
Di sepanjang malam Alex terus memikirkan keadaan Dinda, Dinda memang berada tak jauh dari dirinya tetapi dia tak mempunyai cara untuk melihat keadaan Dinda pada saat itu
"Dari tadi gw hampir gila karena pengen tau kabar dia, kenapa gw bisa lupa kalau gw punya nomor dia?" ucap Alex sambil menempuk jidatnya
Alex pun langsung mencari keberadaan ponselnya dan mulai mengirimkan pesan kepada Dinda
"Kamu lagi apa?"
"Saya lagi belajar den"
"Apa kamu baik-baik aja?"
"Saya baik-baik aja den, apa den Alex butuh sesuatu?"
Alex pun langsung mengerutkan keningnya saat membaca pesan terakhir yang Dinda kirimkan
"Aku lagi perhatian sama kamu loh!! kenapa kamu malah tanya aku butuh apa?!!" Alex meneriaki ponselnya
Seandainya ponsel tersebut bisa berbicara maka dia akan bertanya kepada Alex, mengapa Alex meneriaki dirinya yang tak salah apapun? Alex yang merasa jengkel pun langsung membuang ponselnya ke sembarang arah. Sedangkan Dinda di tempat yang berbeda pun hanya bisa merasa bingung dengan itu semua
Keesokan harinya Alex sudah berada di tempat di mana Dinda selalu menunggu angkutan umum, sekali ini bahkan Alex tiba lebih dulu di tempat itu yang menandakan bahwa Alex sengaja menunggu kehadiran Dinda di tempat itu
Dinda yang menyadari bahwa mobil Alex berada tak jauh dari tempat itu memilih untuk berpura-pura tak melihat mobil Alex, dan Alex pun memilih untuk mengalah dan melajukan mobilnya tepat di hadapan Dinda. Alex pun membuka salah satu kaca mobilnya
"Ayo naik, kita berangkat bareng aja"
"Ga usah den, lebih baik saya naik angkutan umum aja." ucap Dinda dengan sopan sambil tersenyum
Bagaimana pun juga kenangan tentang hari kemarin masih teringat jelas di dalam benak Dinda, dia hanya tak ingin hal serupa bisa terulang kembali kepada dirinya. Tetapi yang terjadi selanjutnya adalah Alex turun dari dalam mobilnya dan membawa Dinda masuk ke dalam mobilnya, Dinda pun hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Alex
Dan saat sudah mendudukan tubuhnya di mobil Alex, Dinda tak mau mengulangi kejadian yang sama dia pun langsung memakai sabuk pengaman. Dan Alex pun langsung melajukan mobilnya
__ADS_1
"Kenapa tadi kamu nolak naik mobil aku?" tanya Alex sambil melirik sekilas ke arah Dinda
Dinda hanya terdiam dan memandang malas ke arah Alex
"Ya karena semua orang di dunia ini akan lebih memilih untuk menghindari yang namanya sumber masalah den, cuma orang gila yang mau berurusan sama cewe gila yang lagi cemburu. Ya itu juga karena mereka sama-sama gila" gerutu Dinda di dalam hatinya sambil menatap malas ke arah Alex
Alex hanya melihat sekilas ke arah Dinda sambil tersenyum tipis
"Lama-lama kamu makin berani ya sama aku, di tanya bukannya jawab malah ngeliatin orang sampai kayak gitu"
Dinda yang tersadar akan kesalahan yang dia lakukan pun langsung memasang senyuman canggung
"Oh ya maaf ya den, saya tadi ga dengar." ucap Dinda sambil tersenyum
Alex tau dengan pasti bahwa saat itu Dinda sedang berbohong tetapi Alex hanya tersenyum tipis
"Terus apa alasan kamu tadi ga mau naik mobil aku?"
Bukannya merasa marah Alex malah melakukan sesuatu yang membuat Dinda sedikit terkejut, Alex meletakkan tangannya dengan lembut di ujung kepala Dinda
"Mulai sekarang kamu bisa tenang kok, mulai sekarang kamu ga akan lagi ketemu sama orang-orang gila itu di kampus." ucap Alex dengan lembut
"Maksud den Alex?" tanya Dinda dengan serius
Alex tak memberikan jawaban apapun dia pun hanya tersenyum tipis yang membuat Dinda semakin merasa heran dengan semua perubahan sikap Alex
"Pasti den Alex berubah karena den Alex merasa bersalah kejadian kemarin, ga mungkin banget kalau den Alex berubah karena den Alex suka sama aku. Itu sesuatu yang mustahil banget bisa terjadi"
Alex selalu membuka pembicaraan ini dan itu untuk mencairkan suasana di antara mereka, dan itu adalah sesuatu yang benar-benar aneh untuk di lakukan seorang Alexander Wijaya. Dinda pun semakin merasa curiga dengan dugaan yang dia anggap mustahil
Dinda pun teringat masa lalu saat mereka mulai beranjak dewasa, suatu hari Dinda sedang bermain dengan riang bersama Alexa. Dan saat Alexa ke kamar kecil Alex sengaja memecahkan salah satu vas bunga yang terbuat dari keramik di halaman rumah mereka karena merasa mereka terlalu bising
__ADS_1
Sialnya pecahan vas bunga tersebut melukai kaki Alexa yang baru saja kembali ke tempat itu, saat kedua orang tua Alex kembali sang pemimpin keluarga Wijaya langsung memarahi Dinda tanpa bertanya terlebih dahulu
Saat itu Alex terlihat biasa saja tanpa rasa penyesalan sama sekali sebagai pelaku utama dari kejadian tersebut, amarah sang pemimpin keluarga mulai berhenti karena Alexa mengatakan bahwa dia yang tak sengaja memecahkan vas tersebut dan dia telah lalai tak menggunakan alas kaki pada saat itu
"Tapi setau aku den Alex bukan tipe orang yang bisa menunjukkan perasaan bersalah, bahkan dulu dia bisa bersikap biasa aja setelah melakukan kesalahan"
Dan sesampainya di parkiran kampus Dinda memilih untuk mempertegas situasi yang ada di antara mereka, Dinda hanya tak mau hubungan antara dirinya dan Alex terjalin dengan aneh seperti saat itu
"Bisa saya ngomong sebentar sama den Alex?" tanya Dinda dengan serius
Alex pun langsung menatap ke arah Dinda
"Ada apa? apa masih ada orang lain yang cari masalah sama kamu?" tanya Alex dengan wajah serius
"Ya den itu benar"
Alex pun semakin memasang wajah tidak suka mendengar ucapan Dinda pada saat itu
"Siapa orang yang berani ganggu kamu? kasih tau aku sekarang juga." ucap Alex dengan tegas
"Orang itu kamu den"
"Aku ganggu kamu?" tanya Alex sambil mengerutkan keningnya
"Ya den, jujur aja saya merasa sikap den alex ke saya sekarang sedikit berlebihan. Dan jujur den saya merasa kurang nyaman kalau harus naik mobil den Alex seperti sekarang." ucap Dinda dengan berhati-hati
"Apa menurut kamu sikap aku ke kamu sekarang berlebihan?"
Dinda pun memberanikan dirinya untuk menjawab dengan anggukkan kepalanya
"Kalau den Alex bersikap seperti ini karena den Alex merasa bersalah saya rasa itu ga perlu den, karena kejadian kemarin bukan sepenuhnya kesalahan den Alex. Saya juga salah karena saya terlalu percaya sama mbak Valen dan saya yang mau mengikuti mbak Valen waktu itu"
__ADS_1
"Kamu salah Din, aku memang merasa bersalah karena aku ga bisa menjaga orang yang aku suka dengan baik. Dan sekarang aku benar-benar sudah menyadari perasaan yang aku punya untuk kamu Din, aku benar-benar mencintai kamu Dinda"