
Melinda tersenyum puas sambil membaca pesan yang baru saja dia kirimkan, hatinya sama sekali tak mau perduli siapapun yang membaca pesan tersebut. Karena niat Melinda hanya membuat pagi mereka menjadi buruk
FLASH BACK
"Gimana? apa kamu setuju dengan tawaran yang aku berikan?"
"Apa kamu yakin dengan apa yang bilang tadi?" tanya Melinda dengan wajah serius
"Aku jamin mereka akan berpisah dengan sendirinya saat kamu menunjukkan apa yang nanti aku berikan," ucap pria tersebut penuh keyakinan
Melinda menatap pria di sebelahnya dengan tajam
"Imbalan apa yang kamu mau dari aku?"
"Kamu tau kan kalau aku suka sama kamu dari kita masih kuliah, jadi aku akan berikan kamu senjata yang bisa memisahkan mereka dan membalas rasa sakit hati kamu. Dengan syarat kamu mau menghabiskan malam ini bersama aku," ucap pria tersebut sambil tersenyum tipis
Melinda pun memberikan sebuah senyuman yang terlihat sinis
"Kamu pikir aku bisa percaya begitu aja sama kamu? bisa aja kamu cuma mau ambil kesempatan dari aku tanpa bisa memberikan sesuatu yang berarti bagi aku"
Pria tersebut mendekatkan bibirnya ke telinga Melinda
"Nama perempuan itu Dinda kan? dia cuma anak supir yang dulu kerja di rumah keluarga Wijaya," bisik pria tersebut
Melinda pun langsung menatap ke arah pria tersebut dengan wajah serius
"Dari mana kamu tau tentang itu?"
Pria tersebut memberikan sebuah senyuman yang penuh arti
"Apa kamu tau kartu apa yang ada di tangan aku?"
Melinda pun melihat ke arah pria tersebut semakin lekat
"Aku ga bisa katakan itu di sini, kita pindah dulu ke tempat lain yang lebih tenang untuk membahas ini"
Melinda menatap penuh curiga karena imbalan yang harus dia berikan benar-benar tak masuk akal
"Aku akan kasih tau ke kamu kartu apa yang aku punya di sana, kalau memang menurut kamu itu ga bisa kamu gunakan kamu bisa membatalkan kesepakatan kita." ucap pria tersebut dengan santai
"Apa aku memang harus berbuat sejauh itu? tapi apa dengan diam aku bisa membuahkan hasil? bagaimana pun juga aku ga boleh membuat papa kecewa lagi," batin Melinda
__ADS_1
Melinda yang sudah gelap mata tak mau perduli akan apapun lagi, yang ada di dalam benaknya saat itu hanya bagaimana caranya memisahkan Alex dan Dinda. Bahkan sebuah perjanjian yang bisa di bilang konyol rela gadis tersebut lakukan
"Oke kita pindah ke tempat yang lebih baik, dan ingat jangan mengambil kesempatan apapun bila menurut saya apa yang kamu punya ga berarti sama sekali." ucap Melinda dengan tegas
Pria tersebut menganggukkan kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali, sedangkan gadis bodoh itu hanya demi memuaskan keinginan sang ayah dan harga dirinya yang jatuh bersedia melakukan apapun
Melinda mengikuti keinginan pria tersebut dan menghabiskan malam panas bersama pria itu, setelah melewati malam panjang tersebut laki-laki tersebut tak ingin melepaskan Melinda dengan mudah
Laki-laki tersebut hanya memberikan salinan dari bukti yang dia miliki, dan akan menyerahkan yang asli saat nanti gadis tersebut datang kembali kepada dirinya
FLASH OFF
Dan hari itu adalah hari di mana Julian akan membuat sebuah kejutan untuk sang istri, Dinda menepis masalah yang sedang menghampiri dirinya untuk sejenak. Karena dia harus ikut berperan langsung di dalam acara tersebut sebagai salah satu pemeran utama dan mulai menghubungi Riska
"Halo Ris"
"Ya Din"
"Nanti malam apa kamu ada waktu ga?"
"Kenapa Din?"
"Nanti malam kak Alex dapat undangan ke sebuah pesta tapi kak Alex ga bisa hadir karena lagi di luar kota, kak Alex minta aku untuk menggantikan dia datang ke pesta itu. Jadi aku minta tolong kamu untuk temani aku datang ke acara itu"
Saat itu Julian harus berpura-pura pergi keluar kota untuk memuluskan rencana mereka, sedangkan Dinda yang tak mendengar jawaban apapun dari Riska kembali membuka suara
"Ris...."
"Ya Din, maaf tadi aku melamun"
"Atau kamu ada acara lain malam ini?"
"Oh ga kok Din, aku ga ada acara apa-apa malam ini. Kak Julian juga lagi di luar kota," ucap Riska lirih
"Kebetulan dong, kalau gitu nanti malam kamu tolong temani aku ya"
"Tapi...."
Sesungguhnya hati Riska enggan untuk pergi ke suatu tempat karena dia sedang merasa sedikit kecewa dengan sang suami
"Tolong temani aku dong Ris, aku pasti bingung harus apa nanti di sana? apalagi nanti di sana ga ada yang aku kenal, apa kamu ga kasihan sama aku?" ucap Dinda dengan nada memelas
__ADS_1
"Oke Din, nanti malam aku temani kamu"
"Terima kasih Riska sayang, nanti aku kirim gaun ke apartemen kamu ya"
"Gaun?" tanya Riska bingung
"Ya kebetulan acaranya di hadiri orang-orang penting Ris, jadi kak Alex sudah siapkan gaun untuk aku dari jauh hari. Nah karena kamu temani aku jadi biar aku yang tanggung jawab untuk gaun kamu"
"Oke"
Mereka pun berbincang ringan sejenak sebelum memutuskan sambungan teleponnya, sesungguhnya jauh di dalam lubuk hati Riska ada perasaan sedih karena ini pertama kalinya sang suami tak ada di sisinya saat mereka sedang merayakan sesuatu
"Semoga aja kak Julian ga lupa dengan hati pernikahan kami," ucap Riska lirih
Saat malam mulai tiba Dinda pun mulai menjemput Riska, Dinda menggunakan sebuah gaun dan berias sedikit untuk menyempurnakan sandiwara yang sedang dia perankan
Di sepanjang perjalanan Riska banyak terlihat termenung seperti sedang memikirkan sesuatu, hatinya benar-benar mengharapkan sang suami berada di sampingnya pada hari itu. Dia bahkan beberapa kali menghela nafas agar merasa lebih baik
"Kamu kenapa Ris?"
Riska yang baru saja tertangkap basah menghela nafas pun hanya bisa menjawab dengan senyuman canggung
"Sebenarnya kamu kenapa? dari tadi aku perhatiin kamu menghela nafas terus"
Riska pun mulai menatap ke arah Dinda dengan tatapan mata yang terlihat bersedih
"Mungkin aku akan kedengaran egois kalau mengeluh tentang ini"
"Kamu kan cerita sama aku Ris bukan orang lain," ucap Dinda dengan lembut
"Sebenarnya hari ini hari pernikahan aku sama kak Julian Din, biasanya kami selalu merayakan hari ini bersama." ucap Riska lirih
"Aduh maaf aku ga tau Ris," ucap Dinda dengan cepat
"Ga masalah kok Din kak Julian juga lagi sibuk di luar kota, tapi karena aku baru sekali ini melewati hari pernikahan kami sendirian aku jadi punya pikiran yang aneh-aneh Din"
"Maksud kamu gimana ya?"
"Aku jadi takut kak Julian sengaja menghindar di hari ini, mungkin aja dia merasa bosan sama aku karena sampai detik ini aku masih belum bisa memberikan dia keturunan"
Dinda hanya bisa terdiam mendengar semua curahan hati Riska
__ADS_1
"Terkadang aku merasa gagal menjadi seorang istri Din," ucap Riska lirih sambil tersenyum getir