinda, perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh membuat Dinda harus berakhir di dalam mobil Alex. Alex pun langsung melajukan mobilnya tanpa banyak bicara
Alex melaju kan mobil tersebut dengan sangat cepat hingga membuat Dinda merasa sedikit ketakutan, Dinda pun berpegangan dengan sangat kuat dan mulai menatap ke arah Alex. Saat itu Dinda bisa merasakan bahwa Alex sedang marah besar, walaupun dia sendiri tidak tau alasan yang membuat Alex menjadi seperti itu
"Kamu kenapa sih pak? apa ga bisa pelan sedikit kamu bawa mobilnya?" tanya Dinda sedikit berteriak
Alex hanya sekilas memandang ke arah Dinda yang terlihat ketakutan tanpa mengehentikan aksinya sama sekali
"Kamu takut? kamu masih tau yang namanya rasa takut Din!! tapi kamu ga pernah merasa takut saat kamu mempermainkan hati aku berulang kali Adinda Salsabila!! malam ini juga aku akan membuat kamu merasakan pembalasan" batin Alex sambil mengeraskan rahangnya
Alex yang sudah terbakar api amarah pun semakin cepat melajukan mobilnya, dan Dinda hanya bisa pasrah dengan menutup kedua bola matanya. Alex pun hanya tersenyum dingin saat melihat Dinda semakin ketakutan
Alex membelah jalanan ibu kota yang sudah mulai tampak sepi dengan sangat cepat, Alex benar-benar berniat untuk memberikan Dinda sebuah pelajaran pada malam itu. Sedangkan Dinda hanya bisa terdiam dan pasrah agar tak membuat Alex semakin murka
Alex membawa Dinda ke sebuah rumah yang sangat mewah, orang-orang di tempat itu menunjukkan rasa hormat mereka terhadap Alex yang menandakan bahwa bahwa Alex adalah tuan rumah di tempat itu
Dengan sedikit memaksa Alex memaksa Dinda untuk keluar dari dalam mobilnya, dia pun terus menarik tangan Dinda dan masuk ke dalam sebuah kamar yang berada di rumah mewah tersebut. Dengan sangat kasar Alex melemparkan tubuh Dinda ke atas tempat tidur yang berada di dalam kamar tersebut
Dinda pun berusaha bangkit dan menatap Alex dengan tatapan membunuhnya, Alex yang melihat hal tersebut hanya memberikan sebuah senyuman yang terlihat dingin. Dengan sekuat tenaga Alex kembali melemparkan tubuh Dinda dengan kasar ke atas tempat tidur, Alex pun langsung mengunci pergerakan tubuh Dinda dengan berada tepat di atas tubuh Dinda
"Apa-apaan sih kamu!!" teriak Dinda dengan sekuat tenaga sambil berusaha meronta
Alex mengabaikan ucapan Dinda dan melepaskan dasi yang dia gunakan, tanpa rasa ragu sama sekali Alex mengikat kedua tangan Dinda dengan dasi tersebut. Alex meletakkan kedua tangan Dinda di atas kepalanya dan menahan dengan salah satu tangan nya, salah satu tangan Alex langsung mencengkram kedua pipi Dinda agar kedua bola mata mereka bisa saling bertemu
__ADS_1
"Berhenti bersikap munafik di hadapan aku, bukankah kamu baru saja meminta bantuan teman kamu untuk menjual tubuh kamu lagi." ucap Alex penuh penekanan