
Alex yang melihat Dinda sedang berbincang dengan laki-laki lain dari kejauhan sambil tersenyum ramah pun benar-benar merasa tidak nyaman di dalam hatinya, dengan cepat Alex menepikan mobilnya tepat di samping motor orang tersebut. Dan Alex pun langsung membuka salah satu kaca mobilnya dan memasang wajah dingin seperti biasanya
"Kamu kenal sama dia?" tanya orang di atas motor sambil melihat ke arah Alex
"Oh ya, dia anak majikan aku"
Dinda pun langsung menghampiri mobil Alex dan entah mengapa hati Alex sedikit tak suka saat mendengar Dinda mengakui siapa dirinya di hadapan orang tersebut
"Maaf den bu Helen minta saya untuk beli apa ya den?" tanya Dinda dengan sopan
"Mama minta kamu buat beli cake lemon yang biasa mama beli"
Alex pun terpaksa kembali berbohong untuk menutupi kebohongan yang telah dia lakukan sebelumnya
"Oh gitu ya den, terus saya harus antar cake lemon itu ke mana ya den?" tanya Dinda dengan polosnya
"Aduh kenapa gw bisa lupa juga bagian itu?"
"Kata mama tadi ga usah di antar, habis beli cake lemon kamu di minta mama bawa cake lemon itu ke rumah aja"
"Oh ya sudah kalau begitu den, nanti saya beli cake lemon nya sekalian saya jalan pulang"
"Kamu pegang uang ga buat beli itu?"
"Kalau cuma buat cake lemon yang biasa Bu Helen beli sepertinya uang saya masih cukup den"
Alex pun melirik sekilas laki-laki yang berada di atas motor tadi, dan orang tersebut masih tak pergi juga hingga saat itu
"Jangan bilang dia mau antar Dinda kayak Julian juga? kenapa sih banyak banget laki-laki yang mau deketin anak ini?"
Alex hanya bisa menggerutu di dalam hatinya tanpa mau mengungkapkan itu semua
"Kamu mau ke sana naik apa?"
__ADS_1
"Akh!! jangan terlalu percaya diri Dinda, ga mungkin den Alex bersedia antar kamu. Jangan bikin malu diri sendiri, kamu harus ingat kejadian waktu pertama kamu mau masuk kampus"
"Gampang den, nanti saya bisa naik angkutan umum aja"
Mendengar hal tersebut tiba-tiba saja teman sekelas Dinda pun buka suara
"Biar aku aja yang antar kamu, sekalian aku juga mau pulang"
Alex hanya terdiam dengan wajah dingin seperti biasanya, tetapi dia langsung mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam dompetnya dan memberikan uang tersebut kepada Dinda
"Pakai uang itu untuk beli cake lemon pesanan mama dan pergi ke sana naik taksi, ingat omongan yang pernah saya bilang dulu. Kamu itu perempuan jadi kamu harus bisa jaga diri kamu," ucap Alex penuh penekanan
"Ya den"
Tanpa menunda waktu Alex langsung melajukan mobilnya kembali ke kediaman keluarga Wijaya, Dinda pun langsung menolak tawaran dari teman kelasnya dengan sopan. Secara diam-diam ternyata Alex masih memperhatikan melalui kaca spion, tanpa sadar dia pun tersenyum tipis saat melihat motor tersebut meninggalkan Dinda begitu saja
"Apa benar ini yang namanya perasaan suka? aku bahkan tadi ga merasakan apapun saat Valen ada dekat dengan laki-laki lain, tapi aku benar-benar jengkel saat ada pria lain di dekat Dinda!!." gumam Alex
Sesampainya di kediaman keluarga Wijaya Alex pun segera masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya, tanpa dia sadari dia langsung melangkahkan kakinya ke teras depan dan mendudukkan tubuhnya di salah satu bangku yang berada di sana
"Ternyata nurut juga dia," gumam Alex
Dinda yang melihat Alex berada di teras depan pun langsung menghampiri Alex dan mengatakan bahwa dia sudah membeli apa yang di perintahkan, Alex pun meminta Dinda menyiapkan secangkir teh hangat dan cake lemon tersebut
Tanpa menunda waktu Dinda segera melakukan apa yang di perintahkan oleh Alex, dia pun kembali ke teras depan dengan membawa apa Alex inginkan
"Mau di taruh di sini Den?"
Alex pun menjawab dengan anggukkan kepalanya, Dinda pun segera meletakkan isi nampan yang dia bawa
"Kalau ga ada lagi saya permisi ke rumah belakang dulu den"
Baru saja Dinda akan melangkahkan kakinya Alex pun langsung membuka suara
__ADS_1
"Siapa cowok tadi?"
"Yang tadi itu temen sekelas saya den"
Alex pun langsung menampilkan wajah dingin sambil menatap tajam ke arah Dinda dan hal tersebut berhasil membuat nyali Dinda langsung sedikit menciut
"Aduh kenapa lagi nih? jangan bilang aku buat salah lagi? biasanya den Alex kalau udah begini pasti mau marah deh"
"Maaf, ada apa ya den?"
"Kenapa tadi kamu bilang kalau saya ini anak majikan kamu di depan dia?"
"Lah memang apa salahnya aku bilang kayak gitu? kan memang kenyataan kalau aku cuma anak supir di rumah ini, lagi pula semua teman dan pacar den Alex kan juga tau kalau aku cuma anak supir." ucap Dinda di dalam hatinya sambil memasang wajah bingung
Alex yang merasa tak mendapatkan respon dari Dinda pun kembali menatap Dinda dengan tajam
"Di tanya kenapa malah diam?"
"Ya kan memang benar kalau saya ini cuma anak supir den," ucap Dinda dengan polosnya
"Apa kamu marah sama saya? karena saya kasih tau Julian dan yang lainnya kalau kamu itu anak supir di rumah saya," tanya Alex penuh penekanan
Dinda pun tersenyum tipis dan senyuman Dinda pun membuat Alex langsung mengalihkan pandangan matanya sambil memasang wajah dingin
"Sial!! kenapa waktu dia senyum keliatan cantik ya?" gerutu Alex di dalam hatinya
"Buat apa saya marah den? kan memang benar kalau saya ini cuma anak supir"
Mendengar jawaban Dinda yang biasa saja membuat Alex kembali menatap ke arah dirinya
"Ya kalau kamu ga merasa marah, kamu ga perlu kasih tau semua orang kalau kamu itu cuma anak supir. Apa kamu ga merasa malu mengakui diri kamu itu cuma anak supir?" tanya Alex dengan serius
Lagi-lagi Dinda tersenyum tipis tetapi sekali ini Alex tak mau membuang pandangan matanya karena dia ingin mendengar jawaban dari Dinda
__ADS_1
"Kenapa saya harus merasa malu den? setelah saya pikir-pikir seharusnya merasa bangga, karena ayah saya yang seorang supir dan kebaikan keluarga ini bisa membuat saya kuliah di tempat sebagus itu." ucap Dinda sambil tersenyum tulus
"Tapi aku ga suka dengar itu," ucap Alex dengan tegas