
Alex pun langsung membawa Dinda pergi dari tempat itu, sedangkan pria tadi memilih untuk tidak melakukan apapun karena hal itu adalah yang Dinda inginkan
Saat keluar dari tempat itu Dinda melihat banyak sekali orang berpakaian rapi yang sengaja Alex bawa ke tempat itu, Alex ternyata sudah bersiap untuk melakukan apapun jika pria tadi menghalangi dia untuk bertemu dengan Dinda
Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di antara Alex dan Dinda, Dinda yang masih larut di dalam pikirannya sendiri masih belum menyadari bahwa jalan yang sedang mereka tempuh bukanlah jalan menuju ke apartemen yang selama ini mereka tempati
Dinda mulai tersadar saat rombongan mobil tersebut melewati sebuah pagar rumah yang sangat mewah, Dinda mulai menatap ke arah Alex dengan tatapan mata bingung
"Ini rumah siapa kak?"
"Ini rumah kamu," ucap Alex dengan lembut sambil tersenyum
Dinda hanya terdiam sambil membuang pandangan matanya jauh ke depan
"Apa sekarang kamu mempersiapkan sangkar emas yang baru lagi buat aku kak? lakukan apapun yang kamu mau sampai hati kamu merasa puas kak"
Saat mereka sudah keluar dari dalam mobil, Alex pun langsung menggenggam tangan Dinda dan membawa Dinda untuk masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Dinda hanya mengikuti semua keinginan Alex dengan pasrah
"Selamat datang di rumah kamu Din," ucap Alex dengan lirih
Dinda pun membuang nafasnya dengan kasar
"Apa mulai sekarang aku harus tinggal di sini kak?"
Alex langsung menatap ke arah Dinda dengan tatapan mata yang sulit di artikan
"Rumah ini dari awal memang sudah menjadi rumah kamu Din, hanya saja sedari awal pemilik rumah ini menghilang entah kemana"
Ternyata rumah mewah tersebut adalah salah satu bukti kerja keras Alex untuk menyatukan cinta mereka pada masa lalu, Alex bekerja keras untuk menyiapkan berbagai hal untuk Dinda tanpa Dinda mengetahui itu semua
"Percuma aja kalau kami membahas ke arah sana, karena pada akhirnya tetap hanya aku yang akan berada di posisi yang salah." gerutu Dinda di dalam hatinya
__ADS_1
"Aku harap mulai sekarang kamu bisa nyaman berada di sini Din, karena ini memang rumah kamu." ucap Alex dengan lembut
"Rumah aku?" tanya Dinda dengan wajah sinis
Alex pun mengangguk kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali
"Jadi aku boleh lakukan apapun dengan rumah ini?"
Lagi-lagi Alex menjawab dengan anggukan kepalanya
"Aku boleh jual rumah ini, dan pakai uangnya sesuka hati aku?" tanya Dinda dengan nada suara sinis
Dan bodohnya lagi-lagi Alex menjawab dengan anggukan kepalanya tetapi sekali ini dengan ekspresi wajah bersedih, dan hal tersebut membuat Dinda memandang ke arah Alex dengan tatapan mata bingung
"Kenapa jadi dia yang kelihatan sedih? seharusnya yang lagi sedih saat ini kan aku?"
"Apa kamu beneran mau jual rumah ini Din?" tanya Alex dengan dengan lirih
"Kamu bisa kok lakukan itu Din, karena ini memang rumah kamu. Tapi aku harap kamu ga menjual rumah ini, kalau kamu memang butuh uang kamu bisa bilang aku"
Dinda sama sekali tak mempunyai keinginan untuk membahas lebih jauh tentang rumah itu
"Kamar aku di mana? aku butuh mandi dan istirahat"
Alex pun dengan senang hati menunjukkan letak kamar mereka, Dinda merasa sedikit terkejut saat dia memasuki kamar tersebut. Karena semua yang Dinda butuhkan sudah tersedia di dalam kamar tersebut, seolah kamar itu memang kamar yang di sediakan untuk dirinya
Alex dan Dinda pun secara bergantian mulai membersihkan diri, Alex membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah Alex selesai Dinda pun menuju ke arah kamar mandi dan membersihkan diri
Dengan setia Alex menunggu Dinda di atas tempat tidur dengan posisi duduk dan menyenderkan tubuhnya di ujung tempat tidur tersebut, saat Dinda keluar dari dalam kamer mandi Alex hanya bisa terdiam sambil terus memperhatikan semua yang Dinda lakukan
"Kenapa dari tadi kak Alex selalu memperhatikan aku? jangan bilang malam ini dia tetap mau melakukan itu ? astaga aku benar-benar tidak ada keinginan sedikit pun untuk melakukan hal itu!!" gerutu Dinda di dalam hatinya
__ADS_1
Setelah menyelesaikan semua yang di butuhkan Dinda pun langsung melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur dan menatap ke arah Alex dengan wajah serius, sedangkan Alex masih setia dengan diam dan menatap ke arah Dinda
"Apa boleh untuk malam ini kita tidak melakukan itu kak?" tanya Dinda dengan serius
"Tapi aku boleh tetap peluk kamu ya Din," ucap Alex lirih
Dinda benar-benar di buat semakin bingung dengan semua perubahan sikap Alex, bagaimana mungkin seorang Alexander Wijaya yang hebat harus meminta izin untuk memeluk tubuhnya. Dinda yang tak mau ambil pusing pun menjawab dengan anggukan kepalanya
"Terima kasih," ucap Alex sambil tersenyum getir
Lagi-lagi Dinda di buat bingung dengan sikap Alex, karena dia bisa merasakan kesedihan dari tatapan mata Alex pada saat itu. Dinda yang tak mau ambil pusing langsung naik ke atas tempat tidur dan Alex pun langsung memeluk tubuh mungil Dinda
"Apa yang sekarang harus aku lakukan Din? bagaimana caranya agar aku bisa mempertahankan kamu? aku yakin aku ga akan sanggup hidup tanpa kamu Din, tapi apa kamu akan tetap berada di samping aku saat kebenaran itu nanti terungkap?"
"Maaf ya Din," bisik Alex dengan lirih
Dinda yang merasa terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar pun membuka kembali kedua bola matanya, Dinda langsung memindahkan tangan Alex yang berada di atas tubuhnya dan menatap wajah Alex dengan wajah serius. Saat itu Dinda bisa melihat bahwa kedua bola mata Alex sudah berubah menjadi merah dan berkaca-kaca
"Kamu kenapa kak?" tanya Dinda dengan perasaan bingung
"Aku mau minta maaf sama kamu ya Din, karena aku sudah banyak melakukan kesalahan terhadap kamu," ucap Alex sambil tersenyum getir
"Sebenarnya kamu kenapa sih? kamu benar-benar terlihat aneh kak"
"Apa aku boleh peluk kamu lagi Din?" ucap Alex sambil tersenyum
Dinda yang tak tau apapun merasa sedikit di permainkan oleh sikap Alex yang seperti itu, bagaimana mungkin seorang Alexander Wijaya yang hebat bisa berubah secepat itu
"Sejak kapan seorang Alexander Wijaya yang hebat meminta izin untuk memeluk tubuh aku ini?" tanya Dinda dengan nada suara yang terdengar sinis
"Sejak saat ini Din," ucap Alex dengan lirih sambil tersenyum getir
__ADS_1
Dinda benar-benar tak bisa lagi menahan perasaan yang sedang dia rasakan pada saat itu, semua sikap yang Alex tunjukkan saat itu benar-benar sudah terlihat aneh bagi dirinya