Perjuangan Cinta Beda Kasta

Perjuangan Cinta Beda Kasta
Merubah Sikap


__ADS_3

Akhirnya Dinda pun tak bisa lagi menahan tawanya, Dinda tertawa lepas tanpa perduli bahwa saat itu Alex sudah menatap ke arah dirinya dengan wajah dingin dan tatapan mata yang tajam


"Di tanya malah ketawa," ucap Alex dengan sinis


"Maaf den"


Dinda pun berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawanya


"Jawab pertanyaan aku, kenapa kamu bisa semudah itu bilang kalau kamu ga mungkin suka sama aku? dan apa alasan kamu ketawa?" tanya Alex dengan serius


"Gimana ya den cara jelasinnya?" ucap Dinda sambil menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sama sekali


"Ya tinggal jelasin aja, apa susahnya?"


"Harus saya akui wajah den Alex memang ganteng ga kalah sama oppa korea yang main film drakor," ucap Dinda sambil menahan tawa


"Aku suruh kamu jelasin yang benar, bukan sambil menahan ketawa begitu." ucap Alex dengan tegas


Dinda pun berusaha mengatur nafasnya sejenak karena saat itu wajah Alex sudah berubah menjadi serius, dia hanya tak ingin membuat orang yang ada hadapannya tersebut menjadi marah bila dia terlihat terus menahan tawa


"Den Alex memang ganteng, den Alex juga bukan berasal dari keluarga yang sembarangan. Tapi saya sudah dari kecil kenal den Alex, jadi saya ga mungkin punya perasaan apapun sama den Alex." ucap Dinda dengan penuh keyakinan


"Kasih jawaban yang jelas, kenapa kamu muter-muter terus?"


Dinda pun membuang nafasnya dengan kasar lalu menatap ke arah dengan serius


"Karena saya ga mau menjalin hubungan sama orang yang dingin seperti den Alex"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena yang namanya dua orang menjalin hubungan untuk itu mencari kehangatan dan kebahagiaan den, kalau punya hubungan sama den Alex sih lama-lama saya bisa berubah jadi es batu. Den Alex tuh terlalu dingin sama orang lain"


"Sama seperti ucapan Valen kemarin, jadi kalau aku ga berubah maka dia juga ga akan merasa bahagia ada di samping aku?"


Alex hanya bisa terdiam mendengar semua celoteh Dinda tentang dirinya, bagaimana pun juga selama ini dia memang selalu menunjukkan sikap dingin terhadap orang lain


"Kalau cuma itu masalahnya, berarti aku cukup merubah sikap aku ke kamu kan?" tanya Alex dengan lembut sambil tersenyum hangat


Dinda hanya bisa membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna mendengar jawaban Alex yang terkesan tak mau menyerah, dia tak habis pikir bagaimana bisa orang seperti Alex yang selama ini selalu bersikap keras dan dingin bisa bersikap seperti itu. Sedangkan Alex benar-benar bertekad untuk merubah sikapnya


Sebenarnya Dinda benar-benar sudah mulai kewalahan memberikan penjelasan kepada sang Alex, tetapi pesan sang ayah terus terngiang di telinga Dinda. Dinda pun memutuskan untuk menyerah begitu saja


"Sebenarnya bisa aja den Alex itu salah sangka, sebenarnya perasaan yang den Alex rasakan ke saya itu bukan perasaan suka itu cuma perasaan bersalah den Alex karena kejadian kemarin. Coba den Alex pikirkan sekali lagi, sikap den Alex mulai berubah ke saya semenjak kejadian kemarin." ucap Dinda dengan serius


Tiba-tiba saja Alex meletakkan tangannya di ujung kepala Dinda dengan lembut


"Kamu salah Din, perasaan aku ke kamu sudah lama muncul. Tapi baru sekarang aku punya keberanian untuk melawan harga diri aku yang terlalu tinggi, tapi sekarang aku sudah bertekad untuk mendapatkan kamu dan menjaga kamu dengan baik" batin Alex


Kedua orang itu sedang di sibukkan dengan jalan pikiran meraka masing-masing


"Pokoknya kamu cukup tau aja kalau aku suka sama kamu, dan mulai saat ini aku akan berusaha untuk mendapatkan hati kamu. Jadi kamu cukup diam dan nikmati semua yang aku lakukan untuk kamu," ucap Alex dengan lembut


Dinda benar-benar tak tau harus berbuat apa lagi untuk membuat Alex menjadi sosok Alex yang dahulu kala, Dinda benar-benar merasa takut dengan dengan sosok Alex yang saat ini. Karena Dinda yakin bila hatinya akan mudah goyah bila Alex terus bersikap seperti itu


"Udah yuk, kelas kamu sebentar lagi mulai"


Dinda yang tersadar pun segera berpamitan dan meninggalkan Alex begitu saja, sedangkan Alex ternyata sengaja melakukan hal tersebut agar Dinda berhenti meminta dia untuk menjauh. Alex pun tersenyum melihat punggung Dinda yang semakin menjauh


"Aku tau akan ada banyak pertimbangan yang kamu pikirkan untuk memulai ini semua, tapi aku ga akan menyerah aku akan terus berusaha meyakinkan hati kamu." gumam Alex

__ADS_1


Dinda yang baru saja masuk ke dalam kelas pun langsung di sambut oleh Riska


"Kamu baik-baik aja kan Din?" tanya Riska dengan wajah serius


"Aku baik-baik aja kok Ris"


"Aku khawatir sama kamu Din, habis kamu pergi sama cewe jutek itu kamu ga balik lagi ke kelas. Aku coba telepon kamu seharian ponsel kamu juga ga aktif"


Dinda memang sengaja mematikan ponselnya seharian penuh setelah kejadian yang menimpa dirinya dan menghidupkan ponselnya setelah malah hari, Dinda juga sengaja tak membalas pesan yang di kirimkan oleh Riska karena dia masih ingin menenangkan diri


"Oh ya maaf, handphone aku kehabisan baterai tapi aku ga sadar." ucap Dinda sambil tersenyum


"Aku kira kamu kenapa-napa, soalnya tas kamu di ambilin sama kak Julian. Dia bilang kamu izin pulang karena ga enak badan, jadi aku sempat berpikir kamu kenapa-napa karena perempuan itu"


"Seperti yang kamu lihat aku baik-baik aja kan," ucap Dinda sambil tersenyum tipis


"Maaf ya Ris aku terpaksa bohong dan ga cerita yang sebenernya sama kamu, biar masalah itu berlalu begitu saja"


"Tapi kamu sudah dengar kabar terbaru belum Din?"


"Kabar apa Ris?"


Riska pun mendekatkan bibirnya ke telinga Dinda


"Katanya sih perempuan itu pindah dari kampus kita Din," bisik Riska


"Masa? kenapa?" tanya Dinda dengan wajah serius


"Aku juga kurang tau alasannya apa? tadi hampir semua anak-anak yang bahas tentang itu, kamu tau sendiri kan dia itu primadona kampus kita. Makanya anak-anak jadi heboh"

__ADS_1


"Apa mungkin karena kejadian kemarin? kemarin aku memang sempat dengar den Alex ngomong sama seseorang kalau dia ga mau lihat mereka lagi di sini, apa ini juga maksud omongan den Alex tadi ya?"


Waktu pun terus berjalan Dinda berusaha untuk membuang jauh semua pikiran yang menganggu dirinya, dan memperhatikan semua pelajaran dengan baik. Dinda tak mengetahui bahwa dia akan kembali mendapatkan sebuah kejutan saat dia keluar dari dalam kelas


__ADS_2