Perjuangan Cinta Beda Kasta

Perjuangan Cinta Beda Kasta
Angkutan Umum


__ADS_3

Saat Dinda keluar dari kelas dia pun benar-benar di buat terkejut setengah mati karena saat itu Alex berada di depan kelasnya, dan saat Alex melihat Dinda dia pun melambaikan tangannya sambil tersenyum


"Apa-apaan sih den Alex? tadi pagi kan aku udah bilang kalau aku ga mau naik mobil dia lagi, kenapa sekarang dia malah ada di depan kelas aku?"


Sedangkan Riska yang melihat Alex sudah menanti Dinda pun langsung memberikan senyuman yang menggoda kepada Dinda


"Cie yang udah di tunggu sama pangeran berkuda putih di depan kelas," bisik Riska


"Apaan sih Ris?"


"Ya udah aku duluan ya, kebetulan aku ada janji ketemu orang sebentar lagi. Lagi pula aku ga mau jadi obat nyamuk di antara kalian." ucap Riska sambil tersenyum meledek


Dinda pun hanya bisa memasang wajah malas terhadap sahabatnya tersebut dan langsung menghampiri Alex


"Kenapa den Alex ada di sini?"


"Mau ngapain lagi? ya lagi tunggu kamu selesai kelas, aku mau ajak kamu pulang bareng." ucap Alex dengan lembut


"Tadi pagi kan saya sudah bilang sama den Alex, saya ga nyaman kalau harus naik mobil den Alex." ucap Dinda dengan tegas


"Aku ingat kok, tapi kan kita tinggal satu rumah jadi ga ada salahnya dong kalau kita pulang bareng." ucap Alex dengan suara yang sengaja di buat sedikit besar


Sontak saja hal tersebut membuat beberapa orang yang berada di dekat mereka pun langsung menatap ke arah mereka, Dinda yang tak mau di buat malu lebih jauh oleh perbuatan Alex pun memilih untuk langsung memegang tangan Alex dan pergi dari situ. Alex pun tersenyum tipis melihat tangannya yang di genggam erat oleh Dinda


Setelah cukup jauh dan keadaan di sekita mereka tidak terlalu ramai Dinda pun langsung melepaskan tangan Alex dan menatap ke arah Alex dengan serius

__ADS_1


"Ya tapi saya ga mau naik mobil den Alex"


"Aku tau kok, makanya aku tungguin kamu di depan kelas kamu supaya kita bisa pulang bareng"


"Maksud den Alex?" tanya Dinda dengan wajah bingung


"Kalau kamu ga mau naik mobil aku biar aku yang naik angkutan umum"


"Sudah bisa di pastikan otak den Alex sedang bermasalah saat ini," batin Dinda sambil memutar kedua bola matanya


"Ayo pulang"


Alex mulai melangkahkan kakinya dengan pasti ke arah di mana Dinda selalu menunggu angkutan umum selama ini, dan Dinda pun hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki Alex. Dinda tak yakin Alex akan memiliki kesabaran untuk menunggu angkutan umum yang akan mereka tumpangi datang


Tetapi dugaan Dinda salah karena Alex benar-benar membuktikan ucapannya, dia ikut menunggu angkutan umum datang bersama Dinda. Dan yang lebih mengejutkan Alex benar-benar ikut naik ke dalam angkutan umum tersebut bersama Dinda


"Sok-sokan naik angkutan umum sih!! dari kecil udah biasa jadi pangeran sekarang mau coba mau coba sebagai peran rakyat jelata. Rasain deh den yang namanya kegerahan dan bau keringat orang-orang"


Setelah mereka turun dari angkutan umum pun perjuangan Alex belum berhenti sampai di situ, karena kini mereka masih harus berjalan kaki cukup jauh untuk menuju ke kediaman keluarga Wijaya. Alex yang sudah biasa menggunakan mobil kesayangannya benar-benar tertekan dengan itu semua


"Gimana den rasanya naik angkutan umum?" tanya Dinda sambil tersenyum meledek


"Ga enak," ucap Alex dengan dingin


"Kalau gitu mulai besok ga usah sok-sokan ikutan saya naik angkutan umum lagi ya den," ucap Dinda dengan tegas

__ADS_1


"Ga mau, kalau untuk yang satu itu ga bisa di tawar lagi. Pilihannya cuma dua, kamu naik mobil aku atau kita naik angkutan umum aja?" ucap Alex dengan wajah serius


Dinda pun hanya bisa membuang nafasnya dengan kasar, dia memilih untuk tak mau memperpanjang masalah tersebut karena dia yakin Alex tak akan sanggup melakukan hal tersebut setiap hari. Dinda melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arah kediaman keluarga Wijaya, sedangkan Alex dengan setia mengikuti langkah kaki Dinda dari belakang


"Aku tau apa yang membuat kamu terlihat enggan untuk mencoba menjalin hubungan sama aku Din, tapi maaf ya aku ga akan menyerah dengan mudah. Karena ini pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini kepada perempuan, jadi kamu harus bertanggung jawab karena sudah masuk ke dalam hati aku Din"


Alex pun hanya tersenyum melihat Dinda yang berusaha berjalan dengan cepat dan terus mengabaikan dirinya, saat tiba di kediaman keluarga Wijaya Dinda pun langsung menuju ke rumah belakang tanpa menoleh sedikit pun ke arah Alex. Dinda hanya berharap dengan semua sikap yang dia tunjukkan akan membuat Alex menyerah


Sedangkan Alex hanya tersenyum tipis melihat perjuangan keras Dinda untuk membuat dia menjauh


"Kamu kenal aku dari kecil Din, seharusnya kamu juga tau kalau aku ga akan menyerah untuk sesuatu yang aku inginkan"


Alex pun memilih untuk kembali ke kamarnya dan langsung membersihkan diri karena merasa tubuhnya lengket dengan keringat dan bercampur bau kurang sedap, selesai membersihkan diri Alex pun mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dan tiba-tiba saja Alex mengingat pengalaman pertama dirinya saat naik angkutan umum


"Udah gerah, duduknya harus nempel-nempel begitu. Kenapa sih Dinda lebih milih naik angkutan umum dari pada mobil aku?" gumam Alex


Tiba-tiba saja Alex pun teringat pengalaman dirinya saat di dalam angkutan umum, dia harus duduk di himpit oleh dua orang ibu-ibu yang baru saja pulang berbelanja. Dan wajah Alex yang sangat tampan membuat kedua ibu tersebut terus saja menggoda dirinya


"Tunggu dulu," Alex pun mendudukkan tubuhnya dengan sempurna dengan wajah tegang


"Apa Dinda juga pernah ada pengalaman sama seperti aku tadi? gimana kalau pas Dinda naik angkutan umum sendirian terus yang duduk di samping dia laki-laki genit?" gumam Alex dengan wajah semakin panik


Alex pun langsung membayangkan hal tersebut dan hatinya menjadi semakin tak tenang di buat oleh khayalan yang dia ciptakan sendiri


"Dinda kan cantik pasti banyak laki-laki hidung belang yang coba ganggu dia!! akh!! ga bisa aku ga bisa diam aja, aku harus pikirkan sebuah cara"

__ADS_1


Alex pun memaksa otaknya untuk bekerja lebih keras memikirkan sebuah alasan yang dapat di terima dengan baik oleh Dinda maupun keluarganya


__ADS_2