
Lagi-lagi Dinda hanya bisa di buat bingung dengan semua ucapan Alex
"Den Alex ini lagi kenapa sih? apa mungkin den Alex lagi salah makan hari ini? kenapa dia bilang ga suka kalau aku kasih tau ke orang lain dia anak majikan aku? padahal dia juga yang kasih tau ke teman dan pacarnya kalau aku cuma anak supir"
"Kamu dengar ga omongan saya?"
"Ya den"
"Ingat ya, intinya saya ga mau dengar lagi kamu bahas tentang anak majikan dan anak supir ke orang lain." ucap Alex dengan tegas
"Maaf den kalau boleh tau, kenapa ya den?" tanya Dinda dengan polosnya
Alex pun membuang nafasnya dengan kasar
"Karena aku ga mau lihat ada orang lain yang meremehkan kamu lagi"
"Ikutin aja omongan saya"
"Ya den"
"Oh ya ada satu lagi, mulai sekarang jangan pura-pura ga kenal sama saya kalau kita berpapasan di kampus"
Dinda pun langsung memasang wajah bingung dengan semua ucapan Alex yang berubah-ubah
"Tapi kan kemarin den Alex sendiri yang minta saya supaya jangan sok kenal sama den Alex kalau kita lagi di kampus"
"Bisa ga kamu Ikutin aja apa omongan saya? ga usah setiap omongan saya selalu kamu jawab." ucap Alex dengan dingin
Dinda yang tak mau memperpanjang masalah setelah melihat ekspresi wajah Alex pun memilih untuk mengikuti keinginan Alex, tanpa Dinda tau bahwa saat itu Alex sedang menunjukkan rasa ketertarikan dirinya terhadap Dinda
Dan sudah pasti Alex hanya memiliki keberanian sejauh itu karena harga diri yang dia jaga selama ini memaksa dia untuk tidak melakukan hal yang lebih dari itu, Alex pun masih tetap berusaha untuk membunuh perasaan yang dia miliki terhadap Dinda
__ADS_1
Dinda pun berpamitan untuk kembali ke rumah belakang dan saat Dinda sudah menghilang Alex pun segera kembali ke kamarnya, dan akhirnya Alex pun hanya bisa mengutuk dirinya sendiri dengan perbuatan yang baru saja dia lakukan
"Ini semua pasti gara-gara Alexa, kenapa juga dia harus sumpahin aku yang aneh-aneh? pasti karena sumpah Alexa itu sekarang aku jadi kepikiran anak itu terus," gumam Alex
Alex memang sudah mulai menyadari bahwa hatinya benar-benar sudah tertarik dengan Dinda, tetapi dia masih berusaha menggunakan seribu cara untuk menutupi perasaannya yang sebenernya
Dan hari itu berlalu begitu saja meninggalkan Dinda yang masih merasa bingung dengan semua perubahan sikap Alex, dan Alex yang masih berusaha untuk membunuh perasaan yang dia miliki terhadap Dinda demi harga diri yang dia miliki selama ini
Alex pun bertekad untuk menghindari Dinda agar perasaan yang dia punya ikut meredup seiring berjalannya waktu, tetapi Alex hanya bisa berencana dan jalan garis tangannya berkata lain. Karena hari itu tiba-tiba saja Dinda harus berangkat lebih siang dari biasanya karena harus membantu ibunya terlebih dahulu
Dinda biasanya akan menuju ke kampus lebih awal untuk mengantisipasi jalanan yang macet ataupun hal-hal lain yang tak terduga, Dinda yang merasa dirinya hampir terlambat pun bergegas untuk berangkat dan dengan wajah yang sedikit panik dia menunggu angkutan umum yang tak kunjung datang
"Astaga kok tumben lama banget sih angkot nya datang, kalau gini terus aku bisa telat. Apa aku naik ojek aja ya? tapi kan sayang uang buat bayar ojek bisa aku pakai untuk yang lainnya." gerutu Dinda di dalam hatinya
Alex yang sedang melajukan mobilnya pun melihat sudah Dinda dengan wajah cemasnya
"Kenapa anak itu? apa dia kesiangan?" gumam Alex
"Naik," ucap Alex dengan dingin
"Sebaiknya saya naik angkutan umum aja den, saya ga mau merepotkan den Alex." ucap Dinda dengan sopan sambil tersenyum
"Kenapa sih dia harus selalu senyum begitu? mana dia bisa senyum ke siapa aja" gerutu Alex di dalam hatinya sambil menatap tajam ke arah Dinda
Dan sudah pasti nyali Dinda pun selalu menciut saat Alex menampilkan tatapan mata yang seperti itu
"Bisa ga sih kamu itu ga usah selalu membantah semua omongan saya?"
"Ya maaf den"
"Kalau gitu naik"
__ADS_1
"Tapi kan den kita mau pergi ke kampus, ga enak kalau nanti ada orang yang lihat kita berangkat bareng. Apalagi kalau sampai yang lihat kita berangkat bareng itu pacar den Alex"
"Saya bilang sama kamu sekali lagi naik dan jangan buat saya mengulang ucapan saya lagi," ucap Alex penuh penekanan
Dinda melihat ke arah jam tangan dia gunakan dan waktu dia miliki pun semakin tipis, dengan berat hati Dinda hanya bisa naik ke dalam mobil Alex pada saat itu. Saat Dinda sudah berada di dalam mobil Alex dan mendudukkan tubuhnya dengan sempurna Alex hanya terdiam sambil menatap ke arah Dinda
Dinda pun hanya terdiam dengan wajah bingung melihat Alex yang seperti itu, tiba-tiba saja Alex mendekatkan tubuhnya ke arah Dinda dan membuat Dinda secara spontan langsung mendorong tubuh Alex dengan kuat
"Kamu mau ngapain den?" tanya Dinda dengan wajah panik
Alex pun membuang nafasnya dengan kasar
"Kamu pikir saya mau ngapain? saya cuma mau pasang sabuk pengaman," ucap Alex dengan dingin
"Oh sabuk pengaman ya den," ucap Dinda dengan senyuman canggung
Dinda pun langsung memasang sabuk pengaman dengan wajah merah menahan rasa malu
"Ya ampun Dinda ternyata otak kamu kotor juga ya, dari mana kamu punya pikiran den Alex mau berbuat yang aneh-aneh. Lagian juga orang kayak den Alex mana mungkin mau berbuat aneh-aneh sama kamu Din"
Dan tiba-tiba saja Alex mengambil jaketnya yang berada di bangku belakang dan memberikan jaket tersebut kepada Dinda
"Jaketnya buat apa den?" tanya Dinda dengan polosnya
"Pake jaket itu selama kamu di kampus dan jangan di buka sampai nanti kamu pulang," ucap Alex dengan serius
Baru saja Dinda mau membuka suara untuk menolak hal tersebut, bagaimana pun juga dia merasa tak enak hati bila harus memakai jaket milik Alex. Tetapi Alex langsung menatap tajam ke arah Dinda dan membuat Dinda hanya bisa pasrah melakukan apa yang Alex inginkan
Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka berdua, dan untuk mencairkan suasana Alex pun memutar lagu-lagu yang dia sukai. Dan bodohnya tanpa sadar Dinda ikut terhanyut dengan alunan lagu tersebut, Alex hanya bisa tersenyum di dalam hati melihat Dinda menikmati alunan demi alunan lagu yang dia pasang
"Ternyata selera kita sama ya"
__ADS_1
Entah mengapa Alex mulai merasa nyaman berada di dekat Dinda yang dia nilai apa adanya