
Entah mengapa saat itu hati Dinda tak merasakan perasaan takut sama sekali walaupun Alex sudah berteriak sekuat yang dia bisa, Dinda pun menampilkan sebuah senyuman yang terlihat sinis
"Baik.. Anggap lah saya sebagai seorang pendosa di masa lalu anda tuan Alexander Wijaya yang terhormat, anda bisa membenci saya sesuka hati anda . Tapi saat ini saya yang sudah melanjutkan hidup saya dengan baik, maka lakukan hal yang sama terhadap hidup anda juga tuan. Saya harap anda bisa berhenti untuk melakukan hal bodoh seperti ini di kemudian hari," ucap Dinda dengan tegas
"Semudah itu mulut kamu berbicara Din, kamu bahkan ga pernah tau perjuangan aku di masa lalu untuk kamu. Aku juga berharap bisa melanjutkan hidup aku dengan baik, tapi kamu meninggalkan luka yang terlalu dalam Din. Aku benar-benar membenci kamu Din!!" batin Alex sambil mengeraskan rahangnya
Alex pun semakin terbakar emosi karena mengingat semua perjuangan dirinya di masa lalu untuk Dinda, tanpa berpikir panjang Alex langsung menarik tengkuk leher Dinda dan mencium bibir Dinda dengan kasar
Dinda yang sudah semakin terbakar api amarah pun melepaskan ciuman Alex, lalu memberikan sebuah hadiah tambahan berupa sebuah tamparan yang sangat keras di pipi Alex pada saat itu
"Kamu berani tampar saya?" tanya Alex dingin sambil menatap tajam
"Tentu saja saya berani melakukan itu tuan Alexander Wijaya yang terhormat, karena ini adalah tubuh saya dan saya mempunyai hak untuk menentukan siapa saja orang yang boleh menyentuh tubuh saya." ucap Dinda dengan tegas
Semua ucapan Dinda hanya bisa membuat Alex terdiam sambil mengeraskan rahangnya, Alex pun langsung teringat dengan semua pengkhianatan yang pernah Dinda lakukan di masa lalu. Alex pun langsung tersenyum dingin
"Maaf karena saya lupa kalau itu memang tubuh kamu, tapi bukankah kamu tipe wanita yang bersedia memberikan tubuh kamu hanya demi uang. Jadi bilang ke saya berapa banyak uang yang kamu butuhkan agar kamu bisa memberikan tubuh kamu itu?" ucap Alex dengan dingin dan terdengar sinis
Dinda pun membuang nafasnya dengan kasar lalu mulai menatap ke arah Alex
"Apa anda merasa tertarik untuk menyentuh tubuh saya yang telah kotor ini tuan?" tanya Dinda sambil tersenyum manja
Sikap Dinda membuat Alex semakin terbakar api amarah, bahkan rasanya ingin sekali Alex merobek mulut Dinda pada saat itu. Alex benar-benar tak suka dengan sosok Dinda yang seperti itu, sosok yang sangat berbeda dengan sosok yang pernah dia kenal dahulu kala
__ADS_1
Sedangkan Dinda melakukan hal tersebut sebagai bentuk perlawanan atas penghinaan yang Alex lakukan terhadap dirinya, setidaknya Dinda tak mau di anggap lemah lagi seperti tadi
"Sepertinya orang terhormat seperti anda tidak mungkin memiliki keinginan untuk menyentuh tubuh saya, jadi saya harap anda bisa membuka kunci pintu mobil anda tuan. Saya hanya ingin membawa tubuh saya yang kotor ini menjauh dari anda"
"Apa saya sudah memberikan izin kamu untuk pergi?" tanya Alex sambil menatap tajam
"Sepertinya anda belum mengerti juga tuan, sebanyak apapun uang yang anda miliki anda tidak akan bisa memiliki tubuh saya apalagi hati saya tuan. Saya akan merasa lebih rela tubuh saya di sentuh oleh seluruh laki-laki yang ada di dunia ini dari pada di sentuh oleh anda tuan Alexander Wijaya yang terhormat"
Ucapan dan sikap Dinda benar-benar membuat Alex tak bisa lagi menahan rasa amarahnya, tanpa sadar Alex pun melayangkan tangannya dan berhasil mendarat mulus di pipi Dinda. Dinda pun membalas dengan senyuman tipis sambil memegang pipinya yang masih terasa berdenyut
"Saya harap tamparan anda bisa membayar lunas semua hutang yang saya miliki terhadap anda dan keluarga anda tuan, jadi bisa kan anda membiarkan saya pergi saat ini?"
Alex pun membuka kunci pintu mobilnya tanpa mau melihat ke arah Dinda sama sekali, sedangkan Dinda segera turun dari mobil Alex dan pergi meninggalkan Alex dengan perasaan yang kacau balau
"Jangan menangis Dinda, jangan menangis untuk laki-laki seperti itu. Jangan jatuhkan air mata kamu untuk laki-laki seperti itu"
Pada saat itu sebagian hati Alex terasa sakit akan semua perbuatan Dinda baik di masa lalu ataupun saat itu, tetapi sebagian hati Alex benar-benar merasa menyesal telah memukul wanita yang tak pernah menghilang dari dalam hatinya tersebut
"Apa yang baru aja aku lakukan? kenapa tadi aku ga bisa menahan amarah aku? kenapa tadi tangan aku sampai menampar pipi Dinda? ternyata kamu ga lebih dari dari laki-laki pengecut dan bajingan Alex!!" gumam Alex
Dan tiba-tiba saja Alex pun langsung melayangkan tangannya dengan sangat kuat ke pipinya sendiri beberapa kali, Alex hanya berharap dengan cara itu dia bisa menembus kesalahan yang baru saja dia perbuat terhadap Dinda
Sedangkan Dinda di tempat yang berbeda hanya melangkahkan kakinya tanpa arah, Dinda yang merasa mulai lelah mendudukkan tubuhnya di sebuah bangku di sebuah taman. Dan akhirnya air mata yang Dinda tahan sedari tadi bisa meluncur dengan bebas
__ADS_1
"Apa karena kalian memiliki banyak harta kalian bisa menilai kami serendah itu? kalian hanya mengingat bagian terburuk dari kami, tapi kalian tidak mengingat bagian terburuk dari diri kalian sendiri." batin Dinda dengan air mata yang semakin deras
Setelah sekian lama Dinda yang selalu berusaha untuk tegar dengan semua cobaan yang menghampiri dirinya, akhirnya pada hari itu dia bisa melepaskan semua beban yang bersarang di dalam hatinya selama ini
Cukup lama Dinda membiarkan air matanya mengalir bebas untuk pertama kalinya, dia pun segera menghapus air matanya dan mencoba mengatur nafasnya saat ponselnya mulai berdering. Setelah merasa cukup tenang dia pun mulai menjawab panggilan teleponnya
"Selamat siang"
"Siang"
" Maaf, apa benar ini pihak keluarga dari ibu Sari Pertiwi?" tanya orang di seberang sana
"Oh ya benar mbak, saya anaknya. Ada apa ya mbak?"
"Kami mau mengabarkan bahwa ibu anda mengalami kecelakaan di jalan raya"
Sudah jatuh tertimpa tangga pula itu adalah sebuah pepatah yang bisa menggambarkan keadaan yang Dinda alami pada saat itu, Dinda pun segera melupakan semua kejadian yang baru saja terjadi kepada dirinya
"Bagaimana keadaan ibu saya sekarang mbak?" tanya Dinda panik
"Ibu anda sedang dalam penanganan"
"Ibu saya ada di mana mbak?"
__ADS_1
"Ibu anda sekarang berada di rumah sakit Tiara Bunda"
"Saya akan segera ke sana mbak"