
Dinda yang merasa tubuhnya masih kurang nyaman memilih untuk meminta ijin dan tidak bekerja pada hari itu, seharian itu Dinda mengabiskan waktunya untuk memikirkan jalan apa yang harus dia tempuh di kemudian hari. Sekuat apapun Dinda berusaha memutar otaknya dia tak bisa menemukan satu pun jawaban untuk hal tersebut
Tiba-tiba saja bel di apartemen tersebut pun berbunyi, Dinda segera melihat ke arah luar dan ternyata ada seorang kurir berdiri di depan pintu. Dia pun segera membuka pintu dan hendak menjelaskan bahwa dia sedang tak memesan apapun pada saat itu, tetapi sang kurir menjelaskan bahwa dia berada di situ untuk mengantarkan makanan dan orang yang memesan makanan tersebut adalah Alex
Baru saja Dinda mendudukkan tubuhnya ponselnya pun langsung berdering dan sudah pasti panggilan telepon tersebut berasal dari Alex
"Apa makanannya sudah datang?"
"Iya kak"
"Pasti saat ini kamu ga selera untuk makan tapi kamu tetap harus makan, kalau kamu sampai sakit aku juga yang repot" ucap Alex dengan dingin
"Terima kasih kak"
Untuk sesaat Alex terdiam dan Dinda pun dengan setia menunggu Alex dalam diam
"Kamu bisa pergi ke rumah sakit untuk jemput ibu kamu keluar dari rumah sakit, aku sudah siapkan rumah yang lebih layak untuk ibu kamu"
"Ya kak"
"Tapi kamu harus pulang sebelum jam pulang kantor, karena malam ini aku akan pulang ke apartemen"
"Aku benar-benar ga tau apa yang harus aku lakukan sekarang, tapi mau bagaimana pun juga saat ini aku sudah menjadi istri kak Alex. Aku harus mulai menjalankan kewajiban aku sebagai seorang istri, sampai batas waktu aku ga kuat lagi untuk bertahan"
"Aku paham kak"
Alex pun langsung memutuskan sambungan teleponnya, Dinda yang sudah mendapatkan ijin pun memilih untuk segera menghabiskan makan siangnya. Dia pun langsung bersiap untuk menemui sang ibu
Dinda bisa bernafas dengan lega karena keadaan sang ibu kini benar-benar sudah terlihat lebih baik, wajah sang ibu sudah terlihat jauh lebih segar jika di bandingkan dengan yang sebelumnya
"Apa ibu sudah siap untuk pulang?" tanya Dinda dengan senyuman bahagia di bibirnya
"Ibu memang ingin cepat-cepat pulang Din, ibu merasa kurang nyaman berada di sini." ucap ibu Sari dengan wajah serius
"Loh, kenapa bu?"
"Ibu yakin kamu sudah menghabiskan banyak uang selama ibu ada di sini, ibu ga mau menjadi beban untuk kamu Din" ucap ibu Sari dengan wajah bersedih
__ADS_1
Dinda pun langsung memeluk tubuh sang ibu dengan sangat erat
"Ibu jangan punya pikiran yang aneh-aneh ya, semua biaya rumah sakit ibu di tanggung sama kantor Dinda kok bu"
Dinda memilih untuk berbohong agar sang ibu menjadi lebih tenang
"Kamu ga bohong sama ibu kan Din?"
Dinda mulai melepaskan pelukannya dan menatap sang ibu sambil tersenyum
"Ya bu, ya cuma Dinda harus minta maaf karena Dinda jadi ga bisa merawat ibu"
"Ibu baik-baik aja kok Din, kamu ga usah khawatir ya." ucap sang ibu dengan lembut
Setelah semua di rasa siap sang Dinda pun mulai mengantarkan sang ibu ke sebuah rumah yang telah di siapkan oleh Alex, jangankan sang ibu Dinda sendiri pun merasa terkejut melihat rumah tersebut
"Apa ga salah kak? rumah ini terlalu mewah, aku harus bekerja keras untuk meyakinkan ibu"
"Apa ga salah Din? rumah ini terlalu bagus," ucap ibu Sari sambil menatap serius ke arah Dinda
"Ya mau gimana lagi bu, rumah ini kan inventaris kantor jadi aku ga bisa milih karena yang nentuin juga orang kantor bu"
"Tapi Din..."
"Ga apa kok bu, rumah ini ga menjadi rumah kita kok. Nanti kita tetap harus kembalikan rumah ini saat Dinda berhenti bekerja," ucap Dinda dengan wajah serius
Dinda berusaha kuat untuk meyakinkan sang ibu tetapi sebagai seorang ibu hati ibu Sari tetap merasa curiga dengan itu semua
"Kamu ga lagi berbohong sama ibu Din?"
Dinda menampilkan senyuman terbaik yang dia punya agar sang ibu tak merasa terbebani dengan itu semua, dia pun memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu untuk menghindari kecurigaan sang ibu
Di sepanjang perjalanan Dinda mulai memikirkan tugas yang sudah menanti dirinya saat dia bertemu dengan Alex, dan sudah pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran Dinda pada saat itu
"Aku tau aku harus melakukan itu, tapi gimana kalau kejadian malam itu terulang lagi? apa akhirnya cuma ada aku yang merasa terhina?"
Dinda memerintahkan sang supir untuk berhenti sejenak di sebuah tempat, setelah membeli sesuatu yang dia butuhkan dia pun kembali ke apartemen mereka. Karena dia sadar bahwa kini dia tak bisa lagi menghindar dari tugas yang dia miliki
__ADS_1
Detik demi detik terus berlalu, entah sudah seberapa cepat detak jantung Dinda bekerja pada saat itu. Menyadari bahwa waktu yang dia punya sudah tidak banyak dia pun mulai mengeluarkan barang yang tadi sudah dia beli, tenyata Dinda membeli beberapa botol red wine saat dia akan kembali ke apartemen tersebut
"Setidaknya aku ga akan terlalu merasa sakit hati kalau kak Alex menginjak harga diri aku lagi"
Dinda pun mulai meminum wine tersebut dengan cepat, dan saat Alex tiba di apartemen tersebut Dinda pun sudah terlihat mulai mabuk
"Kamu sudah pulang kak?" ucap Dinda sambil tersenyum hangat
Alex pun langsung mengerutkan keningnya melihat gelas yang sudah terisi oleh wine dan sebuah botol wine yang sudah hampir habis
"Kamu minum itu?" tanya Alex dengan dingin
Dinda menganggukkan kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali
"Kamu padahal sudah tau kalau aku akan pulang Din!! apa kamu ga bersedia menyerahkan tubuh kamu dalam keadaan sadar?" batin Alex sambil mengeraskan rahangnya
Alex pun segera melangkahkan kakinya ke arah kamar, dia berusaha untuk menghindari Dinda agar tak semakin terbakar oleh perasaan amarah. Melihat sikap Alex yang seperti itu pun membuat hati Dinda sedikit terluka
"Setidaknya kamu harus kasih tau ke aku apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan kak, jangan membuat aku selalu melakukan kesalahan di hadapan kamu kak." ucap Dinda dengan lirih
Alex pun langsung menatap ke arah Dinda yang saat itu sudah menundukkan kepalanya dengan wajah bersedih, entah mengapa hati Alex benar-benar tak sanggup melihat ekspresi wajah Dinda pada saat itu
"Kenapa kamu minum itu padahal kamu tau aku mau pulang, apa kamu ga bersedia melayani aku dalam keadaan sadar?"
Dinda pun menggelengkan kepalanya
"Setidaknya hati aku ga akan terlalu sakit kalau kamu ga bersedia sentuh aku lagi seperti kemarin kak," ucap Dinda lirih
Untuk pertama kalinya kedua orang tersebut bisa menyelesaikan masalah mereka dengan baik, Alex pun melangkahkan kakinya ke arah Dinda dan mendudukkan tubuhnya di samping Dinda
"Apa kamu benar-benar sudah siap melakukan itu sama aku?"
Dinda pun mulai berani untuk menatap ke arah Alex
"Serendah apapun aku di mata kamu tetap aja kamu adalah suami aku kak, jadi sudah kewajiban aku sebagai seorang istri untuk melakukan ini" batin Dinda sambil tersenyum
Dinda pun menganggukkan kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali
__ADS_1