
Dinda pun mulai merebahkan tubuhnya di samping Alex dan menatap Alex dengan lekat
"Aku bisa saja membalas semua perbuatan orang tua kamu ke kamu kak, aku cukup pergi dan menghilang dari kamu saat ini juga. Aku yakin kamu akan merasakan perasaan sakit yang lebih menyakitkan dari aku rasakan saat ini, tapi apa itu adil untuk kita berdua? dan apa aku sanggup melakukan itu?"
Sejuta pertanyaan hadir di dalam benak Dinda pada saat itu hingga tanpa sadar dia pun mulai terlelap ke alam mimpi, saat pagi menyapa Alex terjaga lebih dulu dan dia pun langsung memandang wajah cantik Dinda yang ada di hadapannya
"Kamu adalah perempuan tercantik yang pernah aku temui Din," ucap Alex dengan lembut
Alex mulai merapikan beberapa rambut Dinda yang terlihat sedikit berantakan dan hal tersebut membuat Dinda ikut terjaga dari tidurnya
"Kamu sudah bangun kak?"
Alex mulai teringat bahwa dirinya terlalu banyak meminum minuman yang mengandung alkohol, dia tau dengan pasti bahwa dia tak mengendalikan mulutnya bila dia dalam keadaan mabuk. Dan yang lebih membuat dia panik karena tidak mengingat apapun yang dia lakukan
Alex langsung mendudukkan tubuhnya dengan sempurna dengan wajah panik, dia pun langsung menatap ke arah Dinda dengan tatapan mata yang mengandung ketakutan
"Maaf sepertinya semalam aku terlalu banyak minum, apa aku mela..."
Alex langsung mengehentikan ucapan yang akan keluar dari mulutnya karena tiba-tiba saja Dinda ikut mendudukkan tubuhnya, tetapi yang terjadi selanjutnya adalah dia memeluk tubuh Alex dengan erat
"Aku baru tau kalau saat kamu mabuk kamu seperti anak kecil kak, kamu ga malu sama sekali untuk menangis." ucap Dinda dengan lembut
Hati Alex pun sudah berdetak tak menentu mendengar ucapan Dinda pada saat itu, dia benar-benar merasa takut akan itu semua. Tiba-tiba saja Dinda mengangkat kepalanya sehingga wajah mereka berada di tempat yang sangat dekat
"Kamu bilang kalau kamu mencintai aku dan ga bisa hidup tanpa aku, kamu juga bilang kalau kamu serasa mati kalau aku ga ada." ucap Dinda sambil tersenyum hangat
Alex hanya bisa terdiam karena hatinya masih merasa sedikit takut, tetapi apa yang Dinda tunjukkan di pagi itu benar-benar bisa dia bernafas lega. Entah apa alasan Dinda yang sebenarnya hingga dia tak memberitahukan seluruh curahan hati Alex pada malam itu
Alex dan Dinda membersihkan diri secara bergantian dan Dinda melakukan itu lebih dulu, saat Alex keluar dari dalam kamar mandi sudah ada menu sarapan dia dalam kamar tersebut. Alex pun segera mendudukkan tubuhnya di samping Dinda pada saat itu
"Hari ini kamu pergi ke kantor ga kak?" tanya Dinda dengan lembut sambil tersenyum hangat
__ADS_1
"Aku..."
Alex melihat memeriksa jam di ponselnya dan saat itu ternyata sudah jam delapan pagi
"Aku hari ini sudah ijin untuk datang terlambat kak, aku nanti mau pulang dulu ke rumah untuk ganti baju. Kalau kamu kak?"
"Ngapain aku ga kerja kalau aku sendirian di rumah?" batin Alex
"Aku juga sama, tapi apa kamu sudah ga marah sama aku?" tanya Alex dengan hati-hati
Dinda tersenyum hangat
"Gimana aku bisa marah sama kamu kak? kalau kamu sudah meminta maaf sama aku sambil menangis"
"Terima kasih"
Hati Dinda terasa sakit melihat senyuman Alex pada saat itu, bagaimana mungkin seorang Alexander Wijaya yang hebat bisa menunjukkan senyuman yang terlihat menyedihkan seperti saat itu
"Ya udah kita sarapan dulu baru pulang ya"
"Din...."
"Ya kak," jawab Dinda sambil menatap ke arah Alex
"Apa semalam aku benar-benar ga mengatakan hal yang aneh?"
Dinda pun tertawa kecil
"Kamu semalam seperti anak kecil kak, Alexander Wijaya yang hebat menangis karena takut aku pergi"
Alex pun menatap Dinda dengan lekat
__ADS_1
"Apa cuma itu yang aku bilang ke kamu?"
"Oh ya kamu juga bilang kalau kamu mau membunuh Melinda menggunakan tangan kamu sendiri"
Wajah Alex pun berubah menjadi cemas, dia benar-benar takut kalau dia mengatakan alasan dia ingin melakukan itu
"Terus...."
"Terus kamu nangis kak..." ucap Dinda sambil tertawa lepas
"Apa benar aku cuma bilang sejauh itu? tapi kalau aku sampai bilang tentang kejadian itu ga mungkin Dinda bisa bersikap seperti ini" batin Alex
Pagi itu semuanya baik-baik saja seolah semua tak pernah terjadi, mereka mulai meninggalkan hotel tersebut dan kembali ke kediaman mereka. Setelah berganti pakaian mereka pun pergi ke tempat kerja mereka masing-masing
Alex sudah menawarkan diri untuk mengantarkan Dinda terlebih dahulu tetapi dengan berbagai alasan Dinda menolak hal tersebut, dan sudah pasti Alex pun akan mengikuti semua keinginan Dinda
Alex melakukan rutinitas seperti biasanya dan dia hanya berpikir bahwa keadaan sedang baik-baik saja, tetapi di tempat yang berbeda ternyata Dinda tak pergi ke tempat dia bekerja. Dinda saat itu sedang berdiri tepat di hadapan makam orang tua Alex
"Kenapa tuan pergi dengan cepat? karena saat ini ada banyak pertanyaan yang saya ingin tanyakan kepada tuan, apakah tuan sudah merasa puas dengan ini semua ini? apa status sosial sangat penting di mata tuan sampai tuan tega melakukan itu semua?" batin Dinda dengan kedua bola matanya yang mulai berkaca-kaca
"Tolong tuan katakan kepada saya apa yang harus saya lakukan saat ini tuan? apa tuan ingin saya pergi dan meninggalkan Alex seperti waktu dulu? dan pertanyaan terakhir saya apa tuan merasa bahagia melihat anak tuan menangis karena kepergian saya?"
Entah apa yang ada di dalam pikiran Dinda pada saat itu, dia tau dengan pasti bahwa dia tak akan mendapatkan jawaban apapun dari tempat itu. Tapi setidaknya dia butuh meluapkan segala beban hatinya sebelum dia membuat sebuah keputusan besar di dalam hidupnya
Ternyata saat itu sudah banyak sekali rencana yang telah Dinda rencanakan di dalam benaknya, dia mengumpulkan kekuatan di dalam hatinya untuk memulai itu semua
Dinda mulai mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Melinda, itu akan menjadi hal pertama yang akan dia lakukan untuk memulai semuanya. Tepat sebelum dia berhasil menghubungi Melinda sebuah panggilan telepon dari nomor yang tidak dia kenal masuk ke dalam ponselnya
"Halo"
"Ini saya"
__ADS_1
Dinda langsung terdiam untuk mengingat suara siapakah yang sedang menghubungi dirinya
"Saya Irwan laki-laki di malam itu dan saya perlu bertemu dengan kamu untuk membahas sesuatu yang penting"