Perjuangan Cinta Beda Kasta

Perjuangan Cinta Beda Kasta
Kota Sejuta Kenangan


__ADS_3

Imel terlihat sedikit bingung untuk menentukan pilihan pada saat itu, tetapi pria tampan yang berada di sampingnya pun seperti tak perduli dengan konsep apa yang akan mereka gunakan. Imel pun mulai menatap ke arah Dinda


"Apa mbak punya rekomendasi yang bagus untuk acara kami nanti?" tanya Imel dengan serius


Dinda pun menampilkan sebuah senyuman tipis dan mulai menunjukkan beberapa konsep terbaik yang dia punya, gadis cantik itu pun terlihat puas dengan beberapa usulan yang Dinda berikan


"Wah semua pilihan yang mbak berikan benar-benar bagus, aku jadi makin bingung mau pilih yang mana" ucap Imel bersemangat


Dinda pun hanya membalas dengan senyuman tipis


"Apa mbak sudah menikah?" tanya Imel dengan serius


Dinda pun hanya bisa tersenyum canggung sambil menggelengkan kepalanya, sedangkan Alex saat itu menatap tajam ke arah Dinda


"Aku yakin kalau nanti mbak nikah pasti acaranya sukses besar, karena semua pilihan yang mbak berikan benar-benar bagus"


Lagi-lagi Dinda hanya bisa membalas dengan senyuman tipis, dan tiba-tiba saja Alex membuka suara


"Ga semua perempuan bisa merasa beruntung di dalam hidupnya, karena ga semua perempuan bisa merasakan menikah dengan konsep yang sempurna. Karena ga semua laki-laki bersedia memberikan apapun yang dia punya kepada wanita yang akan sudah dia pilih," ucap Alex dengan dingin


Entah mengapa saat itu Dinda merasa semua ucapan Alex tertuju kepada dirinya karena tatapan mata Alex pun hanya tertuju ke arah dirinya, Dinda pun menekan perasaan yang dia rasakan dan tetap berusaha terlihat profesional pada saat itu


"Betul sekali yang bapak ini bilang, ibu beruntung sekali mendapatkan laki-laki yang mau memberikan semua pilihan kepada ibu di hari bahagia kalian ya Bu." ucap Dinda sambil tersenyum


"Ya, saya benar-benar merasa beruntung bisa memiliki Alex." ucap Melinda sambil tersenyum


Dinda dan Imel pun mulai membahas ini dan itu untuk segala kebutuhan yang mereka perlukan untuk acara pertunangan Alex dan dirinya, mereka berdua seakan asik dengan apa yang mereka bahas tanpa menyadari perasaan Alex yang sebenarnya. Karena sikap dingin Alex tak bisa di terka sama sekali

__ADS_1


Selain perasaan marah terselip sedikit perasaan kecewa di dalam hati Alex pada saat itu, karena Dinda sama sekali tak menunjukkan perasaan apapun dengan rencana pertunangan Alex dan gadis yang berada di sampingnya


Imel pun akhirnya memutuskan sendiri untuk konsep yang akan mereka gunakan di acara tersebut, karena Alex benar-benar terlihat dingin dan seolah tak mau perduli dengan acara tersebut. Yang membuat Dinda sedikit merasa heran adalah Imel terlihat biasa saja dengan semua sikap Alex yang seperti itu


Alex dan Dinda pun berpisah layaknya dua orang yang tak saling mengenal sama sekali, sedangkan Imel terpaksa kembali ke kantornya sendiri tanpa di antar oleh Alex karena Alex beralasan bahwa dia ada sebuah pertemuan penting setelah itu


Di sepanjang perjalanan mereka bertiga mereka saling larut di dalam pikiran mereka masing-masing, ada Dinda yang tak menyangka bila tak lama dia kembali ke kota itu dia sudah harus bertemu kembali dengan Alex. Dan yang lebih konyol adalah dia harus menjadi penanggung jawab acara pertunangan Alex dengan gadis lain


Di sisi lain ada Imel yang merasa puas dan berbahagia karena sesaat lagi dia akan di kenal sebagai wanita sang penakluk Alexander Wijaya, laki-laki nomor satu yang menjadi rebutan para wanita di kota itu


Sedangkan di sisi lain ada Alex yang semakin membenci Dinda, Alex benar-benar merasa kecewa dengan sikap Dinda yang terkesan biasa saja saat di hadapannya


Dinda yang baru saja kembali ke tempat dia bekerja langsung menuju ke meja kerjanya, dia pun mulai membuka semua catatan yang tadi telah di pilih oleh Melinda. Dinda pun hanya bisa tersenyum getir mengingat semua kenangan dirinya dan Alex di masa lalu


"Apa yang kamu pikir kan Dinda? ingat tujuan awal kamu kembali ke kota ini cuma untuk pengobatan ibu, jangan pernah mengingat masa lalu Dinda. Kamu dan dia hanya sebuah kenangan yang harus di lupakan," batin Dinda sambil menahan air matanya


Dinda memang sudah menyiapkan hatinya sebelum dia kembali ke kota itu. Karena kota itu memiliki sejuta kenangan manis antara dirinya dan Alex, tetapi kota itu juga memiliki kenangan pahit bagi Dinda. Sebuah kenangan yang pernah membuat hati Dinda menjadi hancur berkeping-keping


Dinda hanya bisa merasa bahwa jalan takdir sedang mempermainkan dirinya, di pusat kota yang sebesar itu mengapa dia bisa bertemu Alex secepat ini


Hari pun terus berlalu dan saat pertemuan berikutnya Dinda di minta untuk datang ke kantor Alex, karena Alex tak bisa meninggalkan kantor pada hari itu


Saat Dinda tiba di kantor Alex bertepatan dengan Alex yang sedang mengadakan rapat, sekretaris Alex pun meminta Dinda untuk menunggu di dalam ruangan Alex seperti yang di perintahkan Alex sebelumnya


Dinda pun mendudukkan tubuhnya di atas sofa di dalam ruangan tersebut, untuk menghabiskan waktu Dinda melihat sekeliling isi kantor Alex dan senyuman tipis pun menghias bibir Dinda


"Ternyata selera kamu belum berubah ya kak, kamu masih suka warna-warna yang natural." gumam Dinda sambil tersenyum

__ADS_1


Saat sudah menyelesaikan rapat Alex segera kembali ke ruang kerjanya, melihat kehadiran Alex Dinda pun langsung bangkit dari duduknya dan menunjukkan sedikit kepalanya tanda memberikan salam. Sedangkan Alex tetap saja memasang wajah dingin


"Tunggu sebentar calon tunangan saya belum datang"


"Baik pak"


Alex langsung menuju ke bangku kebesarannya dan menyibukkan diri dengan pekerjaan yang menanti dirinya, lalu tiba-tiba saja ponsel Alex pun berdering


"Halo"


"Halo sayang, kamu sudah selesai rapat ya?"


"Ya"


"Maaf nih karena aku agak terlambat sampai sana, mobil aku ada sedikit kendala sayang"


"Ok," Alex pun langsung memutuskan sambungan teleponnya


Alex pun langsung menatap ke arah Dinda


"Calon tunangan saya akan terlambat sampai di sini," ucap Alex dengan dingin


"Baik pak saya mengerti, kalau begitu bapak mau lihat konsep yang sudah saya matangkan terlebih dahulu atau nanti saja berbarengan dengan calon tunangan bapak?" tanya Dinda sambil tersenyum tipis


Alex pun menatap tajam


"Apa kamu sudah lupa cara memanggil saya dengan benar?" tanya Alex dengan dingin

__ADS_1


"Maaf pak tapi saya kurang mengerti maksud ucapan bapak"


Mendengar ucapan Dinda yang seperti itu membuat Alex menampilkan senyuman yang penuh arti, sebuah senyuman yang membuat nyali Dinda tiba-tiba saja langsung sedikit menciut


__ADS_2