
Alex langsung membawa Dinda pergi dari tempat itu, sedangkan pria tersebut langsung memanggil asisten pribadinya dan memerintahkan sesuatu kepada asisten pribadinya
Di sepanjang perjalanan Dinda hanya bisa terdiam sambil terus menundukkan kepalanya, raut wajah Dinda saat itu bisa menunjukkan dengan jelas apa yang dia rasakan pada saat itu
Dinda benar-benar tak pernah menginginkan bertemu dengan pria tersebut untuk selamanya, karena pertemuan Dinda dengan pria tersebut hanya akan membuat dia harus mengingat kembali kenangan pahit di dalam hidupnya
Saat itu ada seribu pertanyaan bersarang di dalam benak Alex, tetapi melihat keadaan Dinda yang seperti itu membuat dia tak sampai hati untuk menanyakan itu semua
"Apa ga sebaiknya kamu meminta izin untuk langsung pulang ke rumah aja?"
Dinda pun mengeluarkan ponselnya untuk meminta ijin, sedangkan Alex langsung membawa Dinda kembali ke apartemen mereka. Alex mengantarkan Dinda hingga ke dalam kamar dan membaringkan tubuh Dinda dengan perlahan, dia juga menutupi tubuh Dinda dengan baik
"Apa kamu bisa aku tinggal?"
Dinda hanya menjawab dengan anggukan kepalanya
"Aku ada pertemuan penting sebentar lagi, sehabis itu aku langsung pulang ya." ucap Alex dengan lembut
Dan lagi-lagi Dinda hanya menjawab dengan anggukan kepalanya, saat itu Dinda benar-benar tak memiliki kekuatan apapun di dalam dirinya bahkan untuk sebatas menjawab ucapan Alex pun serasa tak ada
Alex pun segera meninggalkan Dinda dan pergi dari apartemen tersebut, sesungguhnya hati Alex benar-benar berat untuk meninggalkan Dinda seorang diri. Karena dia yakin keadaan Dinda saat itu tidak baik-baik saja, tetapi dia juga harus meninggalkan Dinda pada saat itu
Alex menyelesaikan segala urusannya secepat mungkin karena pikirannya saat itu hanya tertuju kepada Dinda, tanpa menunda waktu Alex segera kembali ke apartemen mereka setelah semua urusannya selesai
Saat Alex tiba di apartemen meraka dia harus menyaksikan sebuah pemandangan yang membuat dia tak suka, karena lagi-lagi di hadapan Dinda sudah ada sebotol wine yang sudah hampir habis
Alex mencoba untuk mengerti perasaan Dinda saat itu, dia pun membuang nafasnya dengan kasar untuk mengusir perasaan jengkel di dalam hatinya. Alex memilih untuk mendudukkan tubuhnya di samping Dinda
"Kenapa kamu minum itu lagi?"
__ADS_1
Dinda hanya terdiam dengan wajah bersedih
"Siapa sebenarnya laki-laki tadi? kenapa kamu jadi ketakutan waktu ketemu dia?" tanya Alex dengan lembut
Dinda mulai menatap ke arah Alex dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Alex yang tak kuat melihat hal tersebut langsung memeluk tubuh Dinda dengan erat
"Apa dia laki-laki itu?" ucap Alex dengan sedikit berbisik
Dinda pun menangis dengan hebatnya di dalam pelukan Alex pada saat itu, tanpa Dinda menjawab pertanyaan yang Alex berikan sekali pun dia bisa mengetahui jawabannya
"Aku minta maaf sama kamu kak, seharusnya dulu aku ga perlu berbuat sejauh itu. Dan sekarang apa yang terjadi sama kita berdua kak?" ucap Dinda dengan suara yang terputus-putus tertahan oleh tangisan
Alex pun semakin mengeratkan pelukannya, bukan hanya karena tangisan Dinda tapi karena kata-kata yang Dinda ucapkan saat itu adalah kata-kata yang dia nantikan selama ini
"Semuanya sudah terjadi, kamu harus mulai belajar untuk melupakan masa lalu kamu yang pahit." ucap Alex dengan lembut sambil mengelus punggung Dinda dengan lembut
"Apa aku boleh meminta sesuatu dari kamu kak?"
Alex pun mulai melepaskan pelukannya dan menatap Dinda dengan lembut
"Kamu mau minta apa?"
"Tolong lepaskan aku kak"
Dalam sekejap tatapan mata Alex yang lembut pun langsung menghilang entah kemana
"Aku mohon bebaskan aku dari ikatan yang kamu buat kak, biarin aku dan ibu pergi dari sini dan menghilang seperti dulu lagi kak"
"Kenapa kamu minta itu dari aku Din?" tanya Alex sambil mengeraskan rahangnya
__ADS_1
"Karena dengan kamu menjadikan aku wanita simpanan kamu, kamu memaksa aku mengingat kesalahan yang sudah aku lakukan kak. Dan aku rasa kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku" ucap Dinda di dalam hatinya
Dinda hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya dan air mata yang tak mau berhenti, sedangkan Alex terus menatap tajam ke arah Dinda
"Kenapa kamu minta itu dari aku Din? dulu kamu yang berkhianat, dulu kamu juga yang pergi tinggalin aku begitu aja. Sekarang dengan gampang kamu minta itu dari aku, apa aku ga pernah ada di hati kamu Din ?'"
Dan lagi-lagi mereka berdua hanya saling menyakiti untuk sebuah masa lalu yang penuh rahasia, mereka hanya memikirkan apa yang ada di dalam pikiran mereka sendiri tanpa mau berusaha untuk saling terbuka
Alex langsung mengangkat wajah Dinda dan mencium bibir Dinda dengan lembut, lambat laun Dinda pun mulai ikut terhanyut dan melupakan semua kesedihan yang sedang dia rasakan. Alex melepaskan ciumannya dan menatap Dinda dengan wajah serius
"Aku sudah pernah bilang ke kamu, aku ga akan pernah melepaskan kamu." ucap Alex dengan mata yang sayu
Alex pun melanjutkan ciuman mereka yang sempat tertunda, dan berakhir dengan dengan sesuatu yang jauh lebih panas. Alex melakukan segala hal dengan sangat sempurna pada malam itu, dia tak mau memberikan Dinda kesempatan untuk bernafas dan terus memberikan serangan yang bertubi-tubi sepanjang malam
Saat pagi menyapa Dinda yang mulai terjaga dari tidurnya merasa sedikit terkejut karena saat itu Alex masih setia berada di samping nya dan terus menatap ke arah dirinya
"Kamu sudah bangun kak?"
"Kamu mandi duluan aja, nanti sebelum berangkat kerja kita bicara dulu"
Dinda pun memilih untuk mengikuti keinginan Alex dan kini mereka sudah dalam keadaan rapi dan duduk saling berhadapan
"Dengarkan aku baik-baik, aku harap kamu ga akan pernah lagi mengulangi ucapan kamu tadi malam. Jangan pernah meminta hal aneh seperti itu lagi ke aku"
"Apanya yang aneh kak? apa aku ga punya hak untuk menentukan jalan hidup aku kak? padahal sebentar lagi kamu juga akan meresmikan hubungan kamu dengan perempuan lain," ucap Dinda di dalam hatinya sambil tersenyum getir
"Saat pertama kita melakukan itu, aku sudah bilang sama kamu kalau kamu sudah seutuhnya menjadi milik aku. Aku ga akan mengizinkan kamu memberikan hati kamu ataupun apapun bagian dari tubuh kamu untuk orang lain," ucap Alex dengan tegas
"Tapi sebentar lagi aku harus berbagi kamu dengan orang lain kak," ucap Dinda dengan suara yang kecil tetapi tetap terdengar
__ADS_1