
Irwan terus memperhatikan Dinda dalam diam hingga Dinda terlihat lebih baik
"Jadi apa yang akan kamu lakukan saat ini?" tanya Irwan dengan wajah serius
Dinda hanya bisa terdiam karena saat itu dia merasa seluruh otaknya seperti kosong dan tak bisa memikirkan apapun
"Kalau kamu mau saya bersedia untuk membantu kamu," ucap Irwan dengan bersungguh-sungguh
Dinda pun mulai menatap Irwan dengan tajam, tatapan mata Dinda saat itu seolah menunjukkan bahwa dia menaruh rasa curiga yang teramat besar kepada Irwan
"Apa tujuan anda yang sebenarnya tuan?"
"Saya tidak memiliki tujuan apapun terhadap kamu ataupun Alex, dan sebelum kamu membuat keputusan akhir sebaiknya kamu beritahu kepada saya. Apa kamu masih mencintai Alex setelah mengetahui semua kebenaran di masa lalu kalian? apa kamu bisa memaafkan kesalahan orang tua Alex?"
Dinda saat itu benar-benar tak tau harus mengambil sikap seperti apa, di satu sisi dia hanya ingin hidup bahagia bersama Alex tetapi di sisi lain permasalahan di masa lalu mereka bukanlah hal yang mudah untuk di selesaikan
Dinda berpikir untuk memaafkan segala perbuatan orang tua Alex, tetapi dia juga mendengar sendiri ancaman yang di berikan Melinda. Dia juga harus memikirkan perasaan sang ibu bila seluruh dunia mengetahui tentang kejadian tersebut, sedangkan Irwan hanya bisa meyakinkan Dinda bahwa dia akan membantu Dinda sebaik mungkin
"Apa yang anda dapatkan dengan melakukan ini membantu pak? sebagai seorang pengusaha anda pasti tidak akan mau melakukan sesuatu yang tidak ada untungnya bagi anda," ucap Dinda sambil menatap dengan serius
Irwan hanya tersenyum tipis
"Apa kamu ragu menerima bantuan dari saya karena kamu berpikir saya mengharapkan sesuatu dari ini semua?"
"Itu masalahnya pak, bagaimana saya bisa percaya anda akan membantu saya sejauh itu? sedangkan anda tidak mendapatkan apapun dari itu semua"
"Jawabannya mudah," ucap Irwan sambil tersenyum tipis
__ADS_1
Dinda pun menatap ke arah Irwan semakin lekat
"Karena saya ingin menebus sedikit perasaan bersalah saya terhadap kamu, jadi buang jauh-jauh perasaan curiga kamu terhadap saya. Saya bisa menjamin bahwa saya hanya berniat membantu kamu tanpa mengharapkan imbalan apapun," ucap Irwan dengan bersungguh-sungguh
Saat itu Dinda tak bisa melihat sedikit pun kebohongan dari kedua mata Irwan dia hanya bisa melihat sebuah ketulusan di sana, setelah cukup puas membahas ini dan itu Dinda pun segera berpamitan dan meninggalkan tempat itu
Saat Dinda keluar dari tempat itu dia menyempatkan diri untuk memeriksa ponselnya, ada dua buah pesan yang masuk ke dalam ponselnya satu pesan berasal dari Alex dan yang satu lagi berasal dari Riska
"Aku minta maaf kalau semalam aku mabuk dan ada membuat kesalahan sama kamu ya sayang, aku benar-benar minta maaf karena aku ga bisa mengingat apapun saat aku sedang mabuk. Tapi kamu harus tau kalau aku benar-benar mencintai kamu," pesan Alex
"Aku tau kak, aku tau kamu dengan tulus mencintai aku. Itu juga yang membuat aku bingung saat ini untuk mengambil keputusan kak," batin Dinda sambil tersenyum getir
"Aku dengar kamu lagi ada masalah sama kak Alex ya Din? kamu itu sahabat aku Din, aku selalu berharap dan berdoa semoga kamu bahagia. Kalau kamu butuh teman cerita kapan pun itu kamu bisa hubungi aku Din, tapi sebagai sahabat aku harus bilang ke kamu Din jangan gegabah saat membuat keputusan." pesan Riska
"Ya aku ga boleh gegabah saat membuat keputusan, banyak hati yang harus aku pertimbangkan sebelum aku membuat keputusan. Dan aku harus memulai ini semua"
Dinda tak ingin lagi membuang waktu yang ada, dia pun segera mengirimkan kabar kepada Alex bahwa dia akan menemui sang ibu dengan alasan dia merindukan sang ibu. Dinda pun segera menemui sang ibu karena sebelum dia melangkah dia harus mempertimbangkan hati sang ibu
Ibu Sari sudah duduk di atas sofa dan Dinda berada tepat di sampingnya, Dinda pun menyenderkan kepalanya di bahu sang ibu. Dengan sangat mudah ibu Sari mengetahui bahwa saat itu anaknya sedang tidak baik-baik saja
"Kamu kenapa Din? kamu ada masalah apa?" tanya ibu Sari dengan lembut
Dinda pun langsung memeluk tubuh sang ibu dan mulai meneteskan air matanya
"Dinda minta maaf ya bu, semua karena kesalahan Dinda. Seandainya Dinda mengikuti pesan bapak mungkin sampai saat ini bapak masih ada di antara kita"
Ibu Sari langsung membalas pelukan Dinda
__ADS_1
"Apa kamu lagi berantem sama Alex?" tanya ibu Sari dengan lembut
Dinda pun mulai menatap ke arah sang ibu dengan air mata yang terus mengalir, dia pun menjawab dengan menggelengkan kepalanya
"Terus kamu kenapa Din? ayo kamu cerita sama ibu"
Untuk sesaat Dinda hanya terdiam dengan air mata yang terus mengalir dan ibu Sari menghapus air mata Dinda sambil tersenyum hangat
"Ga apa-apa Din, kamu bisa cerita tentang apapun sama ibu"
"Seandainya kecelakaan yang menimpa bapak karena rencana seseorang, apa ibu bisa memaafkan orang itu bu?" tanya Dinda dengan suara yang terputus-putus
Ibu Sari pun langsung memeluk tubuh Dinda dan mencium ujung kepala Dinda dengan lembut
"Ga ada manusia yang sempurna di dunia ini Din dan sesama manusia kita hanya bisa saling memaafkan, kalau kamu tanya ke ibu apa ibu bisa memaafkan kesalahan orang itu? ibu akan jawab iya Din," ucap ibu Sari dengan lembut
Dinda pun langsung menatap ke arah sang ibu
"Tapi kalau kamu tanya ibu kecewa apa ga sama perbuatan orang itu? ibu juga akan jawab iya, tapi hanya sebatas kecewa Din ibu ga membenci orang itu." ucap ibu Sari lalu tersenyum dengan tulus.
Air mata Dinda pun mengalir semakin hebat
"Apa ibu ga merasa marah bu? apa ibu ga akan marah dengan seluruh keluarganya?"
"Untuk apa ibu marah Din? apalagi ibu harus meluapkan kemarahan ibu kepada orang lain, ibu anggap kecelakaan yang terjadi sama bapak kamu memang sudah menjadi jalan takdir yang harus terjadi"
Dinda pun semakin lekat menatap sang ibu
__ADS_1
"Kita itu cuma manusia biasa dan ga mungkin bisa melawan takdir, kalau seandainya kecelakaan itu ga terjadi bapak tetap akan pergi meninggalkan kita dengan cara yang berbeda. Jadi ga ada gunanya kamu menyalahkan diri kamu atau orang lain untuk kejadian itu Din." ucap ibu Sari sambil tersenyum hangat
Nasihat sang ibu menjadi teguran tersendiri bagi Dinda pada saat itu