
Alex segera di larikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, Dinda dengan setia terus menemani Alex selama perjalanan menuju ke arah rumah sakit. Tanpa sadar air mata Dinda terus mengalir dengan hebat
"Kamu ngapain sih den berbuat sejauh ini untuk aku? seharusnya aku yang sedang berbaring di situ, aku ga pantas untuk mendapatkan ini semua dari kamu den."
Begitu tiba di rumah sakit Alex segera mendapatkan pertolongan, Dinda pun segera memberitahukan hal tersebut kepada kedua orang tuanya dan orang tua Alex. Kedua orang tua Alex tak mungkin bisa hadir di rumah sakit saat itu juga, mereka pun memerintahkan kedua orang tua Dinda untuk pergi ke rumah sakit
Saat kedua orang tua Dinda tiba di rumah sakit mereka langsung menanyakan keadaan Alex, tetapi Dinda yang masih merasa terpukul belum bisa menceritakan apapun kepada kedua orang tuanya
Aksi Valen yang sempat menginjak pedal rem pun membuat Alex tak mengalami luka yang serius, tetapi salah satu tulang tangan Alex patah akibat kecelakaan tersebut. Kini Alex pun sudah di pindahkan ke ruang rawat
Kedua orang tua Alex yang masih berada di luar kota memerintahkan Dinda dan kedua orang tuanya untuk menjaga Alex selama mereka belum kembali, mereka pun akan segera kembali setelah urusan mereka selesai
Dinda dan kedua orang tuanya sudah berada di ruang rawat Alex yang saat itu masih berada di bawah pengaruh obat bius, Dinda akhirnya meminta kedua orang tuanya pulang untuk beristirahat dan dia yang akan menemani Alex di rumah sakit
Awalnya kedua orang tua Dinda merasa keberatan dengan usulan yang Dinda berikan, bahkan kedua orang tua Dinda meminta dia pulang karena takut menjadi sakit karena kelelahan
"Aku ga apa kok Bu, malam ini biar Dinda yang jaga di rumah sakit. Besok pagi ibu atau bapak yang gantiin Dinda jaga den Alex di sini, sekalian tolong bawain Dinda baju ganti ya untuk ke kampus"
Dinda hanya mencari alasan untuk bisa bersama dengan Alex pada saat itu, bagaimana pun juga dia merasa bersalah dengan keadaan Alex pada saat itu. Akhirnya kedua orang tua Dinda pun menyetujui usulan Dinda
Dinda hanya memandangi wajah Alex yang terlihat tenang di dalam tidurnya, Dinda pun mulai menggenggam tangan Alex dengan lembut dan tiba-tiba saja air mata Dinda pun mulai terjatuh dengan sendirinya
"Kamu kenapa berbuat sejauh ini den? seharusnya biar aku yang ada di sana, kamu ga boleh berbuat sejauh ini cuma buat aku den." ucap Dinda dengan suara yang bergetar
Dinda pun mulai menangis dengan hebatnya, hingga Dinda tak menyadari bahwa Alex sudah mulai tersadar dan melihat Dinda yang menangis untuk dirinya
"Tadi aku benar-benar merasa takut den"
"Jangan nangis terus, nanti cantik kamu hilang." ucap Alex dengan suara yang lemah
Dinda pun langsung menatap ke arah Alex yang saat itu memaksakan dirinya untuk tersenyum
"Kamu udah bangun den?"
"Gimana aku ga bangun kalau dari tadi kamu berisik dan nangis terus?"
__ADS_1
"Maaf ya den"
"Tapi kamu baik-baik aja kan?"
Air mata Dinda pun mengalir semakin hebat mendengar ucapan Alex yang menanyakan tentang keadaan dirinya, sedangkan keadaan Dinda saat itu benar-benar jauh lebih baik dari dirinya
"Kenapa makin nangis? apa ada yang sakit?" tanya Alex dengan wajah khawatir
Dinda pun menggelengkan kepalanya
"Terus kamu kenapa?"
"Kenapa den Alex masih tanya keadaan aku? kalau keadaan den Alex aja seperti ini." ucap Dinda dengan dengan air mata yang semakin hebat
Alex pun tersenyum tipis
"Karena bagi aku keselamatan kamu jauh lebih penting"
"Tapi kamu ga perlu berbuat sejauh ini untuk aku den"
"Maksud kamu den?"
"Kamu ga boleh tolak aku lagi sebagai pacar kamu ya"
Air mata Dinda pun mengalir dengan semakin hebat, dan kini Dinda sudah tak bisa lagi menampung perasaan yang dia miliki untuk Alex. Dan Dinda pun menyetujui keinginan Alex
Malam itu Dinda menjaga Alex dengan sepenuh hati, dan Alex pun semakin memantapkan hatinya untuk memilih Dinda menjadi satu-satunya wanita di dalam hidupnya
Alex juga mengatakan kepada Dinda untuk tak memberitahu kepada siapapun kejadian yang sebenarnya, Alex hanya berpikir agar Dinda tak di salahkan oleh kedua orang tuanya dan menghindari kecurigaan kedua orang tuanya terhadap hubungan mereka
Pada esok hari kedua orang tua Dinda datang ke rumah sakit untuk menjaga Alex, mereka pun membawakan Dinda pakaian ganti untuk pergi ke kampus. Alex memerintahkan ayahnya Dinda untuk mengantarkan Dinda ke kampus dan biar di jaga oleh ibunya Dinda untuk sementara waktu
Sebenernya jauh di dalam lubuk hati Dinda ingin sekali berada di sisi Alex pada saat itu begitu pun sebaliknya, tetapi apa daya Dinda tak ingin membuat kedua orang tuanya curiga akan hubungan dirinya dan Alex
Hampir setiap saat Alex mengirimkan pesan kepada Dinda dengan membahas apapun sebagai percakapan mereka, untuk membuat kedua orang tua Dinda tak curiga bahkan Alex sudah meminta Julian untuk menjenguk dirinya. Dengan alasan itu dia meminta Julian datang ke rumah sakit bersama Dinda
__ADS_1
Sudah pasti Julian menuruti keinginan Alex, bagiamana pun Julian adalah orang yang paling mengerti perasaan Alex selama ini. Dia tau dengan pasti bahwa ini adalah pertama kalinya seorang Alexander Wijaya yang terkenal dingin mencintai seorang gadis dengan sepenuh hati
"Halo"
"Dinda ini aku Julian"
"Oh ya, ada apa ya kak?"
"Aku dengar Alex di rawat di rumah sakit ya?"
"Ya kak den Alex mengalami kecelakaan kak"
"Kamu bisa tolong antar aku ke rumah sakit buat jenguk Alex ga?"
Dinda bagaikan mendapatkan pencerahan saat mendengar ucapan Julian, Dinda pun langsung menyetujui hal tersebut karena itu adalah keinginan terbesar Dinda pada saat itu
Julian dan Dinda berada cukup lama di rumah sakit hingga waktu menunjukkan sore hari, saat mentari sudah mulai akan tenggelam Julian pun pamit undur diri. Dan Dinda meminta kedua orang tuanya kembali untuk beristirahat seperti hari kemarin
Tapi malam itu kedua orang tua Dinda tak mengabulkan usulan Dinda, mereka tak ingin menjadi sakit karena terlalu lelah. Dengan berat hati Dinda pun terpaksa kembali ke kediaman keluarga Wijaya bersama sang ayah, dan sang ibu menemani Alex di rumah sakit pada malam itu
Saat melihat ibunya Dinda sudah tertidur dengan pulas Alex langsung meraih ponselnya dan menghubungi Dinda, ternyata di seberang sana Dinda pun masih terjaga karena memikirkan Alex
"Halo den"
"Kamu belum tidur?"
"Belum den, kok bisa telepon? ibu aku di mana?"
"Ibu kamu udah tidur"
Terdengar oleh Dinda bahwa Alex menghela nafasnya dengan kasar dari seberang sana
"Ada apa den?"
"Aku sebenarnya kangen sama kamu, aku berharap kamu yang ada di sini buat rawat aku"
__ADS_1
Dinda pun hanya bisa tersenyum tipis mendengar curahan hati Alex