
Alex pun memutuskan untuk mengantarkan Dinda lebih dulu kembali ke tempat kerjanya , di sepanjang perjalanan Alex hanya berpura-pura tidak tau bahwa Dinda terus menatap ke arah dirinya dengan tatapan mata yang tajam
Tetapi sudah pasti Alex tak mungkin membiarkan itu terus menerus, dia hanya tak ingin melihat Dinda marah atau kecewa kepada dirinya
"Kalau mata kamu bisa ngeluarin laser aku pasti sudah meninggal dari tadi loh"
"Bagus kalau kamu masih sadar kak, karena sekarang aku butuh banyak penjelasan dari kamu." ucap Dinda dengan tegas
Alex melihat sekilas ke arah Dinda sambil tersenyum hangat
"Aku minta kamu jelasin semuanya ke aku, bukan senyum kak"
"Aku lagi bawa mobil sayang, gimana kalau kita jadi kenapa-napa? atau kamu ikut ke kantor aku aja, nanti aku jelasin semuanya di sana. Gimana?"
Dinda pun memutuskan untuk mengikuti keinginan Alex, karena banyak sekali yang harus dia tanyakan kepada laki-laki yang telah menjadi suaminya tersebut. Dan kini mereka sudah berada di ruangan Alex
"Sekarang kamu jelasin semuanya sama aku kak," ucap Dinda penuh penekanan
"Kamu mau aku jelasin yang mana sayang?"
"Masalah pemindahan aset yang kamu bahas di depan ibu aku, kenapa aku bisa ga tau sama sekali tentang itu?"
"Karena memang kamu ga tau masalah itu, aku juga terpaksa bohong untuk dapat tanda tangan kamu. Kalau aku ngomong jujur ke kamu pasti kamu ga akan setuju"
Dinda pun langsung teringat gelagat aneh Alex saat meminta dia untuk membubuhkan tanda tangan di beberapa berkas
"Waktu di ruang kerja kamu ya kak?" tanya Dinda sambil menatap tajam
Alex pun menganggukkan kepalanya
"Pantas aja kak Alex ga kasih aku kesempatan untuk baca tulisan di lembar kedua, ternyata karena ini." batin Dinda sambil menatap tajam ke arah Alex
"Apa maksud kamu lakuin ini semua kak?"
"Aku ga ada maksud apapun sayang, aku cuma mau kamu punya jaminan untuk masa depan kamu. Apa salah?"
"Tapi kan ga perlu dengan cara ini, ini terlalu aneh buat aku. Gimana kalau nanti ternyata aku tinggalin kamu? terus kamu mau hidup sebagai gelandangan?" ucap Dinda dengan sinis
__ADS_1
"Kalau begitu jangan sampai kamu pergi tinggalin aku, atau kamu harus sedih karena lihat aku jadi gelandangan." ucap Alex sambil tersenyum
"Bukan itu poin pentingnya kak, apa kamu ga paham yang lagi aku bahas?"
Alex pun langsung bangkit dari duduknya dan berpindah tepat di samping Dinda lalu memeluk tubuh Dinda dengan erat
"Aku paham kok sayang, tapi kamu dengar yang tadi ibu kamu bilang dan aku berharap itu ga pernah terjadi sama kamu. Anggap aja itu sebagai jaminan kalau aku ga akan pernah meninggalkan kamu atau menyakiti hati kamu," ucap Alex dengan lembut
"Ya tapi kamu ga perlu berbuat sejauh itu kak, aku jadi merasa seperti perempuan ular yang menghisap kamu sampai habis." ucap Dinda lirih
Alex pun semakin mengeratkan pelukannya
"Aku akan ga pernah berpikir kamu begitu kok, bagi aku kamu perempuan terbaik yang pernah ada. Jangan pernah merasa terbebani dengan itu ya, aku melakukan itu demi kamu." ucap Alex lalu mencium kening Dinda dengan lembut
"Maaf karena aku berbohong sama kamu Din, aku melakukan ini supaya kamu bisa hidup dengan tenang kalau kamu akhirnya memutuskan kita untuk berpisah. Walaupun aku yakin saat itu aku akan menjadi orang yang paling terluka," batin Alex
"Ada satu hal lagi yang harus aku tanyakan sama kamu kak"
Alex pun melepaskan pelukannya dan menatap Dinda dengan serius
"Apa lagi sayang?"
Alex pun langsung menggelengkan kepalanya, dan Dinda menatap Alex dengan tatapan mata tidak percaya
"Aku ga bohong kok, aku sudah lama minta orang yang ikuti kamu untuk berhenti melakukan itu." ucap Alex dengan serius
"Terus kenapa kamu bisa tau kalau aku ada di rumah ibu? apa pekerja di sana yang lapor ke kamu? tapi ga mungkin kamu bisa secepat itu sampai sana." ucap Dinda dengan wajah bingung
"Untuk masalah yang satu itu kamu bisa tanya ke Julian aja sayang," ucap Alex dengan lembut
"Kenapa kamu malah minta aku tanya ke kak Julian kak?" tanya Dinda sambil mengerutkan keningnya
"Oke aku jelasin ya"
Dinda pun memperhatikan Alex dengan serius
"Tadi dia sempat datang ke tempat kerja kamu"
__ADS_1
"Mau ngapain kak Julian datang ke tempat kerja aku?"
"Katanya sih dia mau minta bantuan dari kamu, terus dia lihat kamu lagi terburu-buru naik taksi. Dia pikir kamu mau ketemu aku, jadi dia langsung telepon aku tanyain kamu. Itu kenapa aku bisa tau kamu ga ada di tempat kerja kamu"
"Kamu ga lagi bohong kan kak?"
"Ga sayang, makanya aku bilang tanya aja ke Julian kalau kamu ga percaya sama aku"
"Keluar dari kantor kan belum tentu ke tempat ibu, terus kamu tau dari mana kalau aku tadi ke tempat ibu?"
"Insting sebagai suami yang baik," ucap Alex dengan lembut
"Aku lagi tanya kamu serius ini kak," ucap Dinda sambil memasang wajah malas
"Ya karena Julian bilang dia lihat kamu terburu-buru, jadi aku pikir cuma ada dua alasan yang membuat kamu bisa sampai seperti itu"
"Maksud kamu kak?"
"Pilihan pertama kamu pasti mau ketemu sama suami kamu yang tampan ini, tapi itu kan ga mungkin. Jadi ya aku langsung berpikir pasti kamu mau ketemu sama ibu kamu, apalagi waktu aku coba telepon kamu dan ternyata ponsel kamu ga aktif"
Dinda pun memilih untuk diam karena penjelasan yang Alex berikan masuk akal bagi dirinya
"Tapi kamu tau ga? hari ini aku merasa sedikit kecewa sama kamu sayang." ucap Alex dengan serius
Dinda pun langsung menatap Alex dengan wajah serius
"Kecewa sama aku, kenapa kak?"
"Karena kamu berusaha untuk tutupi masalah ini dari aku, waktu aku sampai sana juga aku baru tau kalau kamu ancam para pekerja di sana untuk ga bilang ke aku kamu ada di sana." ucap Alex dengan serius
"Maaf ya kak," ucap Dinda sambil tersenyum
"Aku minta mulai sekarang kamu ga pernah lagi menutupi apapun dari aku"
"Maaf ya kak, aku cuma ga mau membuat posisi kamu jadi serba salah," ucap Dinda dengan suara pelan dan lirih
Alex pun meletakkan tangannya di ujung kepala Dinda dengan lembut
__ADS_1
"Tapi harus selalu ingat kalau sekarang kita sudah jadi suami istri sayang, jadi kita harus saling berbagi apapun itu." ucap Alex dengan lembut