
Dinda dan Alexa pun sudah menyelesaikan makan siang mereka dan Dinda sudah mulai terlihat memerhatikan jam tangan yang dia gunakan, dan Alexa pun mengerti kegelisahan hati Dinda pada saat itu
"Aku antar kamu balik ke tempat kerja kamu ya"
"Ya kak"
Alexa segera menyelesaikan urusan pembayaran, mereka pun sudah akan keluar dari tempat itu. Dan saat mereka akan keluar dari tempat itu mereka harus berpapasan dengan Alex dan Melinda yang baru saja tiba di tempat itu
"Loh mbak Dinda, sudah mau pulang?" tanya Melinda dengan ramah
"Ya mbak"
Saat itu Alex hanya terdiam dengan wajah dingin seperti biasanya dan Dinda hanya bisa melirik sekilas ke arah Alex lalu mengalihkan kembali pandangan matanya
"Ini tunangan kamu kak?" tanya Alexa menatap ke arah Melinda
"Kamu kenal Alex?" tanya Melinda dengan wajah bingung
"Apa kak Alex ga bilang kalau dia cuma punya satu adik perempuan? dan kami terlahir kembar" ucap Alexa merasa sedikit bingung
Saat itu Melinda hanya bisa memasang wajah bingung karena dia memang tak mengetahui apapun tentang Alex, Alexa pun langsung menjulurkan tangannya dan mengajak Melinda untuk berkenalan. Sedangkan Alex tetap bersikap seolah biasa saja
"Jadi kalian saling kenal?" tanya Melinda sambil menatap ke arah Alexa dan Dinda
Alexa menganggukkan kepalanya
"Kami tinggal bersama dari kecil, aku bahkan sudah anggap Dinda seperti adik aku sendiri." ucap Alexa dengan santai
Sudah pasti Alexa mengakui Dinda di hadapan orang lain tanpa rasa ragu, bagaimana pun juga dia tak tau apapun yang sudah terjadi antara mereka bertiga. Melinda pun langsung menatap ke arah Alex dengan sejuta pertanyaan di dalam hatinya
"Jangan membuang waktu, apa kamu lupa alasan kita datang ke tempat ini?" ucap Alex dingin
"Kapan-kapan kita ketemuan ya," ucap Melinda sopan kepada Alexa
__ADS_1
Mereka pun saling berpisah dengan tujuan mereka masing-masing, tetapi sudah pasti masalah tak akan berhenti sampai di situ. Karena Melinda merasa ada yang tidak benar antara Alex dan Dinda
Alex dan Melinda melanjutkan langkah kakinya ke arah ruangan VVIP yang sudah di pesan di tempat itu, Melinda pun menatap Alex dengan lekat
"Jadi ternyata kamu sudah kenal mbak Dinda ya sayang?"
Alex hanya melirik sekilas dan mengabaikan pertanyaan Melinda
"Tapi kenapa waktu pertama kita ketemu mbak Dinda kalian bersikap seperti orang yang ga saling kenal?"
Alex langsung mengehentikan langkah kakinya dan menatap Melinda dengan dingin
"Apa aku punya kewajiban untuk memperkenalkan semua orang yang aku kenal dengan baik?"
"Ya bukan begitu juga maksud aku, tapi semua jadi terasa aneh. Kita sudah mau tunangan tapi bisa di bilang aku ga tau apapun tentang kamu," ucap Melinda dengan tegas
"Jangan membuat onar, atau sebaiknya kita akhiri saja pertemuan hari ini." ucap Alex dengan dingin tapi penuh penekanan
Melinda hanya bisa menahan diri dan melanjutkan langkah kakinya di mana sudah ada beberapa orang yang menanti mereka, hari itu adalah hari di mana perusahaan mereka berdua akan melakukan penanda tanganan kerja sama
Sudah pasti keluarga besar Melinda menyambut tawaran Alex dengan perasaan bahagia, sedangkan Alex hanya menjadikan Melinda sebagai alat untuk melengkapi rencananya
Di tempat yang berbeda selama perjalanan Dinda menunjukkan sikap yang biasa saja di hadapan Alexa, dan hal tersebut membuat Alexa semakin yakin bahwa tak ada lagi hubungan yang terjalin antara Alex dan Dinda. Hal tersebut membuat dia memutuskan untuk menutup rapat semua yang dia ketahui
Waktu pun terus berlalu Alex sama sekali tak pernah menunjukkan batang hidungnya di hadapan Dinda, dan sudah pasti Dinda pun tak pernah menghubungi atau mencari Alex sama sekali
Dinda terus menyibukkan dirinya dengan berbagai hal termasuk bertemu dengan sahabatnya, Dinda melakukan apapun untuk bisa mengalihkan pikirannya saat itu
Tanpa terasa sudah hampir satu minggu waktu terlewati begitu saja, belum ada perubahan yang terjadi antara Alex dan Dinda. Mereka seperti asik dengan dunia meraka masing-masing
Tanpa ada yang tau bahwa akhirnya Melinda mengutus seseorang untuk mencari tau tentang Dinda yang sebenarnya, dia benar-benar yakin bahwa hubungan antara Alex dan Dinda tidak mungkin sesederhana itu
Melinda mengeraskan rahangnya saat menerima informasi yang dia butuhkan, di situ tercatat dengan jelas bahwa Dinda adalah anak dari seorang supir yang bekerja di kediaman keluarga Wijaya. Dinda bersama keluarganya di minta meninggalkan rumah mewah tersebut, karena Dinda menjalin hubungan dengan Alex
__ADS_1
Dan dari data-data tersebut menjelaskan semua tentang Dinda, sampai permasalahan Dinda yang kini tinggal di apartemen milik Alex
"Sesuai dugaan aku, hubungan mereka ga mungkin sesimpel itu. Aku ga perduli apa yang kalian lakukan di belakang aku, atau apapun yang sudah terjadi di masa lalu kalian. Yang pasti saat ini Alex memilih aku sebagai tunangan dia, dan perempuan seperti kamu ga pantas bersaing sama aku!!"
Hari itu Dinda yang sedang bekerja mendapatkan sebuah panggilan telepon, Dinda pun mencoba menenangkan hatinya dan menjawab panggilan telepon tersebut
"Selamat siang ibu Melinda"
"Selamat siang mbak, apa siang ini mbak ada waktu?"
"Iya bu, ada apa ya?"
"Kami sudah menentukan akan menggunakan gedung yang mana, jadi rencana nya hari ini kami akan ke sana untuk survei tempat"
"Saya mengerti bu, apa saya bisa minta alamat gedungnya?"
"Oke, saya kirimkan ke mbak ya"
Dinda sudah tiba di tempat itu lebih dahulu, sedangkan Alex tiba di tempat itu bersama dengan Melinda. Saat itu hati Dinda bagaikan tersayat pisau yang sangat tajam melihat pemandangan tersebut. Bagaimana pun juga laki-laki tersebut kini telah menjadi suaminya
"Setelah malam itu kamu ga pernah sekalipun pulang kak, kamu bahkan ga pernah menghubungi aku sekali pun. Tapi aku bisa melihat kamu bersama perempuan lain sebanyak dua kali"
Hari itu Melinda yang sudah mengetahui tentang Dinda bersikap melebihi sikap dia yang biasanya, dia terus saja merangkul tangan Alex dan selalu menunjukkan sikap manja di hadapan Dinda. Gadis itu seolah ingin menunjukkan kepada Dinda tentang posisi mereka masing-masing
Mereka terus membahas ini dan itu untuk acara tersebut, dan sudah pasti Dinda berusaha untuk bersikap profesional dan selalu menampilkan senyuman ramah di bibirnya
Tetapi ada satu waktu di mana Melinda hampir saja terjatuh dan secara spontan Alex pun memegang pinggang Melinda agar gadis tersebut tidak terjatuh, di saat Melinda sedang merasa bahagia di saat itulah Dinda tak bisa menutupi ekspresi wajahnya
Dinda memang menundukkan kepalanya tapi ekspresi wajahnya melukiskan kesedihan dan Alex sempat melihat hal tersebut, Dinda juga beberapa kali tertangkap basah mencuri pandang ke arah Alex. Alex pun tersenyum puas melihat kepedihan hati Dinda pada saat itu
Setelah semua urusan di tempat itu di anggap cukup, Dinda pun segera berpamitan dia hanya ingin segera menjauh dari kedua orang tersebut
"Apa mbak ga mau ikut kita makan siang bareng dulu?"
__ADS_1
"Terima kasih mbak, tapi maaf saya ga bisa. Kebetulan hari ini saya masih ada kerjaan lain." ucap Dinda dengan sopan sambil tersenyum
Alex hanya terdiam dan memasang wajah dingin seperti biasanya, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa bahagia karena setidaknya apa yang dia lakukan kini mulai membuahkan hasil