
Tiba-tiba saja ada beberapa orang suster masuk ke dalam ruangan tersebut, dengan cepat Dinda pun langsung menghapus air matanya sempat terjatuh
"Selamat malam"
"Malam sus," ucap Dinda dan langsung bangkit dari duduknya
"Maaf ya bu, kami mau memindahkan ibu Sari ke ruangan lain"
"Kenapa sus? saya ga membuat pengajuan untuk pindah ruangan," ucap Dinda dengan wajah bingung
Dinda merasa bingung mengapa ibunya harus pindah ruangan, sedangkan di dalam kamar tersebut masih ada beberapa tempat tidur yang belum terisi. Para suster itu pun saling pandang karena merasa sedikit bingung dan tiba-tiba saja ada seorang pria mulai menghampiri mereka
"Selamat malam ibu Dinda"
"Malam"
"Saya hanya ingin memberitahukan bahwa saja yang meminta ibu Sari pindah ruangan," ucap pria tersebut dengan sopan
"Maaf, tapi bapak siapa ya?" tanya Dinda dengan wajah bingung karena dia merasa tidak mengenal orang tersebut
"Saya orang yang di kirim pak Alex bu"
"Oh jadi kamu orang yang selama ini melaporkan semua kegiatan saya sama dia" batin Dinda sambil menatap ke arah orang tersebut
"Kenapa bapak minta ibu saya untuk pindah ruangan?"
"Maaf sebelumnya bu, tapi saya hanya mengikuti arahan dari pak Alex. Pak Alex minta supaya ibu Sari bisa mendapatkan perawatan yang terbaik di rumah sakit ini"
Mendengar ucapan pria tersebut Dinda pun tak bisa berbuat apa-apa lagi, Dinda hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginan Alex. Saat itu juga ibu Sari di pindahkan ke ruangan terbaik di rumah sakit tersebut, bahkan ada sebuah sofa yang terlihat sangat nyaman di dalam ruangan tersebut
Ruangan tersebut benar-benar sangat jauh berbeda dengan ruangan yang sebelumnya, tetapi hati Dinda merasa semakin sakit dengan itu semua. Dia benar-benar merasa sudah berada di bawah kendali Alex sepenuhnya
Saat semua sudah keluar dari ruangan tersebut Dinda pun melangkahkan kakinya ke arah sang ibu, dia pun mencium kening sang ibu dengan sangat lembut
__ADS_1
"Ibu harus sembuh ya bu, Dinda akan lakukan apapun supaya ibu bisa tersenyum lagi seperti dulu." ucap Dinda dengan lembut dan mencium kening sang ibu sekali lagi
Dinda yang merasa mulai lelah pun mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang berada di dalam ruangan tersebut, sofa tersebut benar-benar terasa nyaman. Dengan semua kebaikan yang Alex berikan saat itu tak bisa membuat hati Dinda bahagia sama sekali
Dinda yang mulai merasa lelah pun mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa tersebut, Dinda mengeluarkan kartu yang sebelumnya sempat Alex berikan kepada dirinya dan memandang ke arah kartu tersebut sambil tersenyum getir
"Kita dulu pernah saling mencintai kak, bahkan kita sudah banyak berkhayal tentang masa depan kita yang akan bahagia. Tapi kenyataannya yang ada sekarang kamu membayar aku untuk jadi wanita kamu," batin Dinda sambil tersenyum getir
Tiba-tiba saja ponsel Dinda pun berdering karena ada seseorang yang menghubungi dirinya dan orang tersebut adalah Alex
"Apa sekarang dia bahkan ga izinkan aku untuk istirahat?" gumam Dinda
Panggilan telepon yang berasal dari Alex di abaikan oleh Dinda begitu saja, bahkan Dinda sudah menyiapkan sebuah alasan saat nanti Alex bertanya. Dia akan mengatakan bahwa dirinya sudah tertidur saat Alex menghubungi dirinya
Dan tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Dinda, sudah pasti Alex adalah orang yang mengirimkan pesan tersebut
"Sekali lagi kamu ga angkat telepon saya, berarti sekarang juga saya akan datang ke rumah sakit dan membawa kamu pergi"
Dalam sekejap nyali Dinda pun langsung menciut saat mengetahui isi pesan Alex, dan saat Alex menghubungi kembali Dinda pun segera menjawab panggilan telepon tersebut
Di seberang sana Alex hanya terdiam tanpa mengeluarkan suara apapun, Dinda yang sempat merasa ragu pun memeriksa ponselnya dan ternyata panggilan telepon tersebut masih berlangsung
"Apa ada yang harus saya lakukan untuk anda tuan?"
"Apa ibu kamu sudah di pindahkan?"
"Sudah tuan saya ucapkan terima kasih untuk kebaikan hati tuan terhadap saya"
"Berhenti menggunakan kata tuan terhadap saya, karena saya menjadikan kamu sebagai wanita saya bukan menjadi budak saya." ucap Alex dengan dingin
"Bukankah saat ini anda sudah menjadikan saya sebagai budak anda tuan? budak anda yang bertugas menjadi penghangat tempat tidur anda," batin Dinda sambil tersenyum getir
"Apa kamu mengerti?" tanya Alex dengan dingin
__ADS_1
"Lalu saya harus memanggil anda dengan sebutan apa tuan?"
Terdengar Alex membuang nafasnya dengan kasar di seberang sana, dan tiba-tiba saja Alex pun memutuskan sambungan teleponnya begitu saja. Tetapi tak lama kemudian sebuah pesan yang di kirimkan oleh Alex masuk ke dalam ponsel Dinda
"Panggil saya seperti dulu kamu memanggil saya, dan jangan pernah ulangi lagi mengabaikan telepon saya. Saya harap kamu tidak menguji kesabaran saya"
"Baik kak"
Entah mengapa pesan yang Alex kirimkan membuat hati Dinda semakin terasa sakit, Dinda merasa dirinya kini bagaikan seekor burung yang berada di dalam sangkar emas. Mungkin karena terlalu lelah Dinda pun langsung menuju ke alam mimpi dengan sangat cepat
Sesuatu yang aneh kembali terjadi saat pagi hari, karena tiba-tiba saja ada banyak sekali dokter yang datang ke dalam ruangan ibu Sari pada saat itu. Yang membuat Dinda sedikit merasa heran para dokter tersebut semuanya berdiri di belakang seorang dokter yang baru dia lihat, bahkan dokter yang biasa memeriksa keadaan sang ibu hanya berdiri di belakang dokter tersebut
"Selamat pagi"
"Pagi dok"
"Perkenalkan saya dokter Lukman," ucap sang dokter sambil menjulurkan tangannya
Dinda pun menyambut tangan sang dokter sambil memperkenalkan dirinya, walaupun di dalam hatinya merasa sedikit bingung akan sikap sang dokter
"Saya mau periksa keadaan ibu Sari sebentar ya"
"Silahkan dok"
Dengan sangat teliti dokter tersebut memeriksa keadaan ibu Sari, dan setelah dia memastikan beberapa hal dia sempat berdiskusi terlebih dahulu dengan para dokter yang berada di belakangnya
"Sepertinya keadaan ibu sudah mulai stabil, jadi secepatnya kita bisa membuat jadwal operasi untuk ibu kamu"
"Terima kasih dok," ucap Dinda sambil berkaca-kaca
Mendengar hal tersebut Dinda seperti melihat secercah cahaya di salah hatinya
"Kamu tenang aja ya, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu ibu kamu"
__ADS_1
"Terima kasih banyak dok," ucap Dinda sambil tersenyum haru
Dinda benar-benar merasa bahagia pada saat itu, dia benar-benar berharap sang ibu bisa tersenyum dan menemani dirinya seperti dulu kala. Karena Dinda benar-benar membutuhkan sosok sang ibu untuk menjadi penopang kekuatan di dalam hatinya