
Dan saat anggota keluarga Wijaya sedang menyantap sarapan pagi, tiba-tiba saja ibu Helen memanggil kedua orang tua Dinda. Tak butuh waktu yang lama kedua orang tua Dinda pun sudah berdiri di dekat meja makan
"Ada ya Bu?"
"Saya dan suami saya sudah berdiskusi tentang Dinda"
Mendengar nama anaknya di sebut wajah kedua orang tua Dinda pun berubah menjadi sedikit tegang, mereka hanya takut bila Dinda telah membuat sebuah masalah tanpa sepengetahuan mereka
"Ada apa ya Bu sama Dinda?"
"Tolong sampaikan ke Dinda kalau mulai hari ini dia pergi dan pulang kuliah bareng Alex ya"
Kedua orang tua Dinda pun hanya bisa saling pandang untuk sesaat karena merasa bingung lalu menatap kembali ke arah sang nyonya besar
"Maksudnya gimana ya Bu?"
"Bilang sama Dinda untuk sesuaikan jadwal pulang dan pergi sama Alex supaya Dinda lebih aman"
"Apa Dinda membuat masalah Bu?" tanya ibunya Dinda dengan hati-hati
"Oh ga kok, cuma kan Dinda itu perempuan jadi ya supaya Dinda lebih aman aja. Dan mereka kan satu kampus jadi ga masalah kan?"
"Iya Bu"
"Sampaikan ke Dinda ya"
"Baik Bu, terima kasih"
Kedua orang tua Dinda hanya bisa merasa bingung dan mengikuti keinginan keluarga Wijaya, walaupun saat itu ibu Helen tidak memberikan alasan yang sebenarnya mengapa mereka mengambil langkah tersebut
Dan pagi itu Dinda hanya bisa pasrah menunggu Alex keluar dari rumah mewah tersebut, Alex keluar dari dalam rumah mewah tersebut dengan senyuman penuh kemenangan. Dengan berat hati Dinda pun melangkahkan kakinya menghampiri mobil Alex tanpa harus di minta terlebih dahulu
Alex pun mulai melajukan mobilnya keluar dari rumah mewah tersebut dan tanpa dia sadari bibir nya selalu saja tersenyum, dan sudah pasti hal tersebut membuat Dinda semakin curiga bahwa itu semua bisa terjadi karena ulah Alex sendiri
"Orang tua kamu sudah bilang kan?"
"Iya den"
"Karena ini perintah mama aku jadi kamu harus nurut ya," ucap Alex dengan lembut
"Iya den"
"Mulai sekarang kita harus sesuaikan jadwal kelas kita, siapa yang keluar kelas duluan harus tunggu dan jangan pergi duluan"
"Iya den"
__ADS_1
Alex melirik sekilas ke arah Dinda yang hanya selalu memberikan jawaban yang sama sedari awal
"Apa kamu ga punya jawaban lain selain iya den?" tanya Alex dengan nada sedikit sinis
"Saya ga punya hak untuk memberikan jawaban lain selain jawaban itu den," ucap Dinda dengan nada suara yang sedikit ketus
Alex pun tersenyum tipis dan tiba-tiba saja dia mulai membuka suara kembali
"Apa kamu mau jadi pacar aku?"
"Iy...."
Dinda yang tersadar pun langsung menghentikan ucapannya dan menatap tajam ke arah Alex
"Aku baru tau kalau ternyata rem di mulut kamu hebat juga ya," ucap Alex dengan santai sambil tersenyum
Dinda pun hanya bisa terdiam sambil memasang wajah malas
"Kenapa orang tua den Alex bisa minta saya untuk pergi dan pulang bareng sama den Alex?" tanya Dinda dengan serius
Alex hanya memberikan sebuah senyuman yang penuh arti tanpa memberikan penjelasan apapun terhadap Dinda
"Maaf ya Din aku terpaksa cerita tentang kejadian itu sama kedua orang tua aku, tapi aku ga salah juga dong. Kamu kan cuma minta aku janji supaya ga cerita ke orang tua kamu bukan orang tua aku"
Sekuat apapun Alex mencoba memutar otaknya yang pintar dia tetap tak berhasil menemukan sebuah alasan yang pas untuk dia gunakan
"Maaf ya Din aku terpaksa gunakan cara ini, aku cuma ga mau kamu ketemu laki-laki hidung belang di luar sana"
Setelah makan malam Alex meminta waktu kedua orang tuanya untuk membahas sesuatu, dan kini mereka bertiga sudah berada di ruang kerja sang pemimpin keluarga Wijaya
"Ada apa Alex? apa yang mau kamu bahas sama kami?" tanya sang pemimpin keluarga Wijaya
"Sebelumnya aku mau minta maaf sama mama dan papa," ucap Alex dengan wajah dingin seperti biasanya
Kedua orang tua Alex pun memandang ke arah Alex dengan serius karena mereka tau dengan pasti sikap Alex, jika Alex sudah meminta bertemu mereka berdua berarti ada sesuatu yang penting yang akan dia bahas
"Minta maaf untuk apa?"
"Sebenarnya kemarin ada kejadian yang menimpa Dinda di kampus pah"
"Kejadian apa maksud kamu?"
Alex yang kehabisan akal terpaksa menggunakan tingkah Valen untuk dia jadikan alasan membuat Dinda bisa bebas berada di sampingnya
"Keterlaluan sekali perempuan itu!! Dinda memang cuma anak supir, tapi sebagai sesama wanita mama rasa sikap dia sudah keterlaluan." ucap sang mama penuh amarah
__ADS_1
"Alex tau mah, bagaimana pun juga Alex ikut merasa bersalah atas kejadian itu. Jadi Alex meminta izin untuk menebus kesalahan Alex terhadap Dinda"
"Maksud kamu apa Alex?"
"Alex mau meminta izin supaya mulai sekarang Dinda pergi dan pulang bareng Alex, setidaknya dengan begitu Dinda ga mungkin bertemu dengan Valen di tengah jalan"
Nyonya Helen pun langsung menatap ke arah suaminya, dan entah mengapa saat itu sang pemimpin keluarga Wijaya hanya terdiam sambil terus menatap ke arah Alex dengan seksama. Tetapi Alex tetap terlihat dingin seperti biasanya untuk menutupi perasaannya terhadap Dinda
"Menurut kamu gimana pah?"
"Wajar kalau merasa sedikit bersalah Alex, tapi menurut papa apa yang akan kamu lakukan itu sedikit berlebihan." ucap sang papa dengan wajah datar
Saat itu entah mengapa sang pemimpin keluarga Wijaya sedikit tidak suka dengan usulan yang Alex berikan, dan nyonya Helen yang berhati lebih lembut pun membujuk sang suami
Dengan berat hati akhirnya pemimpin keluarga Wijaya menyetujui usulan Alex, sedangkan sang mama merasa bahagia dengan itu semua. Dia hanya berharap di masa depan Alex bisa menjadi sosok yang lebih hangat tidak seperti sang suami
Dan mereka pun sepakat untuk tidak menceritakan kejadian yang menimpa Dinda kepada kedua orang tuanya
FLASH OFF
"Dasar aneh," ucap Dinda dengan suara pelan tapi tetap terdengar
"Siapa yang aneh?"
"Ga kok den, saya cuma lagi ingat film yang saya tonton tadi malam." ucap Dinda sambil tersenyum canggung
Alex hanya tersenyum tipis, dia tau dengan pasti bahwa saat itu Dinda sedang berbohong. Tetapi Alex tidak mau mempermasalahkan hal tersebut, karena saat itu dia sedang merasa bahagia, setidaknya kini dia bisa menjadi lebih dekat dengan Dinda
"Tolong ambilin kantong di belakang dong"
Dinda pun segera melakukan apa yang di minta Alex, dan menyerahkan paper bag tersebut kepada Alex
"Kenapa di kasih ke aku? itu buat kamu." ucap Alex sambil meletakkan tangannya di ujung kepala Dinda
"Buat saya den?" tanya Dinda wajah bingung
Alex menjawab dengan anggukkan kepalanya, dan saat Dinda melihat isi paper bag tersebut ternyata berisi sebuah buku yang di minta salah satu dosen untuk segera mereka miliki
"Ini kan buku...." ucapan Dinda terhenti dan langsung menatap ke arah Alex
"Ya kemarin aku dengar kalian harus punya buku itu di pertemuan berikutnya, jadi tadi malam aku minta orang buat beli buku itu." ucap Alex dengan lembut
"Kacau.. Kalau den Alex bersikap begini terus aku bisa beneran suka sama den Alex, sadar Dinda sadar status kalian terlalu jauh." batin Dinda sambil menepuk kedua pipinya
Tanpa Dinda sadari kini dinding yang dia bangun dengan kokoh di dalam hatinya telah mulai di runtuh kan oleh Alex secara perlahan
__ADS_1