Perjuangan Cinta Beda Kasta

Perjuangan Cinta Beda Kasta
Sudah Merasa Puas?


__ADS_3

Alex menepis jauh kecurigaan yang sedang dia rasakan pada saat itu, dia memilih untuk berdamai dengan perasaan curiga yang sedang dia rasakan. Alex pun merengkuh pinggang Dinda hingga tak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka berdua


"Aku ga mungkin menolak Din, rasanya aku sudah hampir gila karena kamu selalu bersikap dingin sama aku"


"Maaf ya kak," ucap Dinda dengan tulus


Dinda mulai mendorong tubuh Alex hingga Alex terbaring di atas tempat tidur dengan posisi kakinya masih bergelantung ke bawah, Dinda pun memulai serangan yang dia bisa sebaik mungkin sampai Alex merasa terbang dan melayang


Malam itu menjadi malam panas yang tak akan pernah bisa di lupakan oleh Alex di sepanjang hidupnya, karena malam itu Dinda yang lebih banyak berperan bahkan Alex tak mempunyai kesempatan untuk membalasnya


Mereka kini sedang mencoba mengatur nafasnya mereka yang masih memburu, Alex pun langsung memeluk tubuh Dinda dengan erat dan menghadiahkan sebuah ciuman di kening Dinda


"Terima kasih sayang," ucap Alex dengan lembut


Dinda pun tersenyum hangat


"Besok kita pergi berlibur yuk kak"


Alex langsung melepaskan pelukannya dan menatap Dinda dengan lekat


"Besok?"


Dinda menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat


"Sebenarnya ada apa sama kamu Din? aku benar-benar bahagia bisa melihat kamu seperti ini, tapi kenapa rasanya ada yang aneh ya?" batin Alex dan semakin lekat menatap ke arah Dinda


"Iya, aku mau menghabiskan waktu cuma berdua sama kamu." ucap Dinda dengan manja


Entah mengapa hati Alex semakin merasa curiga dengan semua perubahan sikap Dinda


"Apa kamu ga mau berduaan sama aku kak?" tanya Dinda lirih

__ADS_1


"Bukan gitu Din," jawab Alex dengan cepat


"Kalau begitu berarti kamu setuju dong"


Tak ingin membuat suasana yang ada berubah menjadi buruk Alex pun menyetujui keinginan Dinda, tapi dia tak bisa membohongi kalau saat ada itu ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya


Alex membawa Dinda ke sebuah pulau kecil yang tidak terlalu ramai di padati oleh penduduk, sejauh mata memandang akan melihat hamparan kekayaan alam yang melimpah ruah


Dinda tak henti-hentinya memberikan segala perhatian dan kasih sayang yang dia miliki kepada Alex, sedangkan Alex tak mungkin bisa menolak itu semua. Tetapi jauh di dalam lubuk hatinya semakin merasa yakin bahwa ada sesuatu yang sedang Dinda rencanakan dan itu semua membuat dia semakin merasa takut


Tanpa terasa mereka sudah tiga hari berada di tempat itu dan malam itu Dinda menemani Alex untuk makan malam di luar, dan setelah menyelesaikan makan malam mereka Dinda pun mulai menatap ke arah Alex dengan wajah serius


"Ini akan menjadi saat-saat terakhir kita untuk bersama kak karena mulai malam ini aku akan pergi dari kamu, dan aku berharap kamu ga akan menghalangi aku untuk pergi," ucap Dinda sambil tersenyum tipis


Alex menatap jauh ke dalam mata Dinda pada saat itu, dia berharap bahwa semua ucapan Dinda pada saat itu hanyalah sebuah kebohongan belaka. Tapi sayangnya Alex hanya melihat sebuah keseriusan dari kedua mata Dinda


"Bercanda kamu ga lucu sayang," ucap Alex dengan suara bergetar


Dinda berhasil membuat Alex terbang melayang hingga ke awan dalam beberapa hari terakhir, tetapi Dinda juga berhasil membuat Alex berada di jurang terdalam dalam sekejap mata. Mata tegas seorang Alexander Wijaya pun langsung meneteskan air matanya


"Apa kamu benar-benar mau membunuh aku Din?" tanya Alex lirih


"Tapi kita harus lakukan ini kak, bagaimana pandangan semua orang kalau kesalahan papa kamu tersebar dan aku tetap ada di samping kamu"


Alex pun tak bisa menutupi ekspresi wajah terkejut pada saat itu


"Kamu sudah tau Din?"


"Aku ga perduli walaupun seluruh dunia akan menilai aku sebagai anak yang berbakti kalau aku tetap memilih di samping kamu, tapi bagaimana dengan ibu aku kak?"


"Tapi aku ga bisa Din, aku ga akan sanggup kehilangan kamu lagi"

__ADS_1


"Aku yakin kita bisa kak," ucap Dinda penuh keyakinan


Malam itu untuk pertama kalinya Alex menghabiskan malam tanpa ada di sampingnya, dia memilih untuk tetap menghabiskan malam di tempat itu. Setidaknya jejak Dinda masih tertinggal di tempat itu dengan jelas


Alex mencoba menguatkan hatinya yang terasa sakit, bahkan dia menyadari bahwa sikap Dinda yang dingin di beberapa hari terakhir jauh lebih baik dari pada saat Dinda benar-benar tak ada di sampingnya. Dia pun menatap tempat yang kosong di sebelahnya dengan tatapan mata yang penuh kesedihan


"Kenapa kamu pilih jalan seperti ini sayang? baru hitungan detik kamu pergi rasanya aku sudah hampir mati memikirkan kamu, kamu benar-benar jahat Din." batin Alex


Alex mencoba mengingat semua kenangan manis yang telah terjadi beberapa hari ini dan tanpa sadar dia pun mulai terlelap ke alam mimpi, sedangkan di tempat yang berbeda Dinda sedang menempuh perjalanan ke kota asal Irwan. Dia pun mulai mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada Melinda


"Terima kasih karena sudah memberikan kami waktu yang indah beberapa hari ini, saya sudah pergi dari sisi kak Alex dan saya akan pergi sejauh mungkin seperti yang anda inginkan"


Dinda pun menggenggam erat ponselnya sambil mencoba menahan air mata yang hampir terjatuh, dan sebuah tangan mulai memegang pundak Dinda


"Kamu baik-baik aja?" tanya Irwan dengan lembut


Dinda pun menganggukkan kepalanya dengan senyuman getir


"Aku harus kuat karena ini adalah jalan terbaik yang kami miliki saat ini," batin Dinda


Saat pagi mulai menyapa hal pertama yang Alex lakukan adalah kembali ke kota asal, dan di tengah perjalanan dia mengirimkan pesan kepada Melinda bahwa dia ingin bertemu dan meminta Melinda untuk datang ke kantornya


Di tempat yang berbeda Melinda tersenyum puas saat membaca pesan dari Alex


"Aku ga tau dan ga mau tau apa yang terjadi dengan kalian berdua, yang aku tau saat ini langit bahkan sedang berpihak di samping aku. Entah apa yang ada di dalam pikiran perempuan itu? yang pasti cinta kalian yang terlalu besar membuat jalan saya lebih mudah," batin Melinda


Alex mulai melakukan rutinitas seperti biasanya, dia mengerjakan semua pekerjaan yang telah menanti dirinya dengan sebaik mungkin. Karena hanya dengan cara itu dia bisa melupakan sejenak kepergian Dinda dari sisinya


Asisten pribadi Alex menyampaikan bahwa Melinda sudah tiba di tempat itu, dan Alex pun langsung memerintahkan agar Melinda masuk ke dalam ruangannya. Tanpa rasa malu sama sekali Melinda masuk ke dalam ruangan tersebut dengan membawa senyuman kemenangan


Melinda melangkahkan kakinya dengan pasti ke arah meja kerja Alex dan mendudukkan tubuhnya tepat di hadapan Alex, ingin sekali rasanya Alex membunuh gadis yang kini duduk di hadapannya tersebut. Tetapi dia tak mungkin melakukan itu semua dia hanya bisa menatap gadis tersebut dengan dingin

__ADS_1


"Apa kamu sekarang sudah merasa puas? sekarang apa lagi yang kamu inginkan? ucap Alex dengan dingin


Lagi-lagi Melinda tersenyum penuh kemenangan


__ADS_2